Flip-flops System

Flip-flops System
38. Master of Puppets


__ADS_3

Albert baru saja naik ke tangga kosan Shinta setelah sebelumnya memeriksa kesiapan mobil untuk dibawa pulang. Suasana lingkungan kosan sore itu masih sepi karena sebagian besar penghuninya belum pulang dari kerja.


Menginjak ke lantai 3 dimana kamar Shinta berada, di sebuah lorong yang sepi tiba-tiba muncul 3 orang pria yang menghadang langkah Albert.


"Hei bocah. Berhenti!" bentak salah satu dari ketiga pria tersebut.


Albert menghentikan langkahnya, "Ada apa ya, Bang?" tanyanya sopan.


"Ikut kami!" dua pria lainnya meraih pergelangan tangan Albert dan memaksa untuk mengikuti mereka.


Albert dibawa masuk ke sebuah kamar kos yang masih kosong, belum berpenghuni.


"Ada apa sih ini, Bang?" tanya Albert lagi.


"Dengarkan kami. Apa kau kekasihnya Shinta?, atau kau saudaranya?. Jika kau kekasihnya, maka kuperingatkan kau untuk segera menjauhi gadis incaranku itu. Tapi jika kau saudaranya, maka berikan kami uang sebagai bayaran untuk menjaga saudaramu itu!. Kulihat kau orang kaya, mobilmu sangat keren dan mahal!" ucap pria pertama dengan luka codet di pelipis kirinya.


"Apa urusannya dengan kalian?!" Albert mulai menunjukkan perlawanan.


"Kehadiranmu sudah mengusik ketenangan kami!" jawab pria kedua yang berkaos biru.


"Lalu kenapa harus membayar kalian?" lanjut Albert.


"Kau tak tahu kami?. Kami adalah anggota geng Hellfire, geng terbesar di kota ini. Mengusik wanita incaran kami berarti mati. Tapi jika kau saudaranya, maka ada harga mahal untuk kami agar dia tetap aman di kamarnya!" sentak pria ketiga dengan setelan pakaian rapi seperti pria kantoran.


"Silvana, pindai mereka!"

__ADS_1


[Manusia awam yang sok jagoan. Katak dalam tempurung]


"Cepat jawab pertanyaan tadi!" mata pria codet menyipit.


"Aku tak mau!" balas Albert tak peduli.


Pria codet membelalak marah, "Bocah sialan. Cari mati kau rupanya!"


WUSSS


Satu pukulan melayang ke arah wajah Albert namun hanya menerpa ruang kosong karena tiba-tiba Albert menghilang dari tempatnya.


Seketika wajah ketiganya berubah buruk saat mengetahui bahwa Albert bukan pemuda biasa.


"Bukan aku yang mengusik kalian. Tapi kalian yang telah mengusikku. Maka jangan salahkan jika sesuatu terjadi pada kalian!" suara Albert terdengar datar, tak ada sedikitpun adrenalin yang terpancing darinya.


"Apa hebatnya Hellfire?, sebesar apa geng kalian itu?" pancing Albert merasa penasaran.


"Kau terlalu bodoh, Nak. Hellfire adalah geng dengan anggota ribuan orang yang tersebar di semua penjuru kota Jackcity. Tak ada orang yang berani berurusan dengan kami jika tak ingin menyapa gerbang kematian!" ucap pria berkemeja rapi dengan tatapan bengis.


"Silvana, ini menarik. Jika Gold Wings berhadapan dengan geng pembuat onar seperti mereka, kita akan sedikit membantu menciptakan keamanan kota ini, sekaligus panen Basic dan Aura!"


[Kakak ingat penjelasan Yoga waktu itu?. Anggara dan Maniac ada dibawah naungan geng kota bernama Hellfire!]


"Wow, kebetulan sekali. Meski kita tak mengusik mereka, cepat atau lambat mereka akan mencari kita untuk membalas kekalahan Anggara,"

__ADS_1


[Betul Kak]


*Woi bocah, kenapa kau malah diam saja?. Apa kau mulai merasa takut mendengar nama Hellfire?" raung pria codet marah karena merasa terabaikan.


"Aku tak berminat untuk menjawab pertanyaan kalian. Sungguh tak penting bagiku!" ujar Albert dengan tatapan dingin.


"Hajar dia!!" teriak pria codet.


Namun sebelum ketiganya melangkah, Albert sudah terlebih dulu menggerakkan jari-jarinya. Seperti sebuah boneka, Albert menggerak ketiganya hingga saling berhadapan muka. Detik berikutnya, secara bersamaan Albert membenturkan tubuh satu sama lain dari mereka.


"Master of puppets!!"


BRUKKK


Ketiganya terpental ke belakang. Pria codet mengalirkan darah dari bibirnya yang sobek, pria kaos biru meringis kesakitan karena keningnya benjol sebesar bola tennis, sedangkan pria berkemeja bahkan langsung pingsan.


"Sialan kau!!"


Kedua pria bangun dengan cepat, bermaksud untuk menghajar Albert. Namun lagi-lagi kedua pria seperti tak memiliki kendali atas tubuh mereka sendiri. Dengan nyata mereka menyaksikan sendiri bagaimana wajah-wajah mereka dengan brutal membentur-benturkan diri ke lantai.


Tak menunggu lama, wajah kedua pria sudah berubah bersimbah darah yang mengalir dari hidung dan rompalnya gigi.


"Enak, bang?!" sarkas Albert.


Albert tersenyum, " Hahaha..tenang saja, aku tak akan membunuh kalian. Tapi kuperingatkan kalian, jangan menjadi preman di lingkungan kos jni lagi. Jika aku masih melihat ulah buruk kalian disini, tak hanya mati, bahkan aku akan mengirim kalian ke neraka!" ucap Albert tegas.

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2