Flip-flops System

Flip-flops System
69. Menuju pilar utara


__ADS_3

Saat Albert dan 51 orang pasukan bayangan kembali ke dunia nyata, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi hari berikutnya. Tentu saja semua anggota tim menjadi kaget karena mereka baru beraktivitas tak lebih dari 30 menit di ruang hampa.


"Kok sudah pagi aja, Bos?. Bukannya tadi kita masuk ruang hampa masih sore?!" Libra mengerutkan keningnya.


"Oh ya aku lupa menyampaikan. 1 Jam di ruang hampa setara dengan 1 hari di dunia nyata. Jadi, jika kita disana tadi berkultivasi sekitar 30 menit, maka itu artinya sudah berjalan sekitar 12 jam di dunia nyata," terang Albert yabg langsung disambut kesemuanya dengan manggut-manggut.


"Kalian tentu merasakan kelelahan sekarang. Kuktivasi memang membutuhkan energi tubuh yang cukup banyak. Seharusnya tadi kalian berendam dulu di air terjun regenerasi, tapi ya karena waktu terbatas, maka aku skip aja rencana itu. Jadwal kita hari ini harus melakukan serangan ke kubu pilar utara!" lanjut Albert.


"Apakah kami sudah memiliki kultivasi sekarang?" tanya Libra penasaran.


"Tentu saja. Untuk anak buahmu telah memiliki bekal kultivasi basic white dove tingkat 7, dan aura putih tingkat 7. Meski tak terlalu tinggi, namun itu sudah cukup hebat untuk seorang pemula," ucap Albert menjelaskan.


"Woww.. basic 1 tahap 7, aura juga tahap puncak. Ini sudah cukup tinggi, Bos. Kami yang sebelumnya hanya manusia awam, meningkat setinggi ini, sudah keren banget ituu!!" Libra tersenyum senang, begitu juga dengan para pasukannya yang langsung mengambil pasangan untuk mencoba kemampuan bertarung mereka.


"Itu baru anak buahmu, Libra. Kau akan lebih tercengang saat tahu dimana posisi kultivasimu!" seringai Albert.


Libra tertegun, "Y-yang bener, Bos?"


"Pastinya. Dengarkan baik-baik, kau sekarang berada di basic lembu hitam 7 dan aura hijau 7. Masih cukup jauh dari kemampuan Sabir dan lainnya," ungkap Albert.


"A-apa?!, setinggi itu. Astagaaa!!, Bos." Libra hampir yak percaya dengan apa yang telah ia dengar, namun hal itu nyata adanya.


"Kau mungkin masih dibawah kemampuan pemimpin pilar utara, tapi setidaknya kau akan mampu membantu Vano untuk menghadapinya!" imbuh Albert.


--


Waktu mendekati sore ketika Albert akan membawa tim menuju River Island. Terlihat Libra yang paling tak sabar menunggu keberangkatan.


"Bos, sudah sore. Kita berangkat jam berapa?. Naik pesawatpun akan sampai sana malam!" tanya Libra dengan wajah tegang.

__ADS_1


Albert tersenyum kecil, "Siapa juga yang mau naik pesawat!" ujarnya.


"Lho gimana sih, Bos?!. Apa hari ini tidak jadi?" Libra semakin bingung.


Albert kembali tersenyum, "Haha, siapa juga yang membatalkan rencana!" Albert semakin membuat Libra bingung.


Wajah Libra memburuk, "#-($)#--$(/ \=€°€÷[}π|÷!" Libra pun ngomel tak jelas.


"Kita akan berangkat sekarang. Siapkan tim bayanganmu. Kita akan menggunakan ruang hampa sebagai portal untuk menuju River Island dalam sekejap!" akhirnya terjawab juga kebingungan Libra.


"Ahh kenapa aku baru terpikirkan, Bro. Masuk ke ruang hampa, dan keluar dimanapun. Kau begitu brilian!" Vano terbahak mendapati ide cemerlang Albert yang notabene adalah ide Silvana.


Hanya dalam sekejap mata Vano dan Libra berikut pasukannya telah berpindah di tepian hutan River Island. Pintu keluar ruang hampa terletak di tepian hutan sedemikian rupa karena bantuan petunjuk dari Libra 'si GPS berjalan'. Albert memilih untuk tetap berdiam diri di dalam ruang hampa sambil memantau pergerakan tim.


"Berapa jauh markas mereka dari hutan ini?" tanya Vano pada Libra.


"Sebenar deh, Libra. Yang menjadi pertanyaanku, kenapa kau bisa tahu sejelas itu tentang wilayah dan letak setiap pilar Hellfire?!. Sebuah kebohongan belaka jika kau mengatakan hanya sekrdar mengenal Hellfire!" selidik Vano.


"Hahaha, sebenarnya aku dulu adalah pembantu khusus yang ditugaskan hanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan semua pilar. Jadi ya memang sudah kebiasaanku berkeliling dari satu pilar ke pilar yang lain untuk menyampaikan sesuatu yang penting seperti contohnya persenjataan, seragam, surat perintah khusus, atau bahkan mengantarkan para wanita penghibur yang diminta mereka." Ungkap Libra apa adanya.


"Wah sek-si sibuk yah berarti?!. Nah lalu kenapa kau malah menjadi preman di pantai waktu itu?" Vano masoh merasa belum puas dengan pertanyaannya.


"Semenjak kehadiran kerabat bos Hellfire yang bernama Anggara, tugasku dialhkan semua padanya. Jadi secara tidak langsung aku tidak dibutuhkan lagi disana. Meski tak menyatakan resmi keluar, namun aktivitasku sebagai preman nyatanya menjadi kesibukanku satu-satunya tanpa ada satupun tugas yang kudapat dari Hellfire," ujar Libra.


"Ohh jadi Anggara sudah benar-benar kembali pada kerabatnya di Hellfire setelah geng kampusnya dikalahkan!" Vano manggut-manggut.


"Emang siapa yang telah mengalahkan Anggara?, dia bukan orang sembarangan lho!" Libra menjadi penasaran pada siapa yang telah mampu menaklukkan geng Maniac.


"Ck. Kau kurang air mineral, atau ngopi-mu kurang jauh?. Apa tidak pernah dengar kabar jika Gold Wings kita-lah yang menaklukkan mereka?!" cebik Vano.

__ADS_1


"Astaga!!. Lagi-lagi Bos Albert yang berjaya. Emang ga salah kalau aku memilih setia padanya," Libra tak akan heran lagi jika ternyata Albert yang menaklukkan Anggara, karena hanya Albert dan Flad-lah yang memiliki kemampuan diatas Anggara.


"Ya Sudahlah. Ngobrol terus, kapan nyerangnya?!. Tuh para pembaca sudah pada bete, katanya 'drama mulu' haha," sentak Vano.


Libra menyeringai senang begitu teringat kembali pada aktifitas utama saat itu, "hayukk lah.." ajaknya sambil melangkah menyusuri tepian hutan jati nan rimbun.


"Ada berapa pasukan di pilar utara?, bagaimana dengan kemampuan kultivasinya?" cecar Vano sambil terus melangkah mengikuti Libra.


"Lebih banyak dari pilar timur kemarin. Pasukan disini berkisar 70an orang," terang Libra.


"Wah kalah jumlah dong kita, Bro?!" Vano terperangah.


"Tenang saja. 70 orang hanya kultivasi tingkat white dove 1. Kalah telak dengan pasukan bayangan kita. Ada 2 orang yang berkemampuan tinggi, yaitu Wilson si pimpinan pilar utara, dan Edy wakilnya." lanjut Libra.


"Sehebat apa mereka berdua?" lagi-lagi pertanyaan Vano menuntut jawaban.


Libra sejenak menyunggingkan senyum, "Wilson ada di basic kera perak tingkat 7, aura biru tingkat 7. Sedangkan Edy pada basic Lembu hitam tingkat awal," ujar Libra.


"Masih cukup aman. Wilson masih sebanding denganku, dan Edy bisa kau atasi dengan mudah. Sepertinya penyerangan kali ini jauh lebih mudah daripada melawan pilar timur!" ucap Vano penuh keyakinan diri.


"Jangan jumawa prematur, kondisi fakta di lapangan kadang tak mewakili tulisan diatas kertas. Yang jelas kita harus tetap waspada dan hati-hati," tegur Libra.


"Ya, aku tahu!" balas Vano singkat.


.


.


_____bersambung

__ADS_1


__ADS_2