Flip-flops System

Flip-flops System
57. Kloning Dewa Asmara


__ADS_3

Hari-hari kembali berjalan. Silvana masih dalam tidur panjangnya dalam proses update sistem. Jenuh juga ternyata menunggu kehadiran Silvana kembali. Kebersamaan yang telah terjalin beberapa tahun, kini begitu terasa adanya kekosongan jika tak saling berbicara. Begitu juga dengan perusahaan yang sudah mulai berjalan stabil, praktis Albert merasa bosan karena bingung akan melakukan aktivitas apa. Niat awal yang akan melakukan serangan ke kubu Hellfire, masih tertunda karena permintaan Silvana.


Albert akhirnya memutuskan untuk sementara waktu bersantai bersama Via. Sepertinya sudah cukup lama bagi mereka berdua untuk memiliki waktu privasi. Sekian bulan berjalan mereka hanya disibukkan dengan segala pembenahan perusahaan, baik itu untuk perusahaan pusat yang dikelola Shinta, perusahaan BG yang dikelola Via, maupun perusahaan BARCO.


"Sayang, aku sangat bahagia setelah Tuan Billy dan Papaku merestui hubungan kita. Yah meski Mama belum bisa menerimamu sepenuhnya. Tapi aku yakin, kelak Mama akan terbuka untuk menerima jalan hidup yang kita pilih," Via menyandarkan punggungnya ke dada Albert, keduanya sedang duduk di tepi pantai menikmati segala pemandangan indah berpadu angin sepoi lepas.


"Iya, honey.." sahut Albert dengan nada datar, seolah ada sedikit rasa mengganjal disana.


Via mengerutkan keningnya, "Kok biasa aja sih sayang komentarnya?. Bukannya kamu justru akan ikut gembira mendengar perkataanku?" tanya Via penasaran.


"Iya aku bahagia," jawab Albert masih tetap datar seperti sebelumnya.


"Kamu ga mungkin terlihat aneh begitu jika memang benar-benar bahagia!" tekan Via semakin curiga.


Albert tentu menjadi salah tingkah. Namun akan sulit pula jika ia harus mengungkapkan status hubungannya bersama Shinta.

__ADS_1


"Ini sebuah dilema. Di satu sisi aku ingin bahagia bersama Via, disisi lain aku juga tak ingin membuat Kak Shinta kecewa. Aduh 2 wanita sudah bikin puyeng. Bagaimana rasanya jika harus mengatasi lebih banyak istri seperti Brian-nya Author Alveandra. Berlaku adil memang tak semudah membalik telapak tangan.." batin Albert bingung.


Belum usai kerisauan hati Albert, namun Via sudah kembali tersenyum seolah mengerti tentang apa yang telah membuat Albert galau.


Dengan lembut Via memegang wajah Albert menggunakan kedua telapak tangannya yang berhiaskan jemari lentik nan halus, "dengarkan aku!" pelan Via memutar kepala Albert agar menatapnya.


Albert hanya bisa menuruti apa perkataan Via. Wajah keduanya kini saling berhadapan dengan jarak yang tidak lebih dari satu genggam tangan pria dewasa.


"Al sayang, kau kini adalah pemuda yang sukses. Kau adalah milyarder muda yang memiliki banyak perusahaan dengan total aset dan income fantastis. Entah kenapa pula pelatihanmu di ruang hampa ternyata juga menambah tingkat ketampananmu juga ke 5 sahabatmu. Sudah barang tentu kau menjadi pujaan banyak wanita diluar sana. Betapa tidak, masih muda, tampan rupawan, CEO hebat, kaya raya, pintar beladiri, semuanya demikian terlihat sempurna di mata kaum hawa," ucap Via berusaha memberikan oemahaman pada kekasihnya.


"Aku tahu bagaimana kau menatap Kak Cintya, dan bagaimana dia memandangmu. Baiklah jika kau ingin langsung pada intinya. Aku rela kau juga menjadikan Kak Cintya sebagai kekasihmu, berdiri bersamaku mendampingimu. Itu jauh lebih baik daripada kau direbut wanita lain diluar sana!" tegas Via tak lagi berbelit.


Albert tergagap, "K-kau..." ia seolah tak mampu menemukan kata yang tepat untuk mendebat Via, hanya aroma mint yang tercium tipis-tipis dari mulutnya yang menganga.


"Tepat sekali seperti yang kau pikirkan. Bahkan aku rela jika menjadi istrimu, berdua dengan Kak Cintya!" imbuh Via yang seolah bisa membaca pikiran Albert dengan baik.

__ADS_1


"A-apa kau sakit?. Ini terdengar begitu janggal!" Albert masih terlihat tak percaya dengan apa yang diucapkan Via.


CUPP


Tanpa aba-aba, Via sudah menyambar bibir Albert dengan penuh kelembutan kasih. Meski Albert merasa kurang nyaman akibat ganjalan yang belum sepenuhnya tuntas, namun lambat laun ia menjadi terbius juga dengan kecup kelembutan yang diberikan oleh kekasihnya.


Dalam beberapa saat mereka terlarut menumpahkan hasrat dalam dada. Lidah saling membelit, bibir saling bertaut, saliva bersatu padu. Hingga tak terasa, permainan tersebut justru semakin membuat hati Albert tenang, tentram, nyaman.


Via menarik diri, "Sekarang apakah kau masih menganggapku sakit?" ujarnya lembut namun penuh pekenanan.


Albert tersenyum tipis, "Apa kau sudah benar-benar yakin?" Albert mencoba memastikan.


"Tak ada keraguan, bahkan sejak hari pertama kita saling menyatakan cinta!" jawab Via tanpa ragu.


"Inikah perwujudan kloning Dewa Asmara seperti yang diucapkan Silvana?" pikiran Albert menerawang jauh.

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2