
Sudah 3 hari berlalu sejak Albert, Via, dan ketiga temannya mengungsi ke vila kaki gunung. Hari ini adalah hari ke 4, atau 3 hari lagi sebelum mereka kembali ke kota.
"Hallo Bang Yoga. Bagaimana kondisi disana?" Albert menghubungi Yoga sebagai ketua The Frogs.
"Kondisi rumah Kak Via masih kondusif. The Frogs dan King Cobra secara rutin terus berkumpul disini untuk mengaburkan situasi," terang Yoga dari seberang telepon.
"Baguslah, Bang. Aku ikut senang." Sambut Albert ceria.
"Tapi ada sedikit berita yang mengkhawatirkan. Salah satu mata-mataku yang berada di tubuh geng Maniac sempat mendengarkan obrolan Anggara bersama beberapa bawahannya. Anggara sedikit curiga karena selama 4 hari ini dia tak melihat Kak Via maupun kamu keluar-masuk rumah. Aku khawatir Anggara segera memahami situasi dan akan menyerang kami," ujar Yoga dengan suara yang sedikit bergetar.
"Hei, come on, Bang. The Frogs ditambah King Cobra bukanlah kaleng-kaleng. Si hebat Yoga dan Si kekar Heksa, apa kalian masih khawatir dengan serangan dari pihak lain?. Bukankah Abang sendiri yang bilang jika Anggara tak akan mudah gegabah dalam menyerang?. Lagipula, Anggara tidak akan berpikir untuk mengalami kerugian pasukan yang begitu banyak jika harus berhadapan dengan 2 geng sekaligus!" hibur Albert mencoba menenangkan Yoga.
"Tapi kalau beneran dia menyerang, habislah kita. Kekuatan Anggara dan beberapa komandan pasukannya, diatas rata-rata. Mereka para kultivator!" Yoga masih bergidik ngeri.
"Semoga saja tidak. Abang tunggulah kami kembali. Jika ada apa-apa, segera kabari aku!" pungkas Albert mengakhiri sambungan telepon.
Albert mengalihkan pandangan pada Via dan ketiga temannya, "Menu latihan kita hari ini masih sama dengan kemarin. Tapi kali ini aku akan mebawa Via ikut serta. Setidaknya dia harus sedikit memiliki kemampuan untuk melindungi diri dalam keadaan kritis kedepannya," terang Albert yang langsung dijawab anggukan cepat oleh ketiga sahabatnya.
Bagaimana tidak, tinggal di ruang hampa meski hanya 1-2 jam sungguh seperti sebuah candu bagi Sabir, Vano, dan Huri. Apalagi mereka telah mendapatkan cincin ruang dari Albert. Dengan cincin tersebut, mereka bisa menyimpan senjata tanpa diketahui orang lain.
Bagi ketiganya, bisa kenal dan menjadi sahabat Albert adalah sebuah keberuntungan yang luar biasa, dimana untuk menjadi orang yang kuat dan hebat kini bukanlah angan semata.
Tanpa harus menuju ke hutan kecil di belakang vila, mereka bersiap untuk masuk kedalam ruang hampa. Via begitu excited saat tahu bahwa tempat mereka berlatih adalah sebuah ruang tak kasat mata. Via tak pernah berpikir jika Albert adalah seorang kultivator seperti Anggara. Dengan kemampuan yang dimiliki Albert, kini Via mulai merasa tenang.
Tiba di ruang hampa, Via dibuat takjub pada pemandangan alam yang ada di sana, "indah sekali.." mata Via yang bosan-bosannya memandang rerumputan yang terbentang luas dan daun-daun yang menghijau teduh.
[Akan percuma melatih kekasihmu itu]
"Kenapa emang?"
[Dia begitu lemah. Tak ada modal kemampuan fisik sama sekali. Pembuluh darahnya akan pecah, atau yang lebih parah adalah dia akan meledak jika dipaksakan kultivasi memasuki tubuh ringkih itu]
"Kok kamu sepertinya tidak suka dengan kehadiran Via disini. Cieee, cemburu ya?!"
[Percuma saja aku cemburu. Menangpun tetap tidak akan bertemu fisik. Jadi buat apa aku cemburu!]
"Terserah deh. Lalu apa solusi untuk Via?"
[Berendam diri di kolam air terjun. Jika tubuh murni berendam disana, maka aura akan muncul melindunginya sampai kapanpun]
__ADS_1
"Baiklah. Terimakasih, Silvana.." Albert menoleh pada Via.
"Honey, disana ada air terjun ajaib. Kamu tak perlu berlatih seperti yang lain. Cukup berendam beberapa saat disana, dan tubuhmu akan mendapatkan aura pelindung yang akan bertahan seumur hidup," terang Albert pada Via.
"Wah curang, kenapa kami tidak cukup berendam juga?" protes Vano.
"Apa kamu cewek?" sindir Albert sinis.
Vano dan yang lain hanya tersenyum kecut menanggapi kesinisan Albert. Sudah sering sekali seperti itu, niat becanda yang selalu dianggap serius oleh Albert.
"Oya satu lagi, sayang. Tak perlu buka baju. Cukup dengan pakaian lengkap saja berendamnya. Aku tak mau tubuhmu menjadi konsumsi mata lapar mereka!" desis Albert masih dengan nada jengkel.
"Beuh. jengkelnya kelewatan. Dasar pendendam!" bisik Huri pada kedua temannya tanpa terdengar oleh Albert.
[Kamu yang ngambekan, malah kemarin bilang aku yang suka ngambek]
"Siapa yang ngambek?!"
[Nah itu, gara-gara Vano ngomong curang saja kau bisa sejengkel itu]
"Dianya yang kelewatan!"
[Hallo Kakak. Apa tidak bisa bedakan mana candaan dan mana serius?. Logikanya begini, Vano itu sahabatmu yang paling suka belajar beladiri, lalu apa mungkin dia malas berlatih dan hanya memilih berendam di air terjun?]
[Makanya, jadi cowok jangan terlalu dingin dan baperan. Udah sana, ajak mereka berlatih!]
Vano dan yang lain diminta kembali oleh Albert untuk latih tanding. Mereka bertarung random 3 orang sekaligus. Albert juga mengarahkan Via untuk berendam di sisi kolam air terjun yang aman dari pandangan.
Albert kemudian sedikit menjauh dari semua orang untuk berkultivasi sendiri.
DARRR
DARR
Tak sampai 30 menit, terjadi ledakan energi dari tubuh Albert. Ia telah berhasil menembus beberapa kondisi sekaligus.
--
FLIP-FLOPS SYSTEM
__ADS_1
Ver. 1.00 🔛
📦📦📦📦📦📦📦📦
Inventory 1331 FF, Pedang Rajawali emas 1
Saldo Rp. 106.500.000
Power : 20%
Basic : Rajawali emas 1
Aura : Merah 1
Support : Kloning Dewa guru tingkat menengah
Bonus : Deposito Rp. 57.000.000
🔚
end.
--
Albert sudah tak lagi terkejut pada perubahan status sistem. Ia mulai terbiasa menerima kejutan demi kejutan yang diberikan Silvana. Albert lebih sibuk membersihkan darah kotor yang keluar dari pori-pori tubuh sebagai bentuk detoksifikasi karena pengaruh peningkatan kemampuan diri.
"Basic Rajawali emas level 1, Aura merah level 1. Kau begitu menawan, bro!" Vano dan yang lain termasuk Via datang menghampiri Albert yang masih sibuk membersihkan diri.
Dengan adanya kemampuan kultivasi pada diri para sahabatnya, kini mereka juga memiliki kemampuan mendeteksi energi kultivator lain.
Beralih pada diri Via, meski Basic tidak berkembang pada tubuhnya, namun ia telah memiliki aura putih level 3 sebagai hasil dari berendam di kolam air terjun.
"Kalian semua hebat. Terkhusus Albert-kuh, kau luar biasa!" Via memandang Albert dan yang lainnya dengan tatapan bangga.
[Sampai pada tahap ini, kalian sudah dianggap mampu untuk terjun menghadapi Anggara dan pasukannya. Masih tersisa 2 hari sebelum kembali ke kota. Beristirahatlah di vila untuk sejenak refreshing setelah 5 hari yang cukup melelahkan]
"Setinggi apa kemampuan Anggara itu?"
[Aku belum bisa memastikan. Namun dari segi usia dan durasi kultivasi di dunia nyata, aku perkirakan dia tak akan lebih dari tahap kingkong perak]
__ADS_1
"Baiklah. Ayo kita kembali ke vila!" ajak Albert pada kesemuanya.
..._-_-_...