
"Kita akan mengawali penyerangan dari pilar timur sesuai apa yang disampaikan Libra yakni berada di kota Suretown. Meski Libra dalam kondisi cedera kaki, dia akan ikut kesana sebagai penunjuk arah dan tidak ikut bertarung. Sabir akan mendampingi Heksa yang sudah berada disana, ditambah anggota dibawah Heksa yang juga sudah berada disana. Aku dan Via akan ikut karena aku perlu memastikan komposisi kekuatan mereka di serangan edisi perdana ini, juga sekaligus mengunjungi Tuan Billy dan Kak Shinta untuk kepentingan bisnis," terang Albert.
Sebenarnya, serangan perdana dengan lokasi di kota Suretown bukanlah suatu yang sulit bagi Gold Wings. Keberadaan Heksa sebagai asisten Shinta yang menggerakkan perusahaan BILLY CORPS, ditambah markas cabang Gold Wings yang juga dikomandani oleh Heksa di kota Suretown sudah lebih dari cukup untuk menaklukkan pilar timur Hellfire. Hanya saja, Albert sengaja menambahkan Sabir sebagai bentuk antisipasi jikalau kemampuan kultivasi pilar timur melebihi Heksa. Dengan perpaduan antara Heksa dan Sabir akan mampu menutupi celah kesenjangan jarak kultivasi, itupun jika seandainya lawan memiliki kemampuan lebih. Namun jika ternyata masih dibawah atau setara dengan Heksa, maka posisi Sabir adalah sebagai tonggak kemenangan Gold Wings timur.
Mendekati tengah hari, Albert, Via, Sabir, Libra, dan 2 orang bawahan Libra sudah mulai meniti tangga jet pribadi yang akan membawa mereka terbang menuju kota Suretown. Albert sengaja menggunakan jet pribadi untuk efisiensi waktu sekaligus menghindari pengamatan dari pihak lawan.
Via menghempaskan buah pantat sekalnya ke atas kursi pesawat dengan penuh keriangan, "Asyik. Akhirnya dapat juga kesempatan untuk bertemu Kak Cintya hehehe," ujarnya ceria.
Albert yang duduk di sebelahnya hanya bisa menggeleng lemah melihat antusiasme kekasih hati yang begitu bergembira karena akan bertemu kompetitornya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?!. Begitu bersemangat untuk memaksaku menduakan cintaku, haiyahh.." keluh Albert parau.
"Ck, Apa kabarnya saat kau menduakan cinta secara sembunyi-sembunyi dengan Kak Cintya waktu itu?. Kenapa saat sekarang aku legowo mempersilahkan, justru kamu yang pusing?! cebik Via.
"Ya itu, A-aanu.." Albert tergagap.
"Itu itu anu anu apa?, anumu gatel dan minta dua surga sekaligus?" potong Via semakin membuat Albert bingung harus menanggapi apa.
"Ya bukan gitu juga. Aduh gimana aku harus menjelaskan??!! Astaga!!" Albert memijit kening.
"Tak perlu dijelaskan, cukup dinikahi saja dua-duanya, selesai urusan!!" lanjut Via masih dengan gaya judesnya.
"Ka-kalian sama-sama memiliki ruang spesial dihatiku. Aku tak bermaksud selingkuh. Hanya saja aku takut membuat Kak Shinta kecewa.
"Tapi membiarkanku kecewa?!" Via terus menyerang.
"Aduh, bukan begitu. Aku tak ingin kalian berdua kecewa!" Albert semakin pening.
"Ya udah, bener aku kan kesimpulannya?, nikahi kami berdua!" Via masih saja ngotot dengan argumentasinya.
"Terserah," tukas Albert singkat fengan menampilkan wajah buruk.
__ADS_1
"Heleh, jawabnya terserah. Ya iya lah terserah, orang dapet dua surga sekaligus ya pasti jawab terserah alias mau mau mauu!!" cibir Via sadis.
"Kamu itu kenapa sih?. Dituruti salah, ga dituruti salah. Sejak kita membahas Kak Shinta, kau sangat berubah tidak seperti dulu lagi!" bentak Albert frustasi hingga mengagetkan Sabir dan yang lainnya.
"Semuanya berubah ya karena kamu sendiri. Jangan suka bermain api jika takut panas dan terbakar!" balas Via tak kalah garang.
"Maaf, sebaiknya kalian menyelesaikannya ditempat yang lebih privasi. Tidak baik bertengkar didepan umum seperti ini!" tegur Sabir namun dengan cepat dipotong..
"Diamm!!!" teriak Albert dan Via serempak dengan menunjukkan tatapan tajam ke arah Sabir.
"Tahu rasa kau komandan, kena sembur juga sama si bos hehe," goda Libra.
"Diammm!!!" bentak Sabir pada Libra yang justru membuat semua terpingkal.
"Perhatian untuk semua, pesawat akan segera mendarat dalam beberapa menit kedepan." Terdengar suara kapten pilot melalui speaker.
Semua kembali duduk dan mengencangkan sabuk pengaman masing-masing.
"Claraaa...!!" terdengar suara gadis yang tak asing bagi Albert dan Via saat mereka baru keluar dari area lapangan udara.
"Kak Cintya..." wajah Via yang ditekuk sejak berada dalam pesawat mendadak berubah kembali ceria saat melihat gadis cantik mon-tok yang notabene adalah Kakak angkat Albert tersebut.
Saat Via dan Shinta asyik bercipika-cipiki, justru Albert kini yang merasa canggung pada keduanya. Kondisi yang sulit ditengah dua gadis cantik.
"Dek, gimana kabarmu?" sapa Shinta memecah kecanggungan yang dirasakan Albert.
"Tak perlu panggil Dek segala. Sudah waktunya dipanggil Sayang. Tak perlu sungkan," sindir Via yang seketika membuat Shinta dan Albert tertunduk malu.
Sebenarnya Via tak bermaksud untuk membuat Shinta maupun Albert malu. Hanya saja ia berniat meluapkan semua ganjalan yang ada agar kedepannya lebih plong. Adapun kesediaannya untuk menerima Shinta sebagai pendamping Albert lainnya memang adalah ketulusan hati Via. Setidaknya, ia bisa menumpahkan segala beban hatinya terlebih dahulu sebelum kemudian bergandeng ceria bersama Shinta.
"Tak perlu tersipu malu. Nanti akan kujelaskan semua setelah tiba di rumahmu, Kak!" lanjut Via sambil melenggang pergi menyeret koper tropi menuju area parkir mobil.
__ADS_1
Heksa yang melihat semua itu hanya bisa menepuk pundak Albert agar sedikit tenang.
"Setelah ini kita berdua perlu bicara empat mata!" bisik Heksa disamping telinga Albert, kemudian melangkah menghampiri mobil yang sudah dipersiapkan.
Wajah Albert yang seharusnya nampak berwibawa dihadapan Libra dan anggota geng lainnya, justru kini terlihat kuyu sarat dengan beban pikiran yang menggelayut.
"Tetap semangat, Bos. Jangan gentar menghadapi kerumitan wanita. Jika kau tak sanggup, lepaskan saja dua-duanya, caro yang lain, jangan bikin diri sendiri pusing.." kini giliran Libra membisikkan mantra sakti ke telinga Albert.
Meski Albert paham akan maksud dari perkataan Libra, namun ia memilih untuk memelototkan mata ke arah Libra sebagai bentuk pertahanan atas harga diri. Namun namanya mantan preman jelas masih songong saja tanpa peduli pada pelototan Albert.
"Begitulah cinta, deritanya tiada akhir. Pergi ke barat mencari kitab kitab suci.."
BRAKK
"Adohhh, Boss!!"
Dengan penuh kekesalan Albert menendang tongkat penyangga tubuh Libra hingga pria dengan cacat kaki tersebut terjengkang tanpa bisa dicegah lagi.
"Jangan banyak omong kamu!!" sentak Albert bengis.
"Ini bentuk perhatian dan kasih sayangku padamu, Boss!! balas Libra sambil mengelus tulang keringnya yang senut-senut.
"Ish, itu para cowok lagi ngapain. Dasar Albert!!" dengus Via memandang Albert dan Libra dengan penuh kekesalan.
"Kenapa mereka, Cla?" tanya Shinta ingin tahu.
"Ck, biarin aja, paling-paling epilepsinya lagi kumat!" cebik Via asal.
"Albert punya epilepsi?, atau temannya itu yang epilepsi?" Shinta semakin ingin tahu.
"Sudahlah, Kak. Ga penting banget ngurus mereka. Cowok emang suka gitu. Ototnya aja yang didahulukan, giliran perasaan di nomer terakhirkan!" tukas Via kemudian langsung memasuki mobil yang sudah dibuka oleh Heksa.
__ADS_1
..._-_-_...