Flip-flops System

Flip-flops System
51. Mereka lagi


__ADS_3

"Berhenti Woy!!"


"Apa benar lelaki itu yang telah menghajar kalian berdua tempo hari?" ucap seorang pria kekar pada dua pria lainnya.


"Benar. Aku masih mengingat jelas wajah bocah sialan ini!" jawab salah satu pria.


Didepan Albert dan Via, berdiri 10 orang preman dengan seringai bengis menghadang mereka. Dua diantaranya masih diingat oleh Albert, yakni dua pria yang sempat ia hajar di area kosan Shinta.


--


"Siapa mereka, Al?" Via tergagap.


"Geng yang pernah aku ceritakan saat dulu pulang dari sini," jawab Albert lirih.


[Yeayy. Panen sandal jepit lagi. Hore, hore, horeee]


Tatapan tajam terarah pada dua pria yang pernah melawan Albert, "Masih belum jera juga kalian berdua, Hahh?!" desis Albert.


"Kami kalah karena kami waktu itu hanya dua orang. Tapi kau tak akan mampu melawan kami semua!" ejek salah satu pria.


"Ohh ganti cewek lagi sekarang ya. Apa kau memang bermaksud mempermainkan idola kami?!. Jika memang demikian, maka tak salah bila sekarang kami hancurkan kamu!!" teriak pria kedua.


Disisi lain, Via dalam beberapa detik merasakan kekosongan dalam hatinya. Dia tak menyangka jika ternyata Albert dan Shinta memang begitu dekat sehingga preman pun tahu seolah mereka berpacaran. Timbul sedikit penyesalan dalam hati Via karena telah memberikan kebebasan pada Albert untuk memilih.


"Jika tak tahu hubungan kami sebaiknya diam, Bung!" sentak Albert setelah sejenak melirih Via yang cukup terpengaruh oleh ucapan preman sebelumnya.


"Sebentar-sebentar..bukankah dia Nona Clara, Putri Tuan Gora, orang nomor satu di ibukota bagian timur sini?" Pria berbadan kekar yang sepertinya adalah komandan dari kesemuanya mencoba mengamati lebih tajam pada sosok Via.


"Jelas dia itu buaya. Meski kami preman brengsek, tapi kami tak akan membiarkan orang luar bikin ulah dan mengganggu kenyamanan penduduk di wilayah ini!" tandas pria kekar tersebut.


Terdengar cukup aneh memang, saat kawanan preman berlaku seolah melindungi orang-orang diwilayahnya. Namun itu hanya kamuflase belaka. Tujuan mereka jelas adalah mencari muka di hadapan Via. Harapan untuk digunakan jasa pengamanannya oleh Gora di masa depan melatarbelakangi aksi berkedok care mereka.


"Apakah seperti ini pola kerja Hellfire?. Merongrong masyarakat demi keuntungan mereka sendiri?. Atau jangan-jangan kalian memang minim job alias pengangguran akut, sehingga sibuk mencari muka untuk mendapatkan simpatik. Menjijikkan!!, tak ubahnya kalian seperti para preman berdasi yang sibuk menjilat sana dan sini!" geram Albert yang bisa membaca pola pikir mereka.


"Anj*ing!!. Habisi dia!!" teriak pria kekar memberi perintah pada anak buahnya.


5 pria mengepung posisi Albert dengan tatapan bengis. Perlahan mereka mengeluarkan senjata masing-masing dari balik jaket berupa belati, katana, rantai baja, sendok, garpu, piring, sendok semen.


PRANGG


PRANG


Tanpa disadari Albert, 5 pria lainnya ternyata sibuk menghancurkan mobil milik Via dan berusaha menjarah apa yang ada didalam sana.


"Hentikan. Apa mau kalian sih?!!" teriak Via histeris melihat semua kaca mobilnya pecah berhamburan.


"Tenang saja, kami hanya membantumu merusak mobil buaya sialan itu," senyum sinis pria kekar yang menjadi otak dari 10 orang preman tersebut.


Via hanya menggeleng-geleng heran kemudian perlahan melangkah mundur menjauhi mereka.

__ADS_1


Merasa waktunya banyak terbuang karena meladeni para preman, Albert bergerak bagai kilat.


Kurang dari 5 detik Albert sudah menotok 5 tubuh preman yang mengelilinginya hingga mereka menjadi diam tak mampu menggerakkan tubuhnya sama sekali. Hanya dengusan napas mereka yang jelas terdengar diikuti gerak mata yang seolah meneriakkan umpatan, sayangnya, mulut mereka tak mampu ikut bergerak.


Berbeda dengan para pengepung, 5 orang lain yang tadinya sibuk merusak mobil milik Via. Dengan wajah penuh amarah, Albert kembali bergerak cepat menggenggam tangan masing-masing secara bergantian. Detik berikutnya, tangan-tangan itu tiba-tiba menghitam dan melepuh seperti terbakar api.


"Rasakan balasan bagi kalian yang sudah berani merusak mobil kami!" bentak Via dengan wajah gembira.


Tersisa si badan kekar, pemimpin dari 9 orang lainnya yang sempat berlari saat ke 5 orang pertama ditotok oleh Albert.


Tubuhnya bergetar hebat. Tak ada sedikitpun niat darinya untuk melawan Albert seorang diri. Ingin berlari kaburpun kini kakinya seperti berat untuk digerakkan. Ia hanya bisa menatap Albert dengan wajah pucat pasi.


"Jangan sakiti aku!!" teriak pria kekar ketakutan.


"Apa?. Apakah aku tidak salah dengar?. Bukannya kau tadi yang ingin menyakitiku?" ledek Albert sambil perlahan melangkah maju mendekati pria kekar.


"Hen-hentikan langkahmu. Ak-u peringatkan k-kau. Kau akan menyesal jika menyakitiku. Aku adalah salah satu panglima kesayangan big boss Hellfire!!" ancam pria kekar dengan kaki yang semakin gemetar.


"Ada banyak pasukan kalian?" selidik Albert.


"Seribu lebih. Kau tak akan mampu menghadapi seorang diri," si kekar mencoba menyombongkan geng-nya, seolah memperingatkan Albert.


"Apa bosmu itu hebat?" korek Albert lagi.


"Hahaha. Kultivator kacangan sepertimu hanya akan menjadi menu pembuka baginya. Bahkan ke 5 pilarnya saja kau yak kan mampu menghadapi!" lanjut si kekar semakin jumawa.


"Ya. Pilar Barat, Timur, Selatan, Utara, dan Pusat. Mereka tangan kanan terbaik Boss kami. Kemampuan kultivasinya juga bukan kaleng-kaleng. Kau tak ada sekuku hitam mereka!" kontras memang bagi si kekar, mulut sombong, tapi kaki gemetar seperti kakek buyutan.


ZAPPP


KRASSHH


Dengan kekuatan menakjubkan, Albert mengangkat tubuh si preman dari jarak jauh dan mengirimnya ke atas serpihan kaca mobil Via yang berserakan di tepi jalan.


"Sakiitt!!" keluh pria kekar dengan wajah dan sebagian tubuh tertancap beling-beling dalam berbagai ukuran.


Meski tak terlalu dalam, namun luka itu membuat tubuh si pria seperti bermandikan darah. Ia mengerang kesakitan seperti kuda lumping yang lupa baca mantra.


"Kalian semua pergilah. Jangan ganggu kami lagi. Dan sampaikan pada Boss kalian, dia harus membayar kerusakan yang terjadi pada mobil ini!" teriak Albert keras hingga terdengar oleh para pengunjung taman yang menyaksikan perkelahian mereka.


"Mampuss kalian para preman. Kali ini kalian salah memilih lawan!!" bisik seorang pengunjung.


"Ishh miris. Begitu banyak luka, darah, dan luka bakar. Sadis sekali pemuda itu!" desis pengunjung lainnya.


"Apakah dia bukan orang sekitar sini?. Berani sekali dia mengusik boss geng Hellfire. Sudah bisa dipastikan hidupnya akan menderita dan hancur setelah ini." Seorang pedagang es juga turut berkomentar.


Semua menatap Albert dengan beragam pikiran masing-masing. Belum ada yang tahu siapa sejatinya Albert. Yang mereka tahu hanya kehadiran Clara sebagai putri orang tersohor di wilayah tersebut.


Albert tak mau ambil pusing dengan semua tatapan mereka. Dengan cuek ia mengajak Via menjauh dari lokasi dan segera menghubungi taksi online untuk membawa mereka pergi dari tempat itu.

__ADS_1


[Mohon ijin menampilkan status sistem, Kak]


"Silahkan, Silva!"


--


FLIP-FLOPS SYSTEM


Ver. 2.00 ๐Ÿ”›


๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ


*Current addition***โคต๏ธ


Bonus : Peningkatan Versi sistem


๐Ÿ”ป8M saldo


๐Ÿ”ป8M Deposito.


๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ๐Ÿ“ฆ


Inventory 1737 FF, Pedang Rajawali emas 1


Saldo Tunai Rp. 10.543.000.000


Saldo Deposito Rp. 10.500.000.000


Power : 27%


Basic : Rajawali emas 2


Aura : Merah 2


Support : Kloning Dewa guru tingkat menengah**


๐Ÿ”š


end.


--


"Ada banyak perubahan pada status sistem. Kau harus segera menjelaskannya, Silvana!"


[Nanti akan kujelaskan saat Kak Albert sedang tidak sibuk]


..._-_-_...


Terlalu lama bab yang hanya berisi obrolan dan bahasan pendukung dikhawatirkan akan membuat pembaca jemu. Author kembali menghadirkan bab pertempuran karena disitulah napas novel sistem ini berada. Semoga pembaca tetap betah membaca disini.

__ADS_1


__ADS_2