Flip-flops System

Flip-flops System
27. Dewa guru


__ADS_3

Dalam 10 menit pertama, tubuh ketiga teman Albert sudah mengucurkan keringat dengan deras. Dada mereka juga terlihat kembang kempis terdesak aliran pernapasan. Albert seketika menghentikan aktivitas kultivasi dari teman-temannya.


"Hmmh..lelah sekali," keluh Huri dengan napas ngos-ngosan.


"Ini baru tahap rendah, dan kalian sudah tak kuat. Itulah pentingnya berlatih fisik. Saat ini kultivasi kalian pada tahap White dove level 1, aura putih level 1. Silahkan nanti kalian coba untuk menggerakkan ranting dari jarak jauh, meremas dedaunan, dan semacamnya!" Albert tersenyum bangga melihat kemajuan yang terjadi pada ketiga pemuda awam tersebut.


[Helleh. Sok kuat ish. Siapa yang tadi 30 menit udah letoy?!. Dasar.]


"Silvana, ini kan konsep pengajaran. Kamu jangan mem-bully seperti itu dong. Jatuh nih martabatku sebagai guru!"


[Kita kan hanya ngobrol berdua. Mana mereka dengar?]


"Ehh iya deng,"


[Ya udah, silahkan dilanjut]


"Tenagaku terkuras habis," Vano ikut mengeluh.


"Disana ada air terjun regenerasi. Mandilah sejenak disana untuk menyegarkan tubuh kalian," lanjut Albert.


Seperti bocah-bocah yang senang jika melihat sungai, begitu juga dengan Sabir Cs, mereka bangkit sekuat tenaga dengan mata berbinar saat melihat air terjun yang nampaknya menggiurkan.


Hari itu, atau 1 jam di ruang hampa digunakan Albert khusus untuk menempa murid-murid barunya. Dalam beberapa kali kultivasi, kini mereka telah mencapai tahap Angsa putih level 1, aura kuning level 1. Sebuah kemampuan yang akan sulit dicapai kultivator dengan mudah di dunia nyata. Umumnya, kultivator membutuhkan waktu 3 hingga 5 tahun untuk mencapai tahap diatasnya, itu belum termasuk kenaikan aura.


1 Jam berikutnya digunakan Albert untuk latih tanding. Albert memasangkan Huri melawan Vano, dan Sabir melawan Albert sendiri. Hal ini untuk melatih kemampuan beladiri tersinkronisasi dengan kemampuan kultivasi.


Vano dengan trisula kembar berkelebat lincah kesana kemari dan sesekali melancarkan serangan mematikan ke arah Huri.


Huri tak mau kalah, tongkat panjang yang berasal dari Baton Stick miliknya seolah meliuk-liuk mengejar tubuh Vano.


Sabir apalagi, dia begitu beringas dengan Ruyung alias Nunchaku-nya. Beberapa kali ia mengaduh kesakitan saat kerasnya batang Nunchaku membentur kepalanya sendiri. Hahaha Sabir sungguh konyol.


Ledakan demi ledakan tembakan kultivasi laksana kembang api di siang bolong. Setiap kali ketiganya melakukan serangan selalu dibarengi dengan kilatan sebangsa petir atau sinar laser.

__ADS_1


Baik Vano dan Huri yang sudah terbiasa berlatih beladiri, berlatih bersama seperti itu membuat mereka begitu antusias. Mereka bisa merasakan perbedaan yang nyata dari beladiri sebelum berkultivasi dan beladiri setelah berkultivasi.


Untuk Sabir yang masih awam mengenal beladiri, kemampuan beladirinya yang melonjak drastis membuat Sabir begitu takjub. Berulangkali ia melakukan serangan-serangan dengan ganas ke arah Albert seolah menemukan permainan baru.


"Woi, kira-kira dong kalau ngasih serangan. Sedikit saja aku teledor, bisa luka parah jika terkena serangan ganasmu!" tegur Albert kesal pada Sabir.


"Hehe swori, bebs. Keenakan sampai lupa kalau lawanku masih sahabat sendiri, hehehe." Sabir menjulurkan lidah tanpa dosa.


"Enak aja manggil, bebs. Kau kira aku penyuka terong?. Noh sama Vano atau Huri aja!" sungut Albert.


"Yaelah si wajah dingin masih ada sisa juga ternyata. Seriusan banget sih, ga bisa diajak becanda!" sembur Sabir tak suka jika ia divonis pria melambai oleh Albert.


Mereka terus berlatih dengan penuh semangat hingga tak terasa sudah 2 jam berada di ruang hampa.


"Kita kembali ke vila dulu. Kasihan Via sudah menunggu 2 harj sendirian," ucap Albert.


"2 Jam kan. Masih sebentar ini," potong Vano tak ingin kesenangannya disudahi.


"2 Jam di ruang hampa sebanding dengan 2 hari di dunia nyata," tandas Albert yang spontan membuat ketika temannya tercengang.


"Silvana, tampilkan status sistem!"


[Ok siap]


--


FLIP-FLOPS SYSTEM


Ver. 1.00 🔛


📦📦📦📦📦📦📦📦


Inventory 1331 FF, Pedang White Dove

__ADS_1


Saldo Rp. 106.500.000


Power : 14%


Basic : Kingkong Perak 4


Aura : Biru 4


Support : Kloning Dewa guru tingkat rendah


Bonus : Deposito Rp. 57.000.000


🔚


end.


--


"Eh eh sebentar. Apa kamu tidak salah ketik, Silva?. Bukannya terakhir sebelum keluar dari ruang hampa Basic-ku masih Lembu hitam 1 dan aura hijau 1?!"


[Kegiatan positif apapun yang Kakak lakukan akan menghasilkan reward. Setelah 2 jam melatih mereka, kemampuan Kakak juga akan ikut meningkat]


"Waahhh, asyik bener dong. Eh trus itu Kloning Dewa guru tingkat rendah, apaan tuh?"


[Karena Kakak melatih mereka dengan mandiri tanpa bantuan Silvana, maka sistem menghadiahi sebuah tubuh kloning. Lebih mudahnya adalah Kakak mendapatkan hadiah copy-an tubuh bawaan Dewa guru tahap rendah, yang bisa digunakan Kakak saat bertempur. Jadi selain bisa menyalin kemampuan pemilik sandal jepit, Kakak sekarang memiliki 1 fasilitas baru yakni bisa menyalin kemampuan Dewa guru tahap rendah. Dewa guru adalah salah satu dewa yang tugasnya melatih generasi muda penerus para dewa.]


"Silvanaaaa..aku makin jatuh cintrong sama kamu!!" mata Albert berbinar bahagia.


[Helleh, gomballl!!]


Usai sejenak berbicara dengan Silvana, Albert membawa 3 kawannya kembali ke hutan kecil di belakang vila.


Sambil berjalan beriring, Albert menjelaskan peningkatan kultivasi yang berhasil diraih ketiga temannya, "Sebelum berangkat ke ruang hampa, kalian hanyalah manusia biasa. Namun sepulang dari ruang hampa, kini kultivasi kalian pada tahap Angsa putih level 3, dengan aura kuning level 3." terang Albert.

__ADS_1


"Wow, fantastis, spektakuler, bombastis, dahsyat pake banget!" Sabir kegirangan, setali tiga uang dengan Vano dan Huri yang juga merasakan seperti itu.


..._-_-_...


__ADS_2