First Love BadgirL

First Love BadgirL
Episode 66


__ADS_3

"Jangan harap gua akan memohon untuk lo melepaskan genggaman tangan lo !


dan gua rasa lo juga tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan apa-pun lagi, karena dengan sikap lo yang seperti ini sudah menjawab semua pertanyaan gua tadi !" seru Wina membalas tatapan tajam mata Fandy.


"Gua gak nyangka ternyata lo itu keras kepala !" gumam Fandy membuka sedikit mulutnya.


"Gua gak butuh penilaian dari lo !


sekarang beritahu gua apa mau lo sebenarnya !" Wina kembali bergumam dengan menekankan nada kesal disetiap kata yang ia ucapkan.


"Dasar batu.


Lo benar-benar ingin tau apa yang gua inginkan ?" tanya Fandy.


"Gak usah basa-basi langsung katakan saja !" seru Wina.


"Gua mau lo bicara dengan lembut sama gua, tatap mata gua saat kita sedang bicara, dan satu lagi gua ingin lo membuka hati lo sedikit saja untuk gua, biarkan gua masuk, dan gua akan membantu lo belajar untuk melupakan cinta lo yang mustahil itu !


karena sampai kapan-pun orang yang lo cintai gak akan pernah bisa lo dapatkan bahkan walaupun lo berlutut dan memohon sampai mati !" ucapnya sedikit kasar, hingga membuat Wina tersinggung dengan kata-katanya.


"Maksud lo apa bicara seperti itu !" gumam Wina dengan suara lirih, ia merasa tersakiti dengan kata-kata Fandy sampai tidak bisa ia tahan lagi air matanya mengalir.


"Win, Win jangan menangis Win, maaf kalau kata-kata gua sudah menyinggung perasaan lo," ucap Fandy merasa bersalah seraya melepaskan genggamannya pada tangan Wina dan berpindah ke wajahnya untuk menghapus air mata Wina.


Namun bukan Wina namanya kalau bisa segampang itu luluh hanya dengan ucapan maaf dari Fandy.


"Gak usah sok baik dan sok perduli, gua tau lo itu laki-laki pemain, laki-laki dengan fikiran busuk yang akan menghalalkan segala cara untuk bisa memiliki mangsa lo !


jauhkan tangan lo dari gua !


dan jangan pernah bermimpi, karena sampai kapan-pun gua gak akan pernah masuk kedalam perangkap lo !" seru Wina menepis tangan Fandy.

__ADS_1


"Lo mau nya apa si Win !


gua sudah berusaha baik sama lo, tapi lo terus bersikap dingin dan selalu menghina gua !


memangnya kalau pemain seperti gua gak bisa berubah ?


gua bisa Win, kalau gua memang berniat untuk berubah !


begitu juga dengan lo, gua yakin lo juga bisa menjadi Wina yang dulu, sebelum lo punya perasaan lebih pada sahabat lo sendiri !


lo gak usah bertanya apa maksud omongan gua, karena gua yakin dengan sangat jelas lo pasti faham dengan maksud dari kata-kata gua !" ucap Fandy kembali kesal.


"Oh, jadi maksud lo cinta mustahil itu karena lo sebenarnya sudah tau tentang siapa diri gua sebenarnya, dan tentang gua yang mencintai sahabat gua sendiri ?


lalu kalau lo sudah tau kenapa lo masih tetap berusaha untuk mendekati gua, dan menjebak gua sampai melakukan cara gila seperti sekarang ini ?" tanya Wina.


"Iya gua sudah tau semuanya.


Satu-satunya alasan gua tetap menggoda lo adalah karena gua serius ingin dekat sama lo, dan asal lo tau ini semua bukan rencana gua, tapi semuanya diatur oleh Rey dan Ezha.


"Lo gak akan pernah bisa membantu gua, itu akan sia-sia saja, hanya akan membuang-buang waktu percuma, karena gua sudah pernah berusaha dulu, saat Rey mengutarakan perasaannya tentang Ezha, dan lo tau apa hasilnya ?


gua gagal bangkit dari perasaan gua sendiri Fan, dan itu membuat gua membenci diri gua sendiri !" ucap Wina dengan pandangan kosong.


"Win, ayo coba sekali lagi, gua yakin lo bisa !" ucap Fandy memegang kedua bahu Wina.


"Kenapa lo sangat yakin bisa membantu gua Fan ?


apa lo juga yakin gak ada maksud lain ?" tanya Wina yang saat ini mulai luluh dan berani menatap mata Fandy dengan tatapan sendu.


"Win dengar, lo gak usah berfikir tentang kedekatan yang berlebihan dengan gua, karena gua juga sudah tidak lagi ingin memaksakan kehendak gua sama lo, karena gua tau resikonya akan membuat lo semakin membenci gua.

__ADS_1


Yang jelas saat ini gua hanya ingin dekat dan menjadi teman lo, gua ingin lo nyaman berteman sama gua sampai lo bisa cerita apa-pun itu sama gua Win," ucap Fandy, Wina menghambur kepelukan Fandy sesaat setelah Fandy selesai dengan kata-katanya.


Fandy mematung menerima rangkulan hangat dari wanita yang ia sayangi itu.


"Terimakasih Fan," ucap Wina saat dalam pelukan Fandy.


"Iya Win sama-sama," jawab Fandy.


"Hm, maaf Fan gua hanya terbawa suasana, gua gak nyangka lo bisa mengeluarkan kata-kata yang membuat gua tersentuh," ucap Wina diselingi dengan senyuman saat ia melepaskan pelukannya.


"Gak apa-apa Win, gua senang akhirnya gua berhasil membuat lo tersenyum seperti sekarang ini didepan gua," jawab Fandy lekat menatap Wina yang terlihat salah tingkah dan terus menghindari tatapan Fandy.


"Apaan si Fan, jurus rayuan lo itu gak akan mempan buat gua, faham !" ucap Wina menegaskan.


"Gua lagi gak merayu lo Win, gua bicara sesuai apa yang ada dalam fikiran gua saat melihat lo tersenyum, kalau seandainya gua bisa menghentikan waktu, gua akan menghentikannya saat lo tersenyum, sehingga gua bisa lebih lama memandangi maha karya tuhan yang ada dihadapan gua saat ini," jelas Fandy lagi yang semakin membuat Wina bingung bagaimana harus bersikap didepan Fandy yang terus mengeluarkan kata-kata manis yang selama ini belum pernah ia dengar dari siapa-pun seumur hidupnya.


"Hm, cukup Fan, lama-lama gua bisa diabetes dengar kata-kata manis lo terus," Wina menjawab seraya memalingkah wajahnya yang tengah tersenyum.


"Kenapa harus tersenyum menghadap kearah lain ?


bukannya lo tau gua suka melihat lo kalau sedang tersenyum ?" tanya Fandy sedikit kecewa.


"Ih cukup Fandy, mendingan sekarang lo minta Rey sama Ezha untuk membuka pintunya, gua sudah tidak tahan berada disini, banyak suara tikus, dan kecoa dari tadi mondar mandir disekitar kaki gua," jawab Wina mengalihkan pembicaraan.


"Lo takut ?" tanya Fandy kembali menggoda Wina.


"Gua gak takut, cuma sedikit malu kalau sampai bertemu dengan tikus atau kecoa, hehe" jawab Wina cengengesan.


"Haha, gua gak nyangka ternyata lo juga bisa bercanda seperti ini.


Yasudah ayo kita minta mereka untuk membukakan pintunya," ajak Fandy.

__ADS_1


"Hm," jawab Wina seraya mengangguk.


Mereka pun mendekati daun pintu dan mengetuknya dari dalam, Fandy berusaha memanggil Ezha dan Rey untuk membuka pintunya namun cukup lama tidak ada jawaban apa-pun dari luar, yang membuat Wina dan Fandy semakin panik, tapi mereka tidak menyerah dan tetap berusaha mengetuk kembali pintu itu dengan harapan Rey dan Ezha akan segera membukakannya.


__ADS_2