
Dua gelas teh manis hangat diletakkan Shinta diatas meja, tepat didepan Albert duduk. Dengan santai Shinta menghempaskan dirinya untuk duduk disamping saudara angkatnya tersebut. Aroma wangi shampoo berpadu parfum wangi segera menyeruak dan menggelitik indera penciuman Albert.
"Bagaimana kabarmu sejak berkuliah?. Apa kau aktif berkomunikasi dengan Papa?. Kenapa kau jarang sekali menghubungiku?" Shinta memberondong Albert dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
"Pertanyaan Kakak terlalu cepat dan banyak. Aku harus jawab yang mana?" Albert melirik gadis cantik disampingnya.
"Ceritakan saja semuanya, aku akan mendengarkannya," Shinta memilih untuk menjadi pendengar setia untuk sejenak melepas kerinduan setelah sekian lama mereka tidak saling berbicara berdua seperti dulu kala.
"Aku kuliah sesuai jurusan yang diinginkan tuan Billy. Sejauh ini lancar-lancar saja," ucap Albert menutupi tentang kacaunya kehidupan perkuliahan akibat sibuk mengurus sandal jepit dan rentetan masalah yang berkaitan dengan hal tersebut.
"Setiap awal bulan Tuan Billy selalu menelepon untuk mengabarkan pengiriman uang kuliah dan mendengarkan laporan hasil belajarku. Jadi bisa dibilang kami rutin berkomunikasi. Tapi maafkan aku, Kak. Karena kesibukanku membuatku lupa untuk menghubungimu.." lanjut Albert.
Shinta tersenyum manis, "Selama kau sehat, baik-baik saja, dan kuliahmu lancar, maka aku tak akan kecewa meski kau tak pernah menghubungiku!" hibur Shinta membesarkan hati Albert.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan Kakak?. Seharusnya Kakak tak perlu merantau kesini jika hanya untuk bekerja. Perusahaan Tuan Billy bisa dibilang jauh dari kata cukup untuk sekedar menampung ke tiga anak Tuan Billy bekerja. Kakak ini aneh, anak CEO kok kerja ditempat orang lain!" Albert menatap Shinta dengan heran.
"Aku ingin mandiri dan mencari pengalaman sendiri. Dengan bekerja di perusahaan Papa, aku hanya akan menjadi pemalas yang selalu bersandar pada punggung Papa," Shinta menghela napasnya.
Wajah Albert masih terlihat bingung, "Itu bukan bersandar, tapi Tuan Billy sedang mempersiapkan putra-putrinya menjadi calon penerus perusahaan!" tegas Albert mencoba meluruskan pemahaman Shinta yang sepertinya salah.
"Hahaha, kau salah, Dek. Semua dipersiapkan Papa untukmu, kau calon CEO-nya. Bagaimanapun juga kami bertiga hanyalah wanita. Kami memang dididik sejak dini, tapi itu untuk membantu pekerjaanmu kelak!" Shinta tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Tentu saja hal tersebut membuat Albert terkejut setengah mati, "Ti-tidak, Kak. Aku ini siapa?. Tidak pantas bagiku menerimanya!" tampik Albert.
Shinta menggeleng, "Kau sekali lagi salah. Sejak dulu Papa menyayangimu. Dan apapun yang menjadi pilihan Papa, maka kami akan selalu mendukungnya!"
"Tapi aku tak pantas!" Albert bersikeras.
Albert merasa, dia hanyalah anak pembantu yang dipungut Tuan Billy karena hidup sebatang kara. Bisa sekolah dan kini berkuliah saja sudah membuat Albert bersyukur. Tak sedikitpun terlintas dalam pikiran Albert untuk bertindak tak sopan dengan mengincar posisi pekerjaan di perusahaan Tuan Billy.
Shinta meraih wajah Albert dan menangkupkan kedua telapak tangan pada pipi pemuda tersebut, "Jika kau merasa tak pantas karena kau anak pembantu, maka jadilah menantu agar membuatmu pantas!"
"Ma-maksud Kak Shinta?" Albert tergagap.
Tak menjawab pertanyaan Albert, justru Shinta dengan cepat menyambar bibir Albert. Pagutan dan permainan lidah Shinta menyeruak menerobos rongga mulut Albert tanpa bisa dicegah.
Sejenak pikiran Albert menjadi buntu dan hanya mengandalkan hasratnya untuk menjawab perlakuan Shinta. Tak menunggu lama, kini Albert berusaha mengimbangi. Pertautan bibir dan kecipak saliva mewarnai persuaan dua rekah bibir yang beradu padu.
Sekian menit Albert baru sadar jika apa yang dia lakukan adalah salah. Hal ini persis seperti saat 'menangani' Via diawal mula dulu. Albert sejenak merasakan de javu pada kondisi yang sama, yang membedakan hanya personalnya.
Dengan segala kesadarannya yang terkumpul, Albert mendorong bahu Shinta menjauh, "Kita tak selayaknya begini, Kak!" ucap Albert berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri yang begitu cepat bertalu seperti dentum suara lesung tertumbuk alu.
"Kau akan layak jika posisinya berubah menjadi menantu. Maka, jadilah pendampingku.." mata Shinta menatap sendu.
__ADS_1
"Kak, apa kau baik-baik saja?!" Albert merasa heran dengan perubahan yang terjadi pada Shinta.
"Aku tentu baik-baik saja. Yang tidak baik-baik saja adalah hatiku. Sejak lama kutelah menyimpan rasa ini. Bahkan aku takut jika Dek Belia dan Kak April mengetahuinya. Aku takut mereka mendahuluiku untuk mendapatkanmu. Aku sayang kamu, kumencintaimu, Alberto Bara!"
DUERRR
Petir menggelegar jauh didasar lubuk hati Albert. Perasaan Shinta memang tak bisa disalahkan. Mereka juga bukan saudara sedarah yang patut dirisaukan. Meski Albert memuja kecantikan ketiga bidadari putri Tuan Billy, namun ia selalu tahu diri dan paham posisi.
Realita tak dapat dipungkiri, sejak Ibunya menghilang, Shinta-lah wanita berikutnya yang telah mengisi hati dan hari Albert. Albert menemukan kenyamanan disana. Hingga beberapa tahun kemudian Via menggantikannya.
"A-aku..aa-ku," Albert gundah, tak tahu dengan problematika hatinya.
Kini wajah cantik Shinta bersandar lembut di dada Albert hingga gadis tersebut mampu mendengar genderang perang yang ditabuh dalam dada pemuda disisinya, "aku tahu ini tak mudah bagimu. Tapi ijinkan aku memiliki porsi tersendiri dihatimu. Ijinkan aku untuk lebih dekat denganmu," lembut suara Shinta bagai sebuah mantra yang menghipnotis Albert yang dengan patuh hanya bisa mengangguk dengan tatapan kosong.
Kali ini Silvana hanya bisa menyimak dalam diam. Ia yang notabene telah bersemayam dalam jiwa Albert, bisa merasakan betapa pemuda tersebut haus akan kasih sayang. Keberadaan Via dan Shinta secara tak langsung telah mengisi ruang kosong yang sebelumnya begitu gersang meradang. Silvana tak sampai hati menyalahkan Albert. Masa lalu pemuda tersebut terlalu kelam. Bahkan Silvana, dengan statusnya yang hanya disebut pacar online, kini juga bertekad ingin membahagiakan Tuan-nya tersebut. Mengisi sisi rapuhnya dengan hamparan taman bunga nan indah, meski begitu maya dan imaji.
"Ini tentunya rumit bagimu. Sebaiknya kita menyimpan rapat-rapat hubungan ini sampai kau siap untuk diketahui umum. Aku setia menunggumu kelak dengan status menjadi suamiku!" tandas Shinta yang justru membuat Albert semakin pusing tujuh keliling.
"Ta-tapi, Kak. A-aku su-sudah.."
"Ssstt..jangan diteruskan. Biarkan aku tetap bersandar disini," bisik Shinta pelan.
__ADS_1
Shinta tak mau lagi mendengar penolakan dari Albert. Shinta tak mau lagi melihat Albert menderita karena hidup dalam kekosongan jiwa. Yang ia mau hanya ingin melihat Albert bahagia, kini dan selamanya.
..._-_-_...