
"Fan, lo yakin mereka masih menunggu diluar ?" tanya Wina.
"Iya gua yakin Win, tadi gua bertemu sama mereka didepan pintu, gua fikir mereka akan menunggu.
Maaf Win gua gak tau kalau ternyata mereka pergi," jawab Fandy merasa bersalah.
"Hm, yasudah kalau begitu ponsel lo mana ?
lo tinggal hubungi saja mereka," ucap Wina memberikan saran.
"Nah, itu dia masalahnya Win, mereka meminta gua untuk meninggalkan ponsel sebelum gua masuk kesini.
Gua gak berfikir akan begini jadinya, jadi gua setuju saja memberikan ponsel itu pada mereka, maafkan gua Win," jawab Fandy dengan wajah yang tampak sangat menyesal.
"Yah, mau bagaimana lagi, mau gak mau kita hanya bisa menunggu, tapi pertanyaannya mau sampai kapan jadinya kita berada disini ? ini sudah semakin malam Fan, ibu gua pasti khawatir sama gua, dia pasti mencari gua, Rey kadang bercandanya keterlaluan juga !" gerutu Wina.
"Lo sabar dulu ya Win, gua janji akan cari cara agar kita bisa secepatnya keluar dari tempat ini, lo jangan takut ya," ucap Fandy mencoba memberikan harapan pada Wina.
"Hm," jawab Wina singkat.
Fandy menelusuri setiap jengkal gudang itu, sampai akhirnya ia menemukan jendela atau fentilasi yang cukup tinggi sampai ia harus menggunakan kursi untuk mencapainya.
"Fan, lo yakin ?
itu terlalu tinggi," kata Wina yang tidak yakin Fandy bisa menggapainya.
"Lo tenang saja Win, gua akan menggunakan kursi ini, dan lo tolong pegang gua," jawab Fandy.
"Pegang lo ?" tanya Wina yang merasa bingung dengan kata-kata Fandy yang terdengar aneh ditelinganya.
"Apa yang lo fikirkan Wina ?
maksud gua itu lo pegang kursinya biar gua gak jatuh saat naik," ucap Fandy yang mengerti dengan arah fikiran Wina.
"Oh," jawab Wina seraya menggaruk pelan bagian lehernya, karena saat itu Wina terlihat malu dengan fikirannya sendiri.
Fandy hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Wina yang menurutnya lucu.
Kemudian ia mulai naik keatas kursi yang dipegangi oleh Wina, Fandy berusaha dengan sekuat tenaga mendobrak jendela itu, namun sia-sia saja karena pertahanan jendela itu lebih kuat dari tenaganya.
__ADS_1
Wina yang melihat Fandy memukul-mukul jendela itu dengan tangan kosongpun mulai merasa iba, dan memintanya untuk berhenti.
"Fandy, sudah cukup jangan dipaksakan lagi, gua takut tangan lo akan terluka !" seru Wina.
Fandy tersenyum dan menatap Wina dari atas kursinya, kemudian ia jongkok diatas kursi sehingga sejajar dengan tingginya Wina.
"Kenapa lo senyum-senyum ?" tanya Wina.
"Gua senyum karena merasa tersanjung," jawab Fandy.
"Tersanjung ?
maksudnya ?"
"Gua tersanjung karena akhirnya gua bisa membuat seorang Wina yang awalnya tidak perduli dan bahkan menganggap gua gak ada, menjadi seseorang yang saat ini tengah mengkhawatirkan gua," jawab Fandy menjelaskan alasannya tersenyum.
"Apaan si lo, cepat turun tangan gua sakit pegang kursi terus," gumam Wina seraya menjauh dari Fandy dan berjalan menuju arah pintu, yang kemudian diikuti lagi oleh Fandy.
"Kenapa ?
lo malu ya ?" tanya Fandy kembali menggodanya.
untuk apa gua malu,"
"Itu buktinya muka lo merah, dan lo juga gak mau melihat kearah gua, itu artinya saat ini lo sedang malu atau salah tingkah, ia kan ? haha, atau bahkan jangan-jangan lo sudah mulai jatuh cinta lagi sama gua," ucap Fandy diselingi tawanya.
"Apaan si lo, mikirnya berlebihan banget, dengar ya baik-baik gua itu cuma gak mau jadi yang disalahkan kalau-kalau ada apa-apa sama lo, karena disini cuma ada lo sama gua,"
"Oh gitu," jawab Fandy yang kecewa dengan jawaban Wina.
"Kenapa lo jadi murung begitu ?
kata-kata gua menyinggung lo, ya ?" tanya Wina merasa bersalah.
"Nggak apa-apa Win, gua cuma harusnya sadar kalau kita itu baru beberapa jam yang lalu dekat, tapi gua sudah berharap hal yang berlebihan," jawab Fandy.
Wina terdiam saat ia mendengar jawaban dari Fandy dan ternyata benar ia sudah membuatnya kecewa.
Karena ia tidak mendapat jawaban apa-pun dari Wina, Fandy menghela nafas panjang dan kembali berniat untuk mendobrak lagi jendela yang ia temukan tadi.
__ADS_1
Namun saat Fandy berbalik dan akan melangkahkan kakinya, Wina memegang lengannya.
"Mau kemana ?" tanya Wina.
"Ha ?
hm gua mau mencoba mendobrak lagi jendelanya, gua rasa lo sudah mulai tidak nyaman terkunci berdua sama gua disini," jawab Fandy tanpa berbalik.
"Maafin gua ya Fan, gua sudah membuat suasana jadi gak enak,"
"Nggak apa-apa Win, gua sangat faham sama maksud lo, yasudah gua mau mencoba membuka lagi jendelanya, gua gak mau membuat ibu lo lebih khawatir lagi karena menunggu lo yang sudah semalam ini belum juga pulang," ucap Fandy seraya mencoba melepaskan genggaman tangan Wina.
Namun belum berhasil ia melepaskan tangan Wina yang menggenggamnya, Wina sudah menghambur memeluk Fandy dari belakang.
"Win ada apa ?
apa lo merasa takut ?" tanya Fandy.
"Hm," jawab Wina mengangguk dipunggung Fandy.
"Jangan takut Win, kita disini berdua," ucap Fandy berusaha menenangkan Wina, dan perlahan mencoba melepaskan rangkulan Wina.
"Jangan dilepas, biarkan gua seperti ini sebentar lagi !" pinta Wina yang semakin mempererat rangkulan tangannya.
"Gua bukan ingin melepaskan pelukan lo Win, tapi gua hanya ingin mengubah posisinya," ucap Fandy berbalik kearah Wina.
"Maksud lo ?" tanya Wina penasaran.
"Boleh gua peluk lo dari depan ?" tanya Fandy sangat lembut sampai membuat Wina tidak bisa berkata-kata, sebaliknya ia hanya bisa mengangguk pelan dengan senyum yang mengembang dikedua ujung bibirnya.
Karena mendapat izin dari Wina untuk memeluknya, Fandy tidak lagi membuang waktunya, ia langsung memeluk erat tubuh Wina saat itu juga.
"Fan, jangan terlalu erat gua gak bisa nafas," protes Wina saat Fandy semakin mempererat pelukannya.
"Maaf Win gua terlalu senang sampai lupa diri," jawab Fandy seraya melepaskan pelukannya.
"Nggak apa-apa Fan, aku senang melihat kamu tidak murung lagi," ucap Wina yang tiba-tiba merubah gaya bicaranya.
"Sepertinya kamu lebih cocok dengan gaya bahasa seperti ini Win, ini membuat kamu semakin terlihat cantik dan tampak lebih lembut," ucap Fandy seraya merapihkan rambut Wina yang menghalangi wajahnya, entah terhipnotis oleh kata-kata manis Fandy atau apa, tapi Wina saat itu hanya bisa diam dan mengikuti alur yang tengah dimainkan oleh Fandy.
__ADS_1
Fandy dan Wina hanyut dalam keheningan malam itu, Fandy berusaha mencium Wina dengan memiringkan sedikit wajahnya dan berusaha mendekat kewajah Wina yang sudah menutup matanya, seakan Wina sudah siap menyambut Fandy untuk menciumnya, namun belum sempat itu semua terjadi mereka dikejutkan dengan pintu yang tiba-tiba saja terbuka, dan membuat mereka secara bersamaan membelalakan matanya melihat kearah pintu dengan posisi tangan Fandy masih berada disekitar wajah dan leher Wina.