Flip-flops System

Flip-flops System
42. Hancurkan saja mulutnya


__ADS_3

"Tapi saya menjadi tidak enak Om, jika hanya memakai rumah tersebut tanpa membelinya," tatap Albert ke arah Gora.


"Kebanyakan orang jika diberikan rumah itu senang, bahkan mereka berlomba-lomba mencari gratisan. Baru kali ini aku bertemu orang yang menolak diberi rumah. Oh baiklah, jika kau tak ingin merasa terbebani. Begini saja, karena kau akan bekerja bersama Clara juga, maka anggap saja itu sebagai modal. Kau bisa menghitung angka bagi hasil yang sesuai," Gora tak habis pikir dengan kemauan Albert.


"Begitu lebih baik, Om." Albert setuju.


Satu diantara dua hal yang menjadi pikiran Albert telah teratasi. Untuk rumah tersebut, Albert dapat menghemat biaya karena usulan Gora. Tersisa satu kendala lagi terkait praktek nyata penerapan pengelolaan perusahaan.


"Mengenai latihan pengelolaan perusahaan, kalian bebas untuk belajar disini. Fokuskan pada poin Managerial, Administrasi, dan Keuangan. Selebihnya dapat kalian benahi sendiri sesuai kebutuhan perusahaan," imbuh Gora yang semakin membuat pasangan Via dan Albert beserta ketiga temannya senang.


"Terimakasih, Om. Terimakasih atas segalanya. Kami sangat terbantu oleh solusi yang diberikan," ujar Albert dengan wajah penuh kegembiraan yang tak mampu ia sembunyikan lagi.


Gora berpura-pura menatap tajam pada Albert, "Awas saja jika kau permainkan putriku!" ancam Gora namun dengan diiringi seutas senyuman.


"Tuh dengerin apa kata Om Gora. Jangan macam-macam!" sambar Huri sok ikut menasehati.


Semua tertawa melihat Albert yang langsung salah tingkah gara-gara ancaman dari Gora meski sebenarnya itu hanya candaan. Begitulah Albert, ia selalu menanggapi semuanya dengan serius. Bagaimana tidak serius?, dia jelas bingung dengan nasib Shinta. Kata pembaca ada yang menyebut Albert itu kadal, ada yang menyebutnya buaya, tapi Author lebih suka menyebutnya kambing, Haha.


"Ada asistenku yang akan mengarahkan dan mendampingi kalian untuk berlatih pengelolaan perusahaan. Hanya saja hari ini dia ijin sakit, jadi mungkin besok kalian baru bisa melakukan kegiatan. Sambil menunggu, Clara, ajak Albert dan teman-temannya untuk singgah ke rumah. Mama-mu juga tentu ingin kenal dengan pemuda tampan ini," ucap Gora melanjutkan pembicaraan.


"Baik, Pa. Kalau begitu Clara pamit. Ayo sayang," Via mengangguk patuh kemudian menggamit mesra tangan Albert.


"Baiklah jika demikian, Om. Sebelumnya saya mewakili teman-teman mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan yang diberikan," ujar Albert tulus.


"Jangan kau pikirkan. Dulu, saat aku muda juga pernah ditolong oleh seorang sahabat sehingga sekarang bisa cukup mapan seperti ini. Maka, akan kulakukan hal serupa padamu. Nyatanya, berbuat baik itu sungguh terasa manis dan menyenangkan," jawab Gora tak kalah tulus.


Mengisi kekosongan waktu hari itu, Albert bertandang ke rumah Via sekaligus ingin mengenal calon ibu mertua hehe.


Tanpa menunda waktu, mereka segera tancap gas menuju rumah Via.


[Status sistem dibuka]

__ADS_1


--


FLIP-FLOPS SYSTEM


Ver. 1.00 🔛


📦📦📦📦📦📦📦📦


Inventory 1678 FF, Pedang Rajawali emas 1


Saldo Rp. 1.553.000.000


Power : 26%


Basic : Rajawali emas 2


Aura : Merah 2


Bonus : Deposito Rp. 1.200.000.000


🔚


end.


--


[Bisa-bisanya Kakak menyempatkan diri mengutil persediaan sandal jepit karyawan ditengah kesibukan berbicara dengan Tuan Gora. Makin lama Kak Albert makin jago nih hunting sandal jepitnya!]


"Bukannya kau yang minta agar aku lebih giat dan tidak pemalas?"


[Hehe iya sih]

__ADS_1


"Aku harus banyak berburu sandal jepit agar segera bisa memiliki perusahaan!"


[Hebat ya Kakak. Sudah dapat kantor perusahaan gratis dari Bapaknya, dapat anaknya pula]


"Kau menyindirku?. Hahaha, Tuan Gora sendiri yang memaksa, aku bisa apa?!"


Sekian menit berselang, tibalah mereka disebuah rumah megah yang besarnya hampir 3 kali dari rumah tinggal Via didekat kampus orange.


"Eh sayangku Clara, kok pulang ga bilang-bilang sih?" Mama Clara yang bernama Claudia menyambut anak semata wayangnya yang tiba-tiba muncul di teras rumah.


"Maaf Ma, aku buru-buru tadi," jawab Via lembut.


"Ayo masuk dulu. Apa mereka para bodyguard yang dipesan Papa untukmu?" Claudia memandang Albert dan kawan-kawannya dengan tatapan merendahkan.


"Oh bukan, ini teman-teman kuliah Clara. Yang ini Albert, itu Vano, Sabir, dan itu Huri." Via memperkenalkan.


"Orang miskin ya?, kelihatan dari cara mereka berpakaian.." bisik Claudia namun masih bisa didengar oleh Albert dan ke empat temannya.


"Yaelah. Tidak di sinetron, tidak di novel, selalu saja ada pemeran wanita berhati singa!" desis Vano jengkel namun segera dibekap oleh Huri agar tidak terdengar oleh sang empunya rumah.


"Mamaa..jangan gitu ah, ga baik. Mereka orang-orang baik kok, Ma." Tegur Via tak suka.


"Jangan bilang kalau kamu berpacaran dengan salah satu dari mereka?!. Ishh.. amit-amit, bisa tetanus kamu nanti. Lagian, punya suami miskin buat apa???, paling-paling hanya akan mengandalkan pertolongan finansial dari Papa kamu!" cibir Claudia lagi.


"Thor, jangan kelewatan. Ini novel Sistem, action, kultivasi, perkelahian. Jangan pakai acara drama sinetron!!" kini giliran Sabir yang tidak betah mendengar mulut panas Claudia.


Mulusnya cinta, persetujuan Gora, namun belum tentu didukung Claudia. Hidup di dunia memang rumit, ingin senang terus seperti Nobitanya Doraemon, tetap saja menderita karena tidak pernah naik kelas 😆.


Namun Albert seperti tak terpengaruh sama sekali dengan perkataan Claudia. Albert bukan tipe orang yang suka ambil pusing. Sekali kesabarannya tak bisa bertahan, hancurkan saja mulutnya Claudia dengan tamparan seribu sandal jepit dari inventory.


..._-_-_...

__ADS_1


__ADS_2