
"Terimakasih Zha, terimakasih," ucapnya dengan isak tangis.
"Terimakasih untuk apa sayang ?" tanya Ezha.
"Terimakasih karena sudah kembali, terimakasih karena sudah mau mengerti dengan apa yang aku rasakan selama ini.
Aku minta maaf karena sudah tidak mempercayai kamu Zha, aku terlalu berfikiran sempit, dan akhirnya membuat hubungan kita hancur, tapi itu semua aku lakukan karena aku merasa cemburu Zha, saat kamu lebih memilih datang ke ulang tahunnya dibandingkan makan malam dengan keluargaku, maafkan aku Zha, sekarang aku menyadari kalau aku sudah bersikap egois selama ini," ucap Rey masih tetap memeluk erat tubuh Ezha.
Ezha melepaskan perlahan rangkulan tangan Rey pada tubuhnya dan mereka kembali saling menatap.
"Hei, kamu tidak salah, karena semua masalah kita itu berawal dari sikap ku yang tidak tegas, berhenti membahas masalah ini, dan berhenti juga menyalahkan dirimu sendiri," jawab Ezha.
"Hm," dengan senyum dan air mata Rey mengangguk menyetujui permintaan Ezha untuk tidak lagi membahas masalah yang sudah berlalu.
"Rey, ingat kata-kataku saat kamu cemberut ?" tanya Ezha.
"Ingat, lalu apa maksud kata-kata kamu itu ? tidak mampu menahan untuk apa maksudmu ?" tanya Rey.
"Tidak mampu menahan untuk ini--" ucap Ezha yang terhenti saat ia mulai mengecup bibir tipis Rey, Rey yang tanpa persiapan itu pun tidak mampu menolak apa yang Ezha lakukan, sebaliknya ia hanya bisa membelalakan matanya dan mengikuti arah permainan Ezha.
"Aw," teriakan kecil Ezha membuat Rey terkejut.
"Kamu gak apa-apa ?" tanya Rey bingung.
"Kenapa kamu menggigit bibirku Rey, ini sakit," ucapnya menjelaskan alasannya menghentikan permainannya.
"Maaf, aku hanya--" belum selesai Rey dengan kata-katanya Ezha sudah kembali menciumnya dengan lembut, sangat lembut, sampai membuat keduanya hanyut dalam kemesraan malam itu, namun ketika suasana mulai memanas mereka dikejutkan oleh ponsel Ezha yang tiba-tiba berdering.
Ezha kembali menghentikan cumbuannya pada Rey, lalu meraih ponsel disaku celananya, ketika ia mengetahui siapa yang menghubunginya, wajah Ezha berubah jadi kesal.
"Siapa yang menelphone Zha ?" tanya Rey seraya merapihkan rambutnya yang sangat berantakan.
"Intan," jawab Ezha tanpa Ekspresi, mendengar Ezha menyebutkan nama Intan membuat Rey lemas, rasa kesal juga mulai menghantui fikirannya.
"Angkat saja Zha," ucapnya.
"Biarkan saja Rey, kalau dia datang untuk berteman, aku masih bisa menerimanya dengan senang hati, tapi kalau dia datang hanya untuk memisahkan aku dan kamu, aku gak akan segan-segan melukainya walaupun dia itu seorang perempuan, aku tidak perduli !" jawab Ezha menegaskan.
Jawaban Ezha itu membuat rasa kesal dan amarah Rey seketika menghilang, dan berganti dengan senyuman yang sangat manis, Rey mendekati Ezha dan mencium pipinya dengan tulus.
"Zha, aku mengerti kamu berusaha menjaga hati aku, tapi aku gak apa-apa kalau memang kamu mau menerima telphone dari dia, aku juga mau tau apa sebenarnya yang akan dia katakan, dan apa yang dia mau," ucapnya.
"Kamu yakin sayang ini akan baik-baik saja untuk kita ?" tanya Ezha ragu.
"Hm," jawab Rey mengangguk dengan sangat cepat.
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan dari Rey, akhirnya Ezha menerima telphone dari mantan pacarnya didepan pacarnya.
Call :
Ezha : Ada apa lagi Tan ?
Intan : Bee, tolong aku.
Ezha : Tolong apa maksud kamu Tan ?
Intan : Tolong ! (suara lemas)
Ezha : Tan, Intan, hallo Intan !
apa yang terjadi ?
Hallo ?
Sambungan telphone itu pun terputus, diiringi dengan wajah Ezha yang mulai terlihat gelisah.
"Apa yang terjadi dengan dia Zha ?" tanya Rey.
"Aku gak tau Rey, yang jelas tadi kamu dengar sendiri suaranya sangat lemas, aku takut dia berbuat hal yang tidak-tidak Rey," jawab Ezha tanpa berani mengambil keputusan untuk Intan.
Aku yakin hati kecil kamu pasti ingin kesana dan melihat langsung apa yang terjadi dengan dia, kan ?" tanya Rey.
"Rey,"
"Aku gak apa-apa, aku senang pacarku sangat baik hatinya, pergi sana aku mengizinkan kamu untuk membantu dia, tapi ingat selalu beri aku kabar," ucap Rey dengan sangat lembut.
Ezha tersenyum dan kembali mengecup kening Rey.
"Terimakasih sayang, aku juga beruntung punya pacar yang sangat baik seperti kamu," ucap Ezha.
"Yasudah kamu cepat temui Intan.
Kalau begitu aku turun ya, kamu hati-hati jangan terlalu cepat bawa mobilnya," ucap Rey memberi nasehat.
"Siap pacarku sayang," jawab Ezha seraya memberi hormat pada Rey yang tengah tersenyum.
Setelah Rey keluar dari dalam mobil, Ezha segera melajukan mobilnya pergi dari depan rumah Rey.
"Aku gak bisa menghentikan kamu untuk tidak berbuat baik padanya Zha, tapi entah kenapa aku sangat yakin kalau kamu tidak akan lagi bermain dibelakangku," gumam Rey masih menatap laju mobil Ezha sampai tidak lagi terlihat olehnya.
Setelah cukup lama diperjalanan akhirnya Ezha sampai didepan rumah Intan, namun sebelum ia masuk kedalam rumahnya, Ezha mengeluarkan ponselnya dan menelphone Rey.
__ADS_1
Call :
Ezha : Hallo sayang.
Rey : Kenapa kamu menelphone aku ? memangnya kamu sudah selesai dengan Intan ?
lalu apa yang terjadi dengan dia ?
Ezha : Belum, aku bahkan belum memulainya sama sekali.
Aku baru saja sampai didepan rumahnya, aku berfikir untuk terus tersambung dengan kamu melalui telphone agar kamu tau apa saja yang terjadi, jadi tidak akan ada lagi kesalah fahaman antara kita berdua dimasa depan.
Rey : Hm, kamu ternyata benar-benar takut kehilangan aku, ya ? haha.
Ezha : Jangan tertawa Rey, karena apa yang kamu katakan itu benar adanya, aku memang sangat takut kehilangan kepercayaan dari kamu, dan juga aku takut kehilangan kamu sebagai orang yang mencintaiku.
Rey : Iya maaf sayang aku tidak tertawa untuk menyindirmu, aku tertawa karena aku senang dengan inisiatif kamu untuk terus tersambung melalui telphone denganku.
Yasudah sana cepat masuk dan lihat apa yang terjadi padanya.
Ezha : Baiklah sayang, jangan matikan ponselnya.
Rey : Iya.
Ezha memasang earphone disalah satu telinganya, dan mulai masuk kedalam rumah Intan, ia mengetuk pintu beberapa kali dan terus memanggil nama Intan, namun tetap tidak ada jawaban apa-pun dari dalam.
Rey meminta Ezha untuk mengitari rumah Intan mencari barangkali saja ada jendela atau pintu lain yang tidak dikunci dan Ezha bisa masuk lewat sana.
Rey : Hati-hati sayang.
Ezha : Tenang saja, tidak akan ada yang terjadi selama kamu masih tersambung denganku sayang.
Rey : Hm, serius ! jangn buat aku kesal !
Ezha : Iya maaf sayang.
Oh ia aku sudah menemukan jendela yang tidak dikunci, aku akan masuk sekarang.
Rey : Hati-hati !
Dengan perasaan tidak menentu Ezha pun masuk kedalam rumah Intan melalu jendela, rumah itu sangat gelap, Intan tidak menghidupkan lampu rumahnya, ia mencari dimana keberadaan Intan, semua kamar ia coba buka tapi tidak juga ia bisa menemukan Intan.
Sampai akhirnya ia menemukan Intan dikamar lantai dua rumahnya.
"INTAN !!!"
__ADS_1