Flip-flops System

Flip-flops System
58. Salah mencari lawan


__ADS_3

"Bagaimana jika kita besok pagi terbang ke kota Suretown untuk memberikan kejutan pada Kak Cintya?" usul Via.


"Ada-ada saja. Aku masih harus banyak melakukan rapat koordinasi dengan Gold Wings terkait rencana menyerang Hellfire. Lain kali saja kita ke Suretown!" tolak Albert yang tak ingin terganggu urusannya.


"Hanya sebentar saja. Kalau perlu kita gunakan jet pribadi agar lancar pulang-pergi. Cukup datang, memberikan kabar gembira pada Kak Cintya tentang hubungan kita bertiga, kemudian segera kembali ke sini lagi. Sesimpel itu, sayang. Ayolah.." pinta Via seolah dia yang paling membutuhkan perjalanan tersebut, walau seharusnya justru lebih terluka jika melihat Albert mendua didepan mata.


"Haisst..kenapa malah kamu yang paling getol?. Heran deh, punya pesaing bukannya sensi, eh malah gembira ria!" keluh Albert frustasi melihat Via.


"Dia bukan pesaing, dia adalah saudariku. Tak ada yang boleh merendahkan posisinya!" ujar Via membela Shinta, kompetitornya sendiri.


"Terserah!" balas Albert karena tak tahu harus berkata apa lagi.


Angin pantai yang berhembus sesekali menerbangkan rambut panjang Via yang seolah seperti gadis shampoo dengan rambut yang berkibar-kibar.


Albert berdiri dari duduknya, "Kalau begitu sebaiknya kita segera kembali ke rumah untuk beristirahat dan mempersiapkan rencana untuk besok berangkat!" ajak Albert.


"Baiklah, ayo sayang." Via ikut berdiri, kemudian menggamit mesra pergelangan tangan kekasihnya.


Baru beberapa langkah mereka menyusuri tepian pantai menuju area parkir mobil, langkah mereka terhenti. Berdiri didepan mereka 7 orang berwajah seram dan kulit penuh tato.


"Sepasang kekasih, mau kemana?. Serahkan gadis cantik ini pada kami, maka kau akan kubebaskan untuk pergi!" ucap seorang pria mewakili teman-temannya.


Nampaknya mereka adalah kawanan preman yang menguasai daerah wisata pantai tersebut. Hal itu terbukti saat beberapa pedagang yang melihatnya justru memalingkan muka dan pura-pura tak melihat kejadian. Sore menjelang petang seperti itu adalah saat yang tepat bagi kawanan preman untuk mendapatkan mangsa. Kondisi pengunjung yang mulai sepi dan temaram lampu senja yang belum terlalu maksimal akan lebih memudahkan para preman melancarkan aksi.


"Apa mau kalian?" bentak Albert.


"Oh oh oh, galak betul kau, Bro. Biarkan kami memberikan kesenangan duniawi untuk kekasihmu itu. Dengan tubuh cungkringmu, kurasa dia tak akan bisa puas, hahaha.." para preman terbahak setelah menghina Albert.


"Ok ok. Fine. Sekarang mari kita bertaruh. Aku akan sedikit menjauh. Silahkan kalian mendekati kekasihku. Boleh satu persatu ataupun serempak. Jika kalian mampu meraihnya dalam pelukan, maka kalian boleh memilikinya. Namun jika tak ada satupun yang bisa meraihnya, maka kalian harus tunduk dan menjadi anak buahku. Bagaimana?" Albert memberikan penawaran.

__ADS_1


"Semudah itu?!. Kau terlalu polos, Bro!" ledek preman lainnya.


Awalnya Via merasa kesal karena Albert dengan santai memberikannya sebagai umpan. Namun detik berikutnya Via justru tersentak tatkala Albert mampu mengirim telepati melalui bisikan dalam dirinya.


"Tenangkan, Honey. Apa kau tak ingin mencoba kemampuan aura yang pernah kau miliki saat di ruang hampa?. Yakinlah kau akan aman. Jika terjadi hal buruk hingga kau merasa terdesak, aku akan mengirimkan tenaga tak kasat mata ke dalam tubuhmu sebagai bantuan!" bisik telepati Albert pada Via.


Sebenarnya tak hanya Via, Albert pun sempat terkejut mendapati kemampuannya yang bisa melakukan telepati. Itu adalah salah satu kelebihan kloning Dewa guru tingkat puncak yang tak pernah dicoba oleh Albert.


Dengan penuh keyakinan Via mengangguk ke arah Albert yang kini telah mundur sekitar 10 langkah dibelakang Via.


"Apalagi yang kalian tunggu?. Bersegeralah!" teriak Albert tak sabar melihat para preman yang justru saling dorong sesamanya karena tak berani menjadi orang pertama yang mendekati Via. Secara sadar mereka paham bahwa Via tentu memiliki kelebihan tersendiri sehingga Albert dengan enteng seolah merelakan.


Karena tak ada yang berani maju, akhirnya pria yang tadi pertama berbicara dengan Albert akan mengambil kesempatannya. Nampaknya, ia adalah pimpinan dari kawanan tersebut.


Baru berjalan 2 langkah, dia kembali mundur, "Ada apa lagi??!!" Albert berteriak semakin tak sabar.


"Semua bergerak serempak, kepung gadis itu. Majuuu!!" teriak pemimpin preman memberikan komando.


"Arghh!!!" tak menunggu lebih lama, serempak mereka membuang tubuh untuk menjauh dari Via.


Semua berjatuhan karena terpaksa membetot sengatan listrik yang seolah menyedot aliran darah mereka.


Wajah mereka terkesiap memandang Albert dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tanpa diduga, pimpinan preman berlari ke arah Albert untuk melakukan serangan. Tapi sayang, Albert terlalu hebat untuk para preman tersebut. Hanya menggunakan tatapannya saja, pemimpin preman terangkat ke udara, semakin tinggi hingga ia meraung-raung ketakutan.


"Turunkan aku..turunkannn!!" teriaknya ketakutan.


"As you wish!!" Albert tersenyum devil kemudian melepaskan pimpinan preman begitu saja.

__ADS_1


"Aaaahh!!!"


KRAKKK


Tubuh itu jatuh menghujam bumi dari ketinggian sekitar 20 meter. Satu kakinya seketika patah karena terpaksa digunakan sebagai tumpuan saat mendarat.


"Ampuni kami, Tuan!!" tanpa dikomando, 6 anggota preman segera menjatuhkan diri didepan Albert dengan wajah penuh ketakutan.


Bukan hanya para preman, beberapa pedagang yang sedang mencuri-curi lihat juga dibuat tercengang dan menghembuskan napas penuh kelegaan.


"Terimakasih, Den. Maaf jika kami tadi hanya diam. Selama ini kami semua dibawah ancaman mereka bertujuh jika berani ikut campur urusan mereka!" seorang pedagang memberanikan diri mendekati Albert.


"Kalian telah kalah bertaruh, tapi masih mencoba menyerang. Curang!" bentak Albert bengis.


"Arggh sakit. Ampuni kami, Tuan.." teriak pemimpin preman sambil mengaduh kesakitan akibat kakinya yang patah.


"Hahh. Baiklah. Kalian ikuti kami. Tenang saja, kami memiliki tim medis yang tak kalah hebat dibandingkan rumah sakit kelas internasional sekalipun. Segera bawa tubuhnya!" perintah Albert.


Tak lama, mobil mereka terlihat beriring meninggalkan area pantai menuju markas Gold Wings.


"Apa yang akan kau lakukan pada mereka, sayang?" tanya Via dengan tubuh yang masih gemetaran.


"Mereka preman liar. Akan bermanfaat jika kita rekrut dan menyelundupkan ke tubuh Hellfire tanpa menimbulkan kecurigaan berlebih dari pihak lawan hehe," Albert terkekeh senang.


"Terkadang aku jadi sulit mengikuti jalan pikiranmu, sayang. Begitu terstruktur dan konstruktif!" Via hanya bisa menggeleng.


"Kau tak perlu sibuk memikirkannya. Kamu hanya perlu patuh dan menuruti semua ucapanku. Biarkan aku yang berpikir!" lanjut Albert.


"Kulihat tadi samar-samar dari tubuhmu mengeluarkan aura berwarna hitam pekat. Apakah kemampuanmu telah meningkat lagi, sayang?" tanya Via penasaran.

__ADS_1


"Yah begitulah. Kita akan membicarakannya nanti jika sedang senggang. Sebaiknya sekarang biarkan aku fokus mengemudikan mobil dahulu!" ujar Albert lirih.


..._-_-_...


__ADS_2