
Sahabat,
Mohon maaf beberapa hari kemarin tidak bisa update episode karena ada kesibukan kerja real yang mendesak, harap dimaklumi.
Semoga sahabat pembaca masih tetap setia mengikuti novel ini hingga tamat. Terimakasih.
Baiklah, mari kita lanjutkan..
--
Hari berikutnya, baik Via maupun Gora sudah menunggu Albert Cs di ruang kerja perusahaan mereka. Sebelumnya memang Albert berpesan pada Via untuk langsung menuju ke kantor tanpa menunggu mereka dulu. Hal itu diniatkan untuk mengurangi lebih banyak gesekan dengan Mama Via, Claudia, jika mereka masih muncul di rumah Via dalam keadaan yang belum kondusif.
Dengan wajah segar dan fresh, Albert memasuki kantor tersebut diiringi ratusan tatapan mata yang seolah terbius oleh ketampanan mereka berempat. Efek dari air terjun regenerasi mulai menunjukkan hasilnya. Terlebih pada Albert yang sudah lama menggunakan air tersebut.
"Eh siapa itu mereka, kenapa ganteng-ganteng banget sih?!" kasak-kusuk terjadi diantara para karyawati yang mereka lewati.
"Jangan ngawur kamu. Yang jalan paling depan itu kekasihnya nona Clara!!. Jangan bikin masalah disini!" tegur beberapa karyawan pria.
"Tau apa kalian?. Sok tau banget!" bantah karyawati lainnya.
Para karyawan menjadi ribut sendiri karena kehadiran ke 4 pemuda tersebut.
Seketika wajah para karyawan menjadi suram saat tiba-tiba Via muncul dan menggandeng lengan Albert.
"Mamam tuh kekasih nona Clara!!" cibir karyawan pria yang merasa menang.
__ADS_1
"Hahaha kalian salah. Satu lolos, masih ada tiga lainnya yang bisa kita embat!!" para karyawati mengedipkan matanya genit.
Namun kesenangan mata mereka segera berakhir tatkala para pemuda tampan sudah menghilang dibalik pintu utama CEO. Mau tak mau mereka kembali fokus bekerja agar tidak menerima teguran dari atasan divisi masing-masing.
"Albert, maafkan ulah istriku. Jujur aku sangat malu dan tidak enak.." wajah Gora terlihat murung.
"Tuan Gora, semua butuh proses, jadi mari kita nikmati proses ini!" jawab Albert bijak.
Dengan santai mereka melanjutkan obrolan membahas tentang pola pengelolaan perusahaan.
Gora berdiri kemudian melangkah didepan semuanya seolah akan melakukan pidato, "Ada baiknya, sebelum kalian melakukan praktek singkat, aku akan menjelaskannya terlebih dahulu," ujarnya.
"Terkait dengan ide usaha yang kalian sampaikan, maka ada beberapa poin akan menempati posisi penting demi kelangsungan perusahaan itu sendiri. Yang pertama adalah kinerja. Kalian harus memiliki tim yang solid dalam bekerja. masing-masing personal harus memiliki kemampuan sesuai dengan bidang masing-masing. Bukan hanya sesuai, namun mereka harus punya semangat kerja dan loyalitas yang tinggi. Yang kedua adalah bagian pemasaran yang mumpuni. Tim yang solid tak akan bisa bekerja dengan baik jika ujung tombak pemasarannya tumpul. Berikutnya adalah pengelolaan keuangan harus disiplin dan tertata rapi. Berapapun penjualan yang bisa dicapai tim pemasaran, jika tidak dikelola dengan baik keuangannya, maka akan hancur juga pada akhirnya. Dan poin ke empat adalah kemampuan managerial yang baik. Ke 3 poin sebelumnya akan sia-sia jika dikelola dengan managerial yang buruk!" jabar Gora memberikan pengarahan.
"Bagaimana dengan poin lainnya, Tuan?. Seperti bagian HRD, keamanan, keselamatan kerja, dan sebagainya." Vano angkat bicara.
"Apa yang harus kami lakukan untuk mendapatkan tim yang seperti Tuan sebutkan tadi?, sedangkan kemampuan dasar kami hanya pada manajemen perusahaan dan desain grafis," giliran Albert bertanya.
"Rekruitment. Tidak ada seseorang yang akan ahli dalam semua hal tanpa terkecuali. Maka daripada itu, kalian memerlukan pembentukan tim melalui jalur recruitment." Gora menanggapi.
"Bagaimana menyeleksinya, jika kami tak menguasainya?" kening Sabir berkerut.
"Itu memang perlu belajar. Jadi, nanti kalian saat praktek akan mengetahui bagaimana kemampuan pemasaran yang baik, bagaimana cara kerja administrasi, dan seterusnya.." Gora semakin antusias menjelaskan.
"Apa sehari ini cukup waktunya untuk belajar semua itu, Tuan?" Huri terlihat ragu.
__ADS_1
"Siapa bilang hanya hari ini?. Setidaknya perlu 2 minggu untuk belajar. Goh kalian juga masa liburan kan?!" ucap Gora.
Via terhenyak, "Wah, Pa. Bagaimana dengan tempat tinggal mereka?. Sepertinya jika kembali ke rumah akan riskan dengan Mama!" Via terlihat bingung.
"Hei, jangan bingung seperti itu. Semua bisa diatur. Kau lupa jika kita juga memiliki rumah kos yang memiliki banyak kamar?!" Gora tergelak melihat kebingungan putrinya.
Via menepuk keningnya sendiri, "Aduh aku lupa, hehe.." Via ikit tergelak.
"Ya sudah, karena masalah tempat tinggal sudah beres, mari kita segera melakukan praktek. Kalian akan dibimbing oleh asistenku," Gora meraih gagang telepon dan menghubungi asistennya yang ruangannya berada disamping ruang CEO.
"Cintya, tolong kesini sebentar!" ucap Gora melalui telepon.
Albert sedikit kaget dengan nama yang disebutkan oleh Gora. Namun ia berusaha menepisnya karena belum tentu nama tersebut adalah orang yang sama dengan yang ia maksud.
TOOKK
TOKk
"Masuklah!!"
"Tuan memanggil saya?!"
DUAARR
Albert kini benar-benar terkejut dengan sosok yang muncul sebagai asisten Gora. Tak hanya Albert, asisten tersebut juga terlihat kaget begitu melihat Albert.
__ADS_1
..._-_-_...