Flip-flops System

Flip-flops System
30. Siap menyerang


__ADS_3

Mobil Van milik Via melesat cepat menuju pusat kota. Sengaja mereka meninggalkan mobil sedan mewah, dan mobil sport Via di vila kaki gunung. Dengan adanya sekuriti, ditambah keberadaan Singa di pekarangan belakang, sepertinya mereka tak perlu khawatir pada keamanan dua mobil tersebut. Lebih-lebih lapisan aura yang dipasang Albert untuk melindungi vila juga masih terpasang kuat disana. Jangankan orang yang berniat jahat, bahkan kucing yang berniat masuk untuk mencari tikuspun akan terhalangi.


Sebenarnya mudah saja jika mereka menggunakan ruang hampa untuk berpindah tempat ke kota. Tapi mereka masih membutuhkan mobil untuk alat transportasi disana.


"Tujuan kita adalah langsung datang ke kampus dan masuk ke markas King Cobra. Hanya di markas itulah yang paling kecil kemungkinannya untuk kita diamati oleh orang-orangnya geng Maniac," ucap Albert kepada Vano yang sedang mengemudikan kendaraan.


Memanfaatkan gudang bekas di kampus, geng King Cobra telah mengubahnya menjadi tempat pertemuan mereka kali ini. Mobil yang dikemudikan Vano dengan mulus langsung masuk ke dalam bangunan gudang.


"Akhirnya kalian datang," Yoga dan Heksa menyambut kedatangan Albert serta yang lainnya di sisi pintu mobil.


"Maaf telah merepotkan kalian, Bang!" ucap Albert sedikit berbasa-basi.


"Ah sudahlah. Bukankah sudah kubilang bahwa masalah kalian adalah masalah kita bersama?!. Bagaimanapun juga kita berada dalam satu tubuh kampus yang sama. Sebisa mungkin kita perlu saling membantu," Yoga menunjukkan dukungannya, diamini oleh Heksa dengan anggukan kepala.


"Apa rencanamu sekarang, bro?" tanya Heksa lebih lanjut.


Albert melangkah mengikuti Yoga dan Heksa yang memasuki sebuah kamar di dalam gudang tersebut, "Aku memerlukan informasi datang kekuatan lawan," ucap Albert mengambil satu kursi untuk duduk.


"Secara garis besar, pasukan Maniac berjumlah hampir 300 an orang. Didepan mereka berdiri 3 komandan pasukan yang mendapatkan instruksi langsung dari Anggara sebagai ketua," terang Yoga mengutarakan apa yang ia tahu.

__ADS_1


"Berapa jumlah pasukan kita?" lanjut Albert.


"The Frogs ditambah King Cobra, dan Gold Wings, semua berjumlah hampir 400 orang." Giliran Heksa angkat bicara.


"Diatas kertas, kita unggul jumlah." Ujar Albert menanggapi.


"Tapi tidak segamblang itu. Meski pasukan mereka lebih sedikit, namun kemampuan beladiri mereka cukup mumpuni. Kekuatan beladiri pasukan Maniac terorganisir dengan baik karena dilatih langsung oleh pentolan-pentolan yang menguasai kultivasi," imbuh Heksa sedikit meragukan kemampuan Albert yang menurutnya masih bau kencur.


"Untuk menghormati kalian, masalah kali ini, puncak pengaturan akan aku serahkan pada Bang Heksa dan Bang Yoga.." Albert memberikan penawaran, namun langsung dipotong oleh Yoga, "Oh tidak tidak. Ini adalah hajatmu. Jadi kami menunggu instruksimu!".


"Ok ok. Daripada menunda waktu, mari kita segera selesaikan ini. Aku tak ingin terjadi pertempuran besar yang akan menelan banyak korban. Jadi rencanaku, hanya aku dan ketiga temanku ini yang akan datang memberikan kejutan pada Anggara. Secepat mungkin akan kami selesai mereka. Tugas Abang berdua adalah memimpin pasukan dengan bersiaga penuh disekitar lokasi geng Maniac sebagai antisipasi jika pasukan mereka mengamuk. Aku titipkan keamanan Via pada kalian berdua," ucap Albert tenang.


"Kau yakin, bro?" tanya Heksa masih meragukan Albert.


"Jika Abang meragukan kami, maka bersiagalah disekitar kami sebagai antisipasi!" lanjut Albert berusaha menghargai keraguan Heksa.


"Jika kau melihat bagaimana dia melibas geng The Black Tiger seorang diri waktu itu, kau tak akan berkata seperti ini," ucap Yoga memberikan penekanan pada Heksa.


"Baiklah, terserah kau atur seperti apa. Aku hanya tak ingin kalian mati konyol," tandas Heksa dengan wajah tak suka karena Yoga terkesan mengelu-elukan sosok anak kemarin sore seperti Albert.

__ADS_1


Setelah beberapa jam mengatur pasukan, kini mobil Van milik Via sudah meluncur cepat menuju markas geng Maniac di bagian timur kota. Keadaan diuntungkan dengan posisi markas Maniac yang sedikit jauh dari pemukiman warga. Matkas tersebut berada di sisi jalam tol tanpa tetangga. Dengan demikian dapat diminimalisir keikutcampuran warga sekitar.


"Kalian gugup?" Albert memandang wajah ketiga sahabatnya.


"Sedikit," jawab Huri dan Vano.


"Lumayan," hanya Sabir yang terlihat paling grogi, karena inilah kali pertamanya ikut serta dalam sebuah pertempuran.


"Yakin dan percaya diri, tapi tidak sombong dan tinggi hati, Itu kuncinya. Bayangkan bagaimana kamu terluka parah waktu itu. Bayangkan bagaimana rumah Via hancur lebur karena ulah mereka. Pikirkan bagaimana mahasiswa kampus kita diremehkan begitu rupa oleh mahasiswa dari kampus mereka karena dianggap tak berkutik terhadap intimidasi geng Maniac. Pikirkan berapa banyak cewek dari kampus kita yang dipaksa menjadi kekasih orang-orang geng Maniac tanpa berani menolak, bahkan sebagian diantaranya harus rela menyerahkan kehormatannya!" ucap Albert memompa semangat.


"Aku gugup bukan karena mereka!" sambar Sabir tak mau direndahkan begitu saja.


"Lalu?"


"Bert, tega banget sih.." Sabir mendadak melow.


"Tega gimana?" Albert justru bingung.


"Sejak berangkat dari vila, apa ga mikir kalau kita belum makan?" cebik Sabir.

__ADS_1


"Yaelah, dodol!!"


..._-_-_...


__ADS_2