
Malam yang ditunggu pun akhirnya tiba, Rey dan Ezha sudah bersiap dengan rencana yang matang ditangan mereka.
Mereka juga sangat yakin dengan apa yang mereka lakukan akan sukses dan sempurna.
Malam itu Rey meminta Wina untuk datang terlebih dahulu, Rey juga membimbingnya untuk masuk kedalam satu ruangan.
Disana sangat gelap cahaya yang menerangi Wina hanya dari layar ponselnya saja, Wina terus memanggil-manggil nama Rey, karena saat ditelphone Rey berbicara seolah ia sedang dalam bahaya, jadi saat masuk ruangan itu pun Wina jadi sedikit waspada.
"Rey !
lo dimana Rey !" teriaknya masih terus meraba-raba untuk melangkahkan kakinya.
"Wina gua disini Win, tolongin gua Win !" jawab Rey berteriak memberitahukan bahwa ia juga ada didalam ruangan itu.
"Rey posisi lo disebelah mana Rey !"
"Gua gak tau Win, disini gelap gua gak bisa melihat apa-pun gua takut Wina tolong !" teriak Rey lagi.
"Lo tenang Rey, gua akan cari bantuan, gua telphone Kimi sama Ezha sebentar," ucapnya seraya mengutak-atik ponselnya.
"Tidak perlu menghubungi mereka Win, terlalu lama, cepat temukan gua, gua takut Wina ! gua gak bisa bergerak, tubuh gua diikat !" ucap Rey kembali berteriak.
"Ok, Ok, lo tenang dulu, gua akan berusaha mencari dan menolong lo sendiri," jawab Wina menghentikan niatnya. Kemudian ia melanjutkan pencariannya, matanya menyusuri setiap jengkal ruangan gelap itu, sampai akhirnya matanya menemukan sosok Rey yang tengah terikat dikursi, Wina mencoba berlari menghampiri Rey namun langkahnya terhenti ketika ada seseorang dari arah belakangnya yang tanpa aba-aba langsung menangkap tubuhnya dan menutupi matanya dengan kain hitam.
"Siapa lo ?
lepasin gua dan Rey !" teriak Wina, namun orang yang membekapnya itu tidak menjawab apa-pun.
Rey membuka sendiri tali yang hanya sekedar dililitkan saja ditubuhnya, lalu melangkah tanpa menimbulkan suara sedikitpun ia mendekati Wina dan mereka memasukannya kedalam gudang lalu menguncinya, didalam gudang itu tidak terlalu gelap karena lampunya menyala walaupun sedikit redup.
"Woi, siapa-pun lo, gua mohon tolong lepasin gua dan teman gua !" teriak Wina dari dalam gudang seraya memukul-mukul daun pintu dengan kuat, tapi tetap tidak ada jawaban apa-pun.
Sementara itu dari luar gudang Rey dan Ezha terkekeh sangat pelan.
"Rencana pertama kita berhasil Zha," ucapnya penuh semangat.
"Iya sayang, oh ia tapi apa kamu tidak berfikir bahwa Wina bisa saja menghubungi teman-temannya untuk meminta bantuan ?" tanya Ezha. Rey tertawa kecil mendengar pertanyaan dari kekasihnya itu.
"Rey, kenapa kamu tertawa ?
__ADS_1
ini bukan waktunya bercanda Rey, karena ini masalah besar !" seru Ezha panik.
Ditengah kepanikan Ezha, Rey mengeluarkan dua ponsel dari dalam sakunya.
"Jangan bilang yang satu itu adalah ponsel Wina ?" tanya Ezha.
"Haha, ia kamu benar Zha, ini ponsel Wina," jawabnya dengan senyum puas.
"Kapan kamu mengambil itu ?"
"Saat Wina berontak dan menjatuhkan ponselnya, bagaimana aku pintar, kan ?" tanya Rey, merasa bangga dengan dirinya sendiri.
"Iya kamu memang pintar dalam hal mengerjai orang," jawab Ezha yang ikut tersenyum dan mengusap rambut Rey.
"Oh ia Rey, sebaiknya kamu cepat hubungi Fandy, minta dia untuk segera datang dan berpura-pura menolong Wina, kasihan dia kalau terlalu lama sendirian didalam," ucap Ezha mengingatkan.
"Ok," jawab Rey singkat.
Rey pun menghubungi Fandy, tidak terlalu lama kemudian Fandy akhirnya datang menghampiri mereka.
"Rey dimana Wina ?" tanya Fandy panik.
"Tenang Fan, dia ada didalam, cepat masuk dan berpura-pura seolah lo tidak tau apa-apa tentang masalah ini, jangan sampai membuat dia curiga," jawab Rey.
"Gak ada yang akan tau Fan, kalau lo gak masuk dan mencobanya sendiri.
Gua melakukan ini untuk Wina Fan, gua mau dia berubah, kalau pakai cara normal gua yakin dia gak akan pernah mau bicara sama lo, kan ?" tanya Rey.
"Hm, lo benar Rey, dia memang tidak pernah mau berbicara sama gua kalau untuk membahas tentang dirinya.
Ok, kalau begitu gua akan mencoba masuk Rey," jawabnya seraya melangkahkan kakinya mendekati pintu gudang.
"Tunggu !
sebelum kamu masuk sebaiknya tinggalkan saja ponsel kamu, karena saya yakin Wina pasti akan meminjam ponsel kamu untuk meminta bantuan, kalau itu sampai terjadi rencana yang sudah kami susun akan gagal begitu saja !" seru Ezha.
Tanpa banyak tanya dan basa-basi lagi Fandy memberikan ponselnya pada Ezha dan kemudian masuk lalu berpura-pura seolah ia datang untuk menjadi pahlawan bagi Wina.
Tidak tanggung-tanggung Fandy masuk seolah ia dilemparkan oleh seseorang sampai ia tersungkur tepat dihadapan Wina yang tengah duduk disamping pintu.
__ADS_1
"Fandy !" teriak Wina yang terkejut dengan caranya datang.
"Win, lo gak apa-apa ?" tanya Fandy yang berusaha bangkit dan duduk dihadapan Wina.
"Gua gak apa-apa Fan, kenapa lo bisa ada disini ?
dan dimana Rey ?" tanya Wina yang mulai merasa aneh dengan apa yang tengah terjadi.
"Ha ?
Rey, hm, gu-gua, gua gak melihat ada Rey Win, memang sebelumnya ada Rey disini ?" tanya Fandy terbata-bata.
Wina tidak menjawab pertanyaan Fandy, ia hanya menatap Fandy seolah tengah menyelidiki gerak-gerik Fandy yang terus menghindari kontak mata dengannya.
"Ok, lalu kenapa lo bisa ada disini ?
jangan bilang kalau ada orang yang tiba-tiba saja menghubungi lo dan memberitahukan bahwa gua sedang disekap disini, tolong cari alasan lain yang bisa masuk kelogika gua saat ini Fan !" ucap Wina yang benar-benar sudah curiga.
"Hm, gu-gua mengikuti lo dari rumah lo Win, hm, sebenarnya awalnya gua memang mau kerumah lo, tapi gua melihat lo mau pergi. Jadi gua putuskan untuk mengikuti kemana lo pergi," jawabnya masih gugup.
"Oh, apa lo yakin ini semua bukan rencana lo dan Rey ?
jujur saja Fan, kalau lo jujur gua mungkin akan memaafkan lo ?" tanya Wina yang masih berusaha mengorek kebenaran dari Fandy.
"Rencana ?
rencana apa maksud lo ?
gua saja gak melihat ada Rey disekitar sini, sekarang lo malah bahas soal ini semua sudah direncanakan.
Lo selalu berfikiran buruk tentang gua !
yang jelas gua kesini itu berniat untuk menolong lo, kenapa si lo gak bisa bicara baik-baik sama gua !" ucap Fandy mulai kesal dan berdiri dari duduknya.
"Kenapa lo marah-marah Fan !
gua hanya bertanya sama lo, kalau memang ini gak ada hubungannya sama lo harusnya lo bersikap biasa saja, tidak usah panik dan gugup saat gua bertanya seperti itu !" teriak Wina seraya berdiri dan menunjuk kearah wajah Fandy.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Wina, Fandy tidak tinggal diam, ia meraih tangan Wina, yang Wina pakai untuk menunjuk wajah Fandy tadi, ia menggenggamnya dengan sangat kuat seolah ia sudah siap untuk mematahkan jari-jari kecil Wina.
__ADS_1
Wina berdesis menahan rasa sakit pada tangannya yang ditimbulkan oleh Fandy.
Fandy tidak berkedip sedikitpun saat menatap mata Wina, mulutnya juga mengatup sangat rapat, kali ini kekesalan Fandy sudah sampai ubun-ubun.