
Keesokan harinya, hal spesial terjadi di kantor Gora. Sesuai permintaan dari Albert, Gora mengundang Tuan Billy untuk datang. Meski terdengar tidak sopan karena meminta seorang majikan datang, namun tidak bagi Tuan Billy, ia justru bahagia karena akan bertemu anaknya, Shinta, serta Albert sekaligus.
"Papa.." Shinta memeluk erat pria berusia matang berwajah kharismatik yang bernama Julian Billy tersebut.
"Bagaimana keadaanmu disini?, apa kau nyaman bekerja disini?" Billy membelai rambut hitam anaknya.
"Betah, Pa. Tuan Gora adalah pimpinan dan pengganti Papa yang sangat baik," puji Shinta.
"Selamat datang Tuan Billy," sapa Albert sedikit canggung karena sudah cukup lama tidak bertemu secara langsung.
"Ahh, Albert, anakku. Bagaimana kabarmu?" jawab Billy senang.
"Baik, Tuan." Albert menunduk hormat.
--
Kini mereka telah duduk bersama dan bersiap membahas urusan perusahaan seperti yang telah direncanakan.
"Aku dengar, Albert berencana mendirikan perusahaan di dekat kampusnya?" ucap Billy membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Masih rencana, Tuan. Belum terwujud," jawan Albert.
"Jusrru karena itu masih berupa rencana, aku menjadi cukup tertarik. Aku hanya melihatnya dari semangatmu dalam berkarir. Seolah aku melihat diriku sendiri di masa muda dulu. Penuh semangat, pemberani, dan suka berkelahi hahaha," Billy tergelak mengingat masa lalunya.
"Apa kau juga suka berkelahi juga sepertiku?" tanya Billy memicingkan mata.
"Mungkin hanya pada Tuan Billy, saya bisa terbuka dan terus terang. Saya...saya adalah ketua geng kampus, maafkam saya tuan." Albert menunduk tak enak hati.
"Kenapa harus meminta maaf. Kita laki-laki, Bert. Kita akan terus bersinggungan dengan urusan tangan dan kaki. Lagipula, sebuah perusahaan akan tumbuh lebih baik jika memiliki kemampuan bertahan dari serangan apapun. Sedikit nakal, tak masalah hahaha," Billy kembali tergelak begitu mengetahui bahwa Albert ternyata juga suka berkelahi seperti dirinya dulu.
"Lalu apa rencanamu, Gora?" Billy mengalihkan pandangan pada sahabatnya.
"Tentu saja, tak ada yang boleh menggeser posisi Albert. Usul apa, Gora?" tanya Billy.
"Jika diperkenankan, biarkan perusahaan ini diteruskan oleh anak saya. Nona Cintya mengelola perusahaan anda yang disana, dan Albert mengelola perusahaan barunya. Namun ketiga perusahaan tersebut dibawah kendali sepenuhnya dari Albert. Maaf jika aku lancang," ujar Gora santun.
"Ahh itu sangat bagus. Kau tahu anakku, April?. Dia sekarang sudah mengelola butiknya sendiri. Sedangkan Belia, anakku yang bungsu, masih sibuk menyelesaikan kelulusan SMA. Jadi hanya Shinta dan Albert lah tumpuanku untuk menglelola perusahaan. Kita sudah tua, Gora. Sudah waktunya duduk manis melihat anak-anak kita beraksi di gelanggang pertarungan," mata Billy berbinar.
"Tuan, tuan..serius dengan rencana ini?. Kenapa saya tidak diberitahu sebelumnya?" Albert masih menunjukkan ketidakpercayaannya.
__ADS_1
"Bahkan sejak ibumu masih ada, kau tetap satu-satunya penghuni rumah yang laki-laki. Semua tumpuan kuletakkan padamu. Aku tak memiliki anak laki-laki, keponakan laki-laki, atau semacamnya. Aku hanya mengandalkanmu. Begitu pula dengan Gora, ia hanya memiliki Clara sebagai keturunannya. Sedangkan kau pasti tahu bahwa hanya Gora lah sahabatku sejak kecil yang sudah seperti saudara. Jadi, ini bukan permintaanku lagi, tapi ini perintahku untukmu!" Billy menekankan kalimatnya.
"Lalu bagaimana dengan Nyonya Claudia?" ujar Albert.
Billy menoleh pada Gora, "Istrimu yang pembangkang itu, belum juga sadar?" cebik Billy.
"Akan ku urus dia," balas Gora pendek, tak enak hati.
"Baiklah. Jadi, Albert, mulai dari sekarang kau memiliki beban tanggung jawab yang baru. Tugasmu adalah mengemban tongkat estafet keluarga Billy untuk melanjutkan keberlangsungan usaha. Posisi Shinta dan Clara yang diusulkan Gora, itu terserah Albert memberikan pengaturannya. Kau Albert, akan kudidik sendiri bersama Gora untuk segera dapat memenuhi harapan kami semua. Selain 3 perusahaan yang kita bicarakan ini, ada beberapa pabrik, perkebunan, dan perusahaan lainnya yang juga perlu kau kelola!" Hanya dalam hitungan menit, Albert telah berubah menjadi pengusaha besar dengan proyeksi kekayaan yang fantastis.
"A-pa saya bisa, Tuan?" tubuh Albert bergetar.
"Kau pasti bisa jika kau pikir bisa!" nasehat Billy.
"Tapi kau tenang saja. Kita berada didalam lingkaran usaha yang kondusif. Di sekeliling kita ada banyak perusahaan milik pihak lain yang memiliki hubungan yang baik dengan kita. Selama ini kita saling mendukung dan membantu. Keluarga Billy berada bersama Keluarga Lin, Keluarga Leo, dan Keluarga Lincoln saling bahu membahu memajukan industri dalam negeri!" imbuh Billy.
"Baiklah Tuan. Saya akan patuh melaksanakan perintah Tuan Billy," Albert mengangguk.
"Esok hari, aku dan Gora akan mengajakmu berkenalan dengan Tuan Lin dan Tuan Julian. Mereka juga tinggal di Ibukota ini!" pungkas Billy.
__ADS_1
..._-_-_...