
Ratusan mata memandang Sabir dengan tercengang. Ini baru pertandingan pertama, namun 1 komandan Maniac telah tumbang dengan begitu mudahnya.
Wajah Anggara berubah buruk. Jika pemuda yang menurutnya paling lemah saja bisa sehebat itu, lalu bagaimana dengan kekuatan Albert?. Anggara berusaha menajamkan mata batinnya untuk kembali meraba kemampuan lawan, namun tetap saja itu sia-sia. Bahkan kekuatan Sabir yang telah menumbangkan Bagas saja juga masih tak terlihat. Anggara hanya bisa menilai kemampuan Sabir dari cahaya kuning yang tercipta dari serangannya. Itu menandakan bahwa Sabir berada di Aura kuning, yang artinya juga bahwa basic Sabir juga sudah mencapai tahap Angsa putih, persis seperti yang dimiliki Anggara.
Anggara mendadak bergidik ngeri dengan tatapan penuh tanda tanya ke arah Albert dan teman-temannya.
"Masih perlu dilanjut?" tukas Albert membuyarkan lamunan semua orang.
"Arghh..Bagas memang terlalu lemah. Sekarang giliranku. Biar mereka merasakan bagaimana hebatnya tombak matahariku!" seorang komandan lainnya dengan sombong maju ke tengah arena.
"Panca, tunggu!. Apa kau yakin?" Anggara sedikit ragu.
"Bos. Come on..mereka hanya sekumpulan tikus got. Biar aku yang menyelesaikannya!" teriakan Panca berhasil membangkitkan kembali semangat Anggara yang sebelumnya sempat down.
"Tongkat dilawan dengan tongkat!" Huri sebagai pemilik Baton Stick maju menanggapi.
BLARRR
Tanpa aba-aba Panca langsung mengayunkan tongkatnya ke arah Huri yang belum siap. Namun reflek Huri cukup baik untuk menghindar di detik-detik terakhir. Tongkat Panca menghantam lantai hingga membuat ubin pecah berserakan.
"Hohoho, kau terlalu ambisius, kawan!" Huri terkekeh.
Huri membuka genggaman tangannya. Sebuah benda sekecil bolpen tiba-tiba mengembang begitu saja membentuk sebuah tongkat baja panjang.
"Baton stick?!" Anggara yang menyaksikan pertempuran itu ikut terkejut.
"Terima pembalasanku!" Huri berkelebat cepat.
Baton Stick segera diselebungi cahaya kuning pekat. Huri mengayunkan tongkatnya menghantam Panca. Dengan cepat pula Panca menangkis menggunakan tongkatnya.
__ADS_1
PLANGG
Apa yang terjadi?. Puncak tongkat Panca yang berbentuk matahari seketika rompal dan putus dari tempatnya tatkala menahan serangan Huri.
"Ti-tidak mungkin. Tongkatku dibuat dari bahan pilihan!" Panca terperangah.
"Kau tahu tongkatku?. Dengan bahan baja murni, dia adalah penghantar panas terbaik. Dan ujung cahaya kuning itu, mampu menyatu dengan baja membentuk permukaan tajam baru dalam sekejap mata dan kembali normal sekejap berikutnya," desis Huri mengklaim saat Panca menganggap bahan tongkatnya-lah yang terbaik.
"Omong kosong!!"
BLAMM
BLAMM
Panca dengan beringas mengejar tubuh Huri melalui tarian batang tongkatnya. Namun sayang, kecepatan Huri berada jauh diatasnya. Hanya lantai yang lagi-lagi menjadi korban keganasan tongkat Panca.
"Seperti yang kau minta.." jawab Huri.
CLANGG
CLANG
BUGGHH
Dengan senang hati Huri melakukan serangan seperti pernintaan Panca. Tongkat dilintangkan di atas kepala untuk melakukan blok atas serangan Huri. Meski tongkatnya tak patah untuk kedua kalinya, namun tidak dengan kekuatan Panca, tubuhnya terdorong mundur menerima tekanan energi Huri. Tubuh itu jatuh terjengkang setelah terdorong mundur beberapa meter.
"Sepertinya tak seimbang jika kau melawanku dengan tongkat patah seperti itu. Mari kita lanjutkan dengan tangan kosong!" Huri melipat tongkatnya dengan begitu mudah hingga kembali berbentuk seperti bolpen.
Panca menggertakkan giginya, merasa begitu direndahkan oleh perkataan Huri. Dengan penuh emosi ia lempar tongkatnya begitu saja.
__ADS_1
Menggunakan tangan kosong, Panca berkelebat mendekati posisi dimana Huri berada.
Keduanya segera sibuk bertukar pukulan dan tendangan tanpa ada yang mau mengalah. Niat licik muncul dari hati Panca. Lututnya terangkat mengincar kepala merpati diantara kedua pangkal paha Huri.
Namun detik berikutnya, wajah Panca langsung memucat. Kepalan tangan berpijar kuning milik Huri terarah ke bawah, menyongsong paha Panca yang kian terangkat, sudah terlambat untuk ditarik kembali.
BLAKKK
"Arrghh!!"
Jerit kesakitan keluar dari bibir Panca. Lutut Panca terlepas dari persendiannya. Kini kaki kanannya tersebut hanya tergantung lemas tanpa tumpuan tulang.
Mengusul, telapak tangan Huri yang berpendar kuning menghentak telak dada Panca dengan keras.
Pria itu terkapar dengan bagian dada menghitam.
"Pukulan hingga dada menghitam, sama seperti yang kalian lakukan pada temanku waktu itu!" desis Huri.
Tanpa mereka semua sadari, diantara ratusan pasukan Maniac, telah menyusup 2 orang. Dia adalah Yoga dan Heksa. Mulanya Heksa memaksa untuk mengajak Yoga menyusup karena khawatir dengan keselamatan Albert Cs. Namun kini justru mereka yang dibuat mati berdiri begitu melihat dua sesi pertarungan yang sangat luar biasa. Belum sampai pada Albert, kemampuan Sabir dan Huri sudah jauh melewati kemampuan beladiri awam Yoga serta Heksa.
"Sekarang kau masih meragukan mereka?" cebik Yoga ditelinga Heksa.
"Ratusan orang ini dalam bahaya besar!. Bukan hal sulit bagi mereka berempat untuk membumi hanguskan markas ini sekaligus." Heksa menggeleng-gelengkan kepala seperti telah melihat masa depan kehancuran geng Maniac yang ada di pelupuk mata.
Dilain sisi, wajah Anggara terlihat demikian mendung tak sedap dipandang mata. Ibarat kata, wajahnya bagai judul lagu yang sedang booming, Mendung tanpo udan. Tak disangka ia telah mengusik kawanan Singa yang sedang tidur. Sekilas muncul wajah Via dalam lamunannya. Penyesalan memang datangnya diakhir, jika di awal maka namanya adalah Pendaftaran. Ia menyesal telah mengintimidasi Via begitu rupa. Namun penyesalan tinggallah penyesalan, kini badai besar telah menghampiri markas mereka.
Berbading terbalik dengan wajah Anggara, wajah Yoga begitu berbinar bahagia, "Fiuhh. Masa depan kejayaan geng kampus orange segera tiba!" Yoga menghela napasnya dengan begitu ringan.
..._-_-_...
__ADS_1