Flip-flops System

Flip-flops System
39. Prediksi Vano


__ADS_3

"Kakak harus jaga diri. Jika terjadi sesuatu pada Kakak, atau ada orang yang mengganggu Kakak, cepat hubungi aku!" pesan Albert panjang lebar tatkala ia berpamitan kepada Shinta untuk kembali pulang.


"Iya, iya. Bawel amat!" rajuk Shinta.


"Bukannya kenapa-kenapa, jangan sampai orang-orang dari Hellfire mengganggu Kakak. Setelah kejadian tadi sore, pasti mereka tak akan tinggal diam. Aku tak bisa selalu ada disamping Kakak, tapi aku siap datang kapan saja jika Kakak membutuhkan," Albert sebenarnya khawatir pada keselamatan Shinta, namun ia juga harus segera kembali karena sudah terlalu lama kuliahnya amburadul.


Shinta meraba lembut pipi Albert, "Iya, aku mengerti, Sayang. Kamu jangan terlalu khawatir," tukasnya.


Seperti Via, Shinta adalah sosok mandiri yang penuh kedewasaan. Mereka berdua sudah terbiasa menghadapi masalah seorang diri. Namun jika keadaan memang tidak memungkinkan, Albert adalah solusinya.


Malam itu Albert kembali pulang. Esok pagi adalah hari kuliah yang ia harus hadir karena dosen mengancam tidak meluluskan mata kuliah Albert yang ia pegang jika sekali lagi Albert tidak masuk kuliah.


Albert tiba di rumah mewah Via mendekati tengah malam. Namun meski telah larut, beberapa teman masih duduk santai di taman rumah sambil menunggu kedatangan Albert. Disana ada trio HSV, Yoga, Heksa, Via, dan satu orang wanita lagi yang sepertinya adalah kekasih Yoga. Karena kehadiran wanita tersebutlah sehingga Via berani menemani para pria hingga larut. Jika seandainya ia wanita seorang diri, ia lebih memilih mengurung diri di kamar untuk menonton drakor favoritnya.


"Wah bos kita datang," teriak Sabir gembira saat melihat kilat lampu mobil sport yang memasuki gerbang rumah.


"Halo semua, pada belum tidur nih?!" sapa Albert berbasa-basi.

__ADS_1


"Nungguin kamu, bro. Sambil ngobrol tipis-tipis," jawab Vano mewakili semuanya.


"Kebetulan sekali, ada yang ingin kubicarakan dengan kalian. Sebentar ya aku bebersih dulu, penat banget dijalan," Albert melangkah masuk membawa tas ranselnya diikuti Via yang langsung nemplok lengket di lengan Albert seperti perangko terkena air.


"Ciehh yang ga ketemu 3 hari. Aku kangen kamu, Honey..hahaha," goda Huri disambut gelak tawa sahabat lainnya.


Meski memiliki Via sebagai kekasih real, Shinta sebagai kekasih dalam karung, dan Silvana sang kekasih online, Albert merasa tetap nyaman dan bisa membagi kasih sayang kepada mereka semua. Satu hal yang Albert sukai dari mereka, sisi dewasa yang bisa memberi nasehat dan perhatian. Lagipula Albert memiliki prinsip, selagi janur kining belum melengkung, senyampang perut belum melendung, maka masih bebas untuk dekat dengan siapa saja. Hahaha..itu pembenaran versi Albert sendiri loh ya, bukan ide Author 🤭.


Beberapa menit berselang, kini Albert telah duduk bersama para sahabatnya.


"Gimana kabar Kampus dan Gold Wings selama aku pergi?" tanya Albert.


"Tapi ada yang nunggu dengan harap-harap cemas," imbuh Heksa sok misterius.


"Siapa?"


"Aku ama Yoga nih, kapan berlatihnya? Hahaha. Masa wakil ketua 1 dan 2 kalah telak jika ditandingkan dengan wakil 3,4,5. Mau ditaruh dimana muka ini jika disaksikan anak buah," keluh Heksa namun penuh bumbu kejenakaan.

__ADS_1


"Taruh noh di vantat, aman!" cebik Via mengimbangi.


"Hahaha. Kalian bisa saja bikin aku ketawa malam-malam gini, eh dini hari deng. Iya sabarlah sejenak, Bang. Waktu yang akan menjawabnya," goda Albert membuat Heksa dan Yoga semakin terkatung-katung ditengah lautan harapan.


"Secepatnya kalian harus segera berlatih, itu tekadku. Kenapa aku bilang begitu?, karena aku punya cerita cukup menarik saat bepergian 3 hari ini. Disana aku sempat diganggu oleh kawanan preman yang meminta upeti jika tak ingin saudara angkatku celaka. Akhirnya upeti kubayar lunas dengan membuat mereka pingsan, hehe. Yang menarik adalah geng mereka. Para preman tersebut berasal dari geng Hellfire!" ucap Albert panjang lebar.


"Hellfire!!" Yoga dan Heksa seperti sedang melakukan paduan suara.


"Ya betul, Hellfire. Buat kalian yang belum tahu, Hellfire adalah geng besar di kota ini yang menaungi geng Maniac!" lanjut Albert yang spontan membuat Via dan trio HSV terhenyak.


"Prediksiku mengatakan bahwa masa depan kita akan selalu bersinggungan dengan pertarungan!" ujar Vano menanggapi namun langsung menerima jitakan keras dari Huri.


"Wadoww!!" teriak Vano kesakitan.


"Prediksi tai kucing!. Sejak kita memilih menjadi kultivator, maka konsekuensinya sudah jelas, akan menjadi petarung. Ga perlu prediksi-prediksi segala.." sembur Huri sewot.


"Hehe maafkan teman saya ya tuan-tuan. Dia lagi kumat epilepsi-nya," Vano menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


"Wadowww!!" jitakan kali kedua Huri yang lebih keras kembali mendarat di tempurung kepala Vano tanpa bisa dicegah lagi.


..._-_-_...


__ADS_2