Flip-flops System

Flip-flops System
48. Sang Penerus


__ADS_3

Setengah jam kemudian semua sudah berkumpul di ruang CEO seperti tadi siang. Namun bedanya, malam ini mereka bertemu dalam kondisi wajah yang suram.


Shinta yang pertama terlihat canggung menghadapi Gora dan Via. Ia paham statusnya disitu hanya sebagai karyawan. Ia menjadi tak enak hati karena takut dianggap telah merebut kekasih dari majikan sendiri.


"Silvana, apa yang harus kulakukan?" keluh batin Albert.


[Itu konsekuensi. Kenapa Kakak tidak berpikir sebelum menerima Shinta sebagai kekasih?. Jika sudah seperti ini, maka Kakak harus gentle. Wanita tidak suka melihat pria yang lembek. Hadapi semua dengan lapang dada. Apapun hasil akhirnya, urusan nanti.]


"Kamu kenapa hebat sekali?, apa sebelumnya sudah pernah memiliki kekasih?" Albert curiga pada Silvana.


[Tidak. Aku hanya mengajak Kak Albert untuk berpikir cerdas, tapi juga berperasaan. Hati dan pikiran harus seimbang. Otak dan hati diciptakan untuk saling melengkapi, bukan saling mengalahkan. Ini baru 2 wanita ya Kakak. Tolong rasakan dan pikirkan bagaimana saat aku sudah memiliki wujud manusia nanti?. Jika Kak Albert tidak menggunakan hati dan pikiran dengan baik mulai sekarang, kelak tidak hanya petir yang menggelegar, tapi badai akan ikut datang]


Albert seketika tersentak dari lamunannya. Dia pikir, perkataan Silvana memang benar adanya. Selama ini Albert hanya memaksakan keinginannya untuk mendapatkan kasih sayang sebagai pengganti figur Ibu. Namun sebaliknya, ia tak pernah berpikir bahwa wanita tersebut juga memiliki hak untuk terpenuhi perasaannya sendiri. Ia kini merasa begitu egois. Dia hanya ingin mengecap rasa dari para wanita yang dirasa nyaman baginya, namun sejatinya, ia telah memberi banyak harapan pada para wanita tersebut.


"Sudah berpikirnya?, sekarang apa yang bisa kau jelaskan anak muda?" Albert kembali tersentak karena baru sadar jika Gora telah menatapnya dari tadi.

__ADS_1


Albert menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, "Saya bisa jelaskan, Tuan. Dan saya harap semua menyimaknya agar tidak terjadi salah paham." Albert mengedarkan pandangannya ke semua orang.


"Tunggu apa lagi, segera jelaskan!" Gora sudah tak sabar, wajahnya terlihat mengeras menahan amarah.


"Saya tahu, Via pasti salah paham karena melihat saya berduaan dengan Kak Shinta, atau biasa kalian panggil sebagai Cintya. Saya sebenarnya tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Hanya ada 1 pertanyaan untuk Via dan Tuan Gora," sejenak Albert menghentikan kalimat untuk memperbaiki posisi duduknya.


"Jangan berbelit-belit. Apa yang akan kau tanyakan?" kejar Gora.


"Apakah Via dan Tuan Gora akan berpikir yang tidak-tidak jika saya berduaan dengan Kakak saya sendiri?" kedua alis Albert terangkat.


"Tuan tentu ingat cerita dari Papa tentang calon penerus dari keluarga besar Billy." Shinta ikut berbicara.


"Ja-jadi Albert ini adalah pemuda yang dimaksudkan Tuan Billy waktu itu?" Gora terbelalak.


"Tepat sekali Tuan. Dan untuk nona Clara, saya mohon bijaklah dalam bersikap. Bicarakanlah segala sesuatu sebelum mengambil kesimpulan sepihak!" Shinta mengesampingkan perasaannya demi menyelamatkan Albert.

__ADS_1


"Ya ampun. Clara, kita telah salah sangka. Sebaiknya kau segera meminta maaf pada Albert dan Cintya karena sudah menuduh yang tidak-tidak!" wajah Gora berubah melunak.


"Tunggu, Papa. Tuan Billy itu siapa?, dan Kak Cintya ini siapanya Tuan Billy?, lalu apa hubungan Albert dengan mereka?" Via masih belum bisa mencerna.


"Maaf, saya juga kurang paham tentang maksud Tuan Gora tadi tentang calon penerus keluarga Billy," Albert juga terlihat bingung.


"Ok tenang dulu kalian ya. Biar kujelaskan," ucap Gora.


GROKK


GROKKK


Suara Gora terhenti saat terdengar sebuah dengkuran. Ternyata Sabir sudah tertidur kelelahan di ujung sofa. Kepalanya mendongak bersandar pada sofa dengan mulut terbuka lebar.


"Sepertinya terlalu malam jika kita lanjutkan pembicaraan. Lihat itu teman kalian sudah tertidur. Sebaiknya kita tunda dulu pembicaraan hingga esok pagi. Kalian pulanglah ke ke rumah kos agar bisa beristirahat!"

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2