Flip-flops System

Flip-flops System
13. Bertemu The Frogs


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Tak terasa sudah sekitar 1 bulan Albert dan ketiga temannya tinggal dirumah Via. Sudah 1 bulan pula Albert memadu kasih bersama Via. Perbedaan usia sepertinya bukanlah suatu penghalang bagi hubungan mereka.


Geng Gold Wings sudah terorganisir dengan baik. Bahkan pertumbuhan geng begitu cepat. Dalam 1 bulan anggota meningkat menjadi 3 kali lipat dari sebelumnya. Pesatnya pertumbuhan Gold Wings meski masih dibawah The Frogs, namun sudah mampu mengungguli geng kampus lainnya, yakni King Cobra.


Melihat gejolak dan perubahan yang signifikan pada tubuh geng The Black Tiger versi baru alias Gold Wings, Yoga sebagai ketua geng terbesar di kampus orange, The Frogs, berusaha melakukan pendekatan persuasif.


"Kita bernaung pada Universitas yang sama, ditubuh kita menempel almamater yang sama. Ada baiknya kita saling memberi dukungan dan menutup semua celah perselisihan antar geng internal kampus, Sob." Yoga mengutarakan apa yang sebelumnya mengganjal dalam pikirannya pada Albert yang kini merupakan ketua geng Gold Wings.


Sejak The Frogs berdiri, mereka memang geng yang exclusive. Geng digunakan sepenuhnya sebagai wadah berkumpulnya mahasiswa yang memiliki energi berlebih. Tak pernah sekalipun terlihat aksi arogan anggota geng The Frogs yang menganiaya teman satu kampus. Geng mereka lebih bisa disebut sebagai sisi penyeimbang dari Badan Resmi Mahasiswa.


"Gue pribadi tak terlalu tertarik dengan aktivitas mahasiswa diluar perkuliahan. Namun kondisi berbeda saat kami di usik. Yah, akhirnya terbentuklah geng tak sengaja, Gold Wings. Jadi keinginan Abang untuk kita tetap akur, itu sangat tidak masalah. Kami hanya ingin hidup rukun berdampingan dalam lingkup kampus ini tanpa perseteruan," tanggapan Albert cukup diplomatis, mengingat akan adanya kemungkinan jika ternyata Yoga memanfaatkan kemampuan beladiri Albert sebagai tameng.


"Yang dikhawatirkan dan akan menjadi musuh bersama adalah sepak terjang geng Maniac dari Kampus Biru. Mereka sangat mendominasi lingkungan luar kampus dan tak segan berlaku keji pada kampus lain. Begitu banyaknya anggota, ditunjang kemampuan beladiri para pentolannya yang sangat tangguh membuat mereka disegani semua kalangan geng mahasiswa dari kampus manapun dari kota ini. Dan desas-desus yang beredar mengatakan bahwa mereka memiliki dekengan atau back up dari gangster Hellfire, salah satu dari 3 gangster yang menguasai kota ini," Yoga menampakkan rona khawatir.

__ADS_1


Didunia bawah tanah kota Jackcity memang dikuasai 3 kekuatan besar yakni Hellfire dibawah kepemimpinan Flad, Global Club milik Bos Neo, dan Dark Finger milik John Frans. Namun belakangan ini terdengar kabar bahwa John Frans sedang menghadapi masalah dan sekarang mendekam di dalam penjara. Terdengar desas-desus pula bahwa Dark Finger akan melebur bersama Hellfire pasca ditangkapnya pemimpin mereka. Bukan suatu yang mustahil bagi Dark Finger untuk melebur bersama Hellfire karena kedua pemimpin mereka masih memiliki hubungan kerabat.


"Apakah Maniac akan menjadi musuh gue karena gue telah menyakiti adiknya?" Albert memicingkan mata.


"Sangat besar kemungkinan tersebut, dan seluruh Kampus Orange pada umumnya juga akan menerima tindak permusuhan dari mereka mengingat lu adalah mahasiswa kampus ini," Yoga menghela napas kasar.


"Tapi kenapa sampai sebulan ini tidak ada tindakan dari mereka jika memang geng Maniac menargetkan gue?" Albert mencoba berpikir mencari alasan kenapa Maniac tidak menyerangnya.


"Itulah salah satu kelebihan mereka. Geng Maniac tidak terbiasa melakukan sesuatu dengan gegabah. Seberapapun besar dendam mereka, lebih cenderung mereka akan mempelajari dulu peta kekuatan lawan sebelum melancarkan serangan," Yoga memberikan keterangan.


--


Sore hari setelah bertemu dengan Yoga, Via mengajak Albert ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan kamar Huri, Vano, dan Sabir yang belum lengkap.

__ADS_1


Kebaikan hati ditunjang keuangan yang mumpuni membuat Via cukup royal dalam membantu orang lain. Sangat jarang ditemui pada jaman sekarang ini dimana seseorang dengan rela meminjamkan kamar-kamarnya untuk orang yang baru dikenal, terlebih memenuhi fasilitas kamar demi kenyamanan pemakai kamar.


Via memesan lemari untuk kamar Sabir, meja nakas untuk kamar Vano, dan set peralatan kamar mandi untuk Huri. Pernik kecil lainnya juga tak luput dari pengamatan Via. Bahkan selimut tebal juga ia beli untuk memberi kenyamanan pada ketiga kawan kekasihnya.


"Tak perlu terlalu komplit. Jangan memanjakan mereka berlebihan!" Albert berusaha mengarahkan Via agar tidak terlalu boros dalam membelanjakan uang.


"Bayangkan jika kamu pada posisi mereka. Apa kamu akan tetap nyaman tidur di kamar yang ala kadarnya?, sedangkan keuangan mereka masih dalam kondisi terbatas." Tampik Via tak setuju dengan saran Albert.


"Ya terserah. Rumahmu sendiri, jadi kau bebas ingin mendekorasi sebagus apapun. Aku kan cuma numpang disitu," sinis Albert kambuh lagi jiwa dinginnya.


"Jangan bilang seperti itu. Kamu itu pacarku. Jadi sudah selayaknya aku memberikan pelayanan untukmu!" Via berubah masam.


Albert hanya diam tak membalas. Tanpa mereka sadari, disebuah sudut supermarket ada sepasang mata yang memperhatikan tingkah laku mereka dengan seksama.

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2