Flip-flops System

Flip-flops System
31. I'm win


__ADS_3

"Berhenti!!"


"Kalian cari siapa?"


Beberapa orang menghadang langkah Albert dan ketiga temannya saat memasuki area markas geng Maniac.


"Mana bos kalian?" ucap Albert datar.


"Bos kami tidak bisa menemui orang secara sembarangan. Katakan siapa kalian?" tolak seorang pria kekar menghalangi jalan.


"Brengsekk!!"


DASHHH


Dengan gusar Albert mengibaskan tangannya, pria kekar itu segera melayang jauh hingga menghantam dinding yang berjarak 7-8 meter dibelakangnya.


semua tercengang dengan kekuatan Albert, namun tidak bagi ketiga kawan Albert yang sudah mulai terbiasa menikmati pertunjukan kemampuan Albert.


Satu pria segera berlari masuk untuk melaporkan kejadian tersebut.


Dengan tatapan matanya, Albert segera membuat segel kekuatan untuk mereka berempat. Dengan adanya segel tersebut, kultivator lain tidak akan bisa mendeteksi kemampuan mereka.


"Ohh aku mengenal wajahmu, bedebah!" seorang pria didampingi 3 orang datang dari balik pintu ruangan dalam.


"Kau Anggara?" tanya Albert masih dengan suara datar.


"Tentu saja aku Anggara si hebat, pemuda terkuat di negara ini, atau bahkan mungkin di dunia ini, hahaha.." jawab Anggara pongah.


"Bagus. Bersiaplah!" tanpa banyak basa-basi, Albert mempersiapkan kuda-kudanya.


"Stop!!"


"Sebelum bisa berhadapan dengan bos, kau harus bisa mengalahkan kami dulu!" 3 pria komandan Maniac pasang badan.


"Cihh. Sebuah penghinaan jika bos kami harus menghadapi cecunguk remeh seperti kalian. Hadapi kami!" Vano, Sabir, dan Huri ikut maju.


"Hahahaha. Empat cowok culun tanpa kemampuan kultivasi ingin menantang kami. Yang benar saja!" Anggara semakin berlagak jumawa ketika mendeteksi kemampuan Albert Cs dan tak menemukan apapun.


Sabir tersenyum simpul. Dia yang biasanya paling penakut diantara ketiga temannya, kali ini tampil tegar dan berwibawa, "Bodoh!!. Berkoar-koar seolah tak ada langit diatas langit. Miris sekaleee!!" cibir Sabir memancing emosi lawan.


"Oh kau yang waktu itu bonyok ditangan kami saat di rumah Clara, Kan?" Anggara teringat sosok Sabir yang saat itu memang masih tanpa daya.


Dalam sekejap berhamburan pasukan Maniac dari berbagai penjuru dan mengepung Albert Cs.

__ADS_1


"Kalian semua mundur. Mereka menginginkan pertarungan gentle. Baik kuterima dengan sedikit malas, hahaha." Anggara masih saja berkata dengan sombongnya.


"Bagas, kau yang tampil duluan. Habisi cowok culun yang lemah itu!" Anggara memerintahkan satu anak buahnya yang bernama Bagas untuk menghadapi Sabir.


Reflek semua anggota pasukan segera membuat lingkaran manusia sebagai gelanggang pertarungan.


"White dove level 3, aura putih level 3. Cupu!!" batin Sabir mengamati kemampuan Bagas.


"Maju kau, bocil!" sentak Bagas ke arah Sabir.


"Kau takut?, ga berani maju duluan?" ejek Sabir pedas.


"Kurang ajarr!!. Hiaaah.." Bagas sudah hilang kesabarannya.


Komandan pertama dari Anggara tersebut merangsek maju dengan melancarkan tendangan dari udara dan mengarah tepat ke kepala Sabir. Namun Sabir yang sekarang bukanlah si lemah yang seperti dulu, dengan ringan Sabir menangkis tendangan tersebut.


BUKKK


Tendangan Bagas berbelok arah dan justru mengenai satu orang pasukan yang menjadi lingkaran hidup. Pria tersebut sepertinya manusia awam, ia terpental setelah kaki Bagas menghentak dadanya. Darah kental merembes dari bibirnya sebelum kemudian ia tak sadarkan diri.


"Wah, kakinya tak punya mata ya bos?" kembali Sabir mengejeknya.


"Keparatt!!" Bagas semakin kalap.


BLARRR


Lonjakan energi segera tercipta saat kepalan Sabir sengaja ia pertemukan dengan pukulan cahaya Bagas. Semua pasukan yang membentuk lingkaran tiba-tiba terlempar mundur akibat pertemuan dua energi tersebut.


"Semua, menjauhh!!" teriak Anggara tak ingin anak buahnya yang membentuk lingkaran menjadi korban pertarungan seperti sebelumnya.


"Ka-u. Ta-tak mungkin!" Bagas tergagap melihat cahaya kuning yang sekilas muncul saat kepalan Sabir melayang.


Tangan kanan Bagas berubah membiru memar seperti telah digebuki pria satu kampung. Sebaliknya Sabir justru cengengas-cengenges girang karena penampilan perdananya sukses besar. Bahkan tangan Sabir tak mengalami cedera sedikitpun.


"Ka-kau tak memiliki kekuatan. Ba-bagaimana mungkin..."


Tak bisa menerima kenyataan, Bagas mengambil sebilah samurai. Ia bermaksud ingin segera mengakhiri pertempuran menggunakan sabetan samurainya.


"Wew. Itu samurai atau asam-urat?. Jelek bener bentuknya!" goda Sabir ceria.


TAPP


TAPP

__ADS_1


ZLAPP


SLINGGG


Bagas tak ingin menunda waktu, ia melesat cepat dengan kemampuannya dan menyabet Sabir menggunakan samurai.


CLANGG


Beberapa detik berikutnya Bagas kembali tercengang. Entah darimana asalnya, tahu-tahu Sabir sudah menangkis sabetan samurai menggunakan sebuah nunchaku.


WUSSS


WUSSS


Sabir memainkan ruyung-nya dengan lincah.


WUKK


WUK


ZAPPP


CLANG


Kecepatan Sabir bergerak sungguh mengagetkan. Dalam beberapa gerakan saja Sabir telah berhasil menjatuhkan samurai dari genggaman Bagas.


DARRR


BAKK


BUKK


BUKKK


Gerakan Sabir berikutnya semakin membuat Bagas putus asa. Terjadi ledakan energi yang terpusat pada Nunchaku Sabir. Dengan benda yang menyala kuning tersebut, Sabir tanpa ampun menggebuk beberapa bagian tubuh Bagas.


Tak hanya memar, kulit Bagas bahkan terkelupas luka menerima hentakan Nunchaku bercahaya Sabir.


Bagas tersungkur jatuh dengan sebagian kulit terkelupas dan mulut juga hidung yang mengeluarkan darah segar. Perlahan kesadarannya kian menghilang.


"I'm win!!" teriak Sabir lantang.


..._-_-_...

__ADS_1


__ADS_2