Flip-flops System

Flip-flops System
43. Mari bercocok tanam


__ADS_3

Malam telah menjelang, Tuan Gora sudah tiba dari kantornya, namun tak mengurangi arogansi Claudia. Bahkan ia menolak untuk ikut makan malam bersama di meja makan karena kehadiran Albert Cs. Tuan Gora hanya bisa menggeleng melihat istrinya yang tak pernah bisa berubah cara pandangnya terhadap harta dan kedudukan.


Saat ini, semuanya sedang duduk bersama di teras rumah selepas acara makan malam bersama.


"Albert, maafkanlah tingkah Mama-nya Clara. Tapi yakinlah, dia akan bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu," Gora menatap Albert dengan perasaan tak enak hati.


"Tidak masalah, Tuan. Saya pribadi hanyalah anak pembantu rumah tangga, jadi sudah sering mendapat perlakuan semacam ini. Meski Majikan saya orang baik, terkadang dari pihak luar yang justru merendahkan. Tapi itu sudah menjadi lauk saya sehari-hari. Awal dikampus juga tak berbeda, rata-rata hanya memandang dari tingkat kekayaan," ujar Albert tak mempermasalahkan.


"Clara..Papa..sudah larut malam. Segera masuk rumah dan tidur!" Claudia muncul di ambang pintu.


"Eh iya, ayo Al. Ma, kamar tamu sudah dibersihkan Bi Jum kan?" ucap Via.


"Buat siapa?" Claudia mengerutkan kening.


"Ya buat teman-teman Clara dong, Ma.." jawab Via.


Wajah Claudia kembali berubah buruk, "Oh tidak, tidak. Mama tidak bisa menerima tamu menginap seenaknya!" tolak Claudia kasar.

__ADS_1


"Lho kan mereka tamu Clara.." komplain Via.


"Sekali tidak tetap tidak. Temanmu itu kalangan atas, bukan kaum rendahan seperti mereka!" kembali Claudia berkata buruk.


"Ma. Jaga ucapan Mama!" tegur Gora pada istrinya.


Mata Claudia melotot sadis, "Kenapa?, Papa mau belain mereka?. Ya sudah tidur luar sana sama mereka!" tantangnya.


"Kok Mama keterlaluan banget sih?!. Apa seperti ini didikan Papa pada Mama?" Gora ikut emosi.


Melihat pertengkaran suami-istri yang semakin memanas, Albert berinisiatif menengahi, "Sudahlah Tuan Gora, Via. Biarkan kami tidur diluar malam ini," ujar Albert tak ingin semakin memperkeruh suasana.


"Oh tidak usah, Tuan. Kami bisa cari sendiri. Baiklah, permisi dulu kalau begitu. Via aku pamit!" Albert bergegas meninggalkan rumah tersebut diikuti ketiga temannya tanpa ingin membebani Gora lagi, namun Via merasa tak rela.


"Mama, apa-apaan sihh!!" raung Via.


Via segera berlari mengejar Albert yang sudah sampai didepan gerbang, "Tunggu!!. Kau mau pergi kemana selarut ini, sayang?. Hotel rata-rata juga sudah penuh jika malam," Via berusaha mencegah.

__ADS_1


"Sttt, jangan rame-rame. Aku ga akan kemana-mana. Cuma pindah ke ruang hampa. Disana setengah jam saja, disini tentu sudah pagi. Jadi, sayangku jangan khawatir yaa," bujuk Albert memberikan sebuah senyumannya.


"Hehe iya lupa kalau sekarang ada ruang hampa," ketegangan Via langsung mencair.


Setibanya di ruang hampa, Vano segera menghampiri Albert, "Bro, kamu terlalu lunak pada Mama-nya Via. Dia bahkan belum tahu jika rumahnya-pun mampu kau beli!" tegur Vano tak suka.


Huri dan Sabir tampak mengangguk, sependapat dengan apa yang dikatakan Vano.


"Aku adalah orang yang paling menghormati sosok seorang ibu. Kalian tak tahu bagaimana rasanya jiwa hampa tanpa kehadiran ibu. Sejak saat itu, aku bertekad untuk menghormati semua ibu di dunia ini!" ujar Albert dengan wajah merebak sendu.


"Maafkan kami, bro. Kami tak berpikir sejauh itu." Huri menepuk bahu Albert sebagai bentuk dukungan moril bagi Albert.


"Santai saja. Sebaiknya waktu setengah jam ini kita manfaatkan dengan baik," balas Albert mencoba menghapus kesedihannya.


"Apa rencanamu?, apakah kita akan berlatih disini sekarang?" tanya Sabir.


"Bantu aku!!" Albert mengambil beberapa bungkusan yang sejak kemarin telah disimpan di ruang hampa oleh Albert.

__ADS_1


Bungkusan tersebut berisi berbagai biji bibit tanaman dan buah. Albert ingat bahwa bercocok tanam di ruang hampa akan cepat panennya, lagipula kualitas gizi-nya akan berlipat ganda. Jadi, kenapa tak dicoba saja?


.


__ADS_2