
Selang 2 minggu setelah obrolan Albert tentang pembentukan perusahaan, akhirnya Via baru memiliki kesempatan untuk mengajak Albert bertemu Papa-nya. Selama 2 minggu ini mereka kembali disibukkan dengan UTS, liburan usai UTS kali ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh mereka untuk kembali melanjutkan rencana sebelumnya.
Menggunakan Van milik Via yang memang diperuntukkan menampung lebih banyak penumpang, Via dan Albert berikut trio HSV meluncur menuju lokasi tempat orangtua Via berada. Meski satu kota dengan Kampus Orange, namun kedua tempat itu saling berjauhan.
Butuh waktu sekitar 2 jam bagi mereka untuk menjangkau lokasi yang dimaksud oleh Via.
"Tahu begini kan lebih enak kita masuk lewat ruang hampa. Lebih efisien, hemat waktu, dan pastinya hemat tenaga. Kalau kayak gini, rasanya boyokku tak kuat, hampir putus rasanya!" cebik Sabir kesal.
"Dasar pria lebay!" balas Vano bermaksud memperolok Sabir.
"Lebay apanya?. Cedera waktu itu masih berasa imbasnya di pinggangku tau!. Meski sudah jauh lebih baik setelah berendam di air terjun regenerasi, tapi semua butuh proses untuk sembuh!" sentak Sabir tak suka.
"Ups sori. Kirain cuma capek biasa. Aku lupa kalau kamu pernah hampir koit gara-gara si kucing Anggara.." ujar Vano menjadi tak enak hati.
"Anggora, bukan Anggara. Jangan suka ganti-ganti nama!" bentak Via dari kursi depan.
Vano terkekeh malu, "Hehehe cuma beda 1 huruf ini," komplainnya.
"Emang kamu mau namamu dirubah jadi Vanu?. Beda 1 huruf ini!" balas Via cerdik.
"Yaelah, penyakit kulit dong, Bu Bos.." wajah Vano mendadak berubah sendu.
"Makanya, dipikir dulu kalau mau ngomong!" Huri ikut menghakimi Vano.
Diluar keributan para penumpang yang membahas panu, Albert sedang berpikir aneh dari kursi kemudi. Mobil mereka memasuki daerah yang dikatakan Via sebagai lokasi tempat tinggalnya.
"Ini kan deket banget sama tempat Kak Shinta. Oh jadi rumah Via itu di daerah yang sama dengan Kak Shinta. Sebuah kebetulan yang dipaksakan oleh Author sepertinya," batin Albert.
[Kakak, ada yang mau ngomong nih]
"Siapa?" Albert terperanjat kaget saat tahu bahwa didalam sistem ada penghuni selain Silvana.
[Bert, aku Author. Kebetulan yang dipaksakan Author kau bilang?!]
__ADS_1
"Hehe, ampun Kakak Author yang ganteng melebihi MC novel ini. Aku hanya becanda,"
[Mau aku ganti Vanu jadi MC-nya?]
"Ampun..ampun Kak, Om, Pakdhe Author!!"
--
Mereka tiba disebuah gedung bertingkat beberapa saat kemudian.
"Nona Clara, selamat datang.." sapa resepsionis saat tahu bahwa yang datang adalah putri dari CEO perusahaan tersebut.
"Papa ada di ruangannya?" tanya Via.
"Ada, Nona. Langsung naik saja." Jawab resepsionis sopan.
Via mengajak naik Albert dan yang lainnya menuju ke lantai paling atas gedung dimana ruang utama CEO berada.
TOK
TOK
"Clara, kamu kenapa ga ngabari dulu kalau mau pulang!" Seorang pria paruh baya dengan penampilan kharismatik menyambut mereka.
Via tersenyum manis, "Kejutan, Pa." Ujarnya.
"Eh iya, Pa. Kenalkan ini teman-teman Clara dari kampus Orange. Yang ini Albert, itu Vano, Huri, dan paling ujung Sabir," Via memperkenalkan kesemuanya.
"Teman apa teman?" Papa Clara tersenyum simpul sambil memandang lengan anaknya yang secara tak sadar masih melingkar di lengan Albert.
Via spontan melepas gandengan tangannya, "Ihh Papa, bikin Clara malu aja!" dengan kesal Via menghentakkan kakinya ke lantai seperti anak kecil yang merajuk.
"Selamat siang, Om.." sapa Albert mewakili teman-temannya.
__ADS_1
"Oh siang. Perkenalkan, aku Gora, Ayahnya Clara. Silahkan duduk di sofa dulu sebentar, sambil menunggu aku menyelesaikan pekerjaan ini. Eh kalian mau minum apa nih?" ucap Ayah Via yang bernama Gora dengan ramah.
"Terserah Om saja. Sebelumnya, terimakasih.." jawab Albert sungkan.
"Jangan sungkan-sungkan. Kopi, bagaimana kalau kopi?" lanjut Gora.
"Iya Om, boleh.." Albert mengangguk cepat.
Gora sejenak menggapai telepon dan menghubungi bagian OB untjk menyiapkan beberapa kopi dan cemilan.
Tak lama berselang, Gora telah menyelesaikan pekerjaannya dan melangkah menuju sofa.
"Dia pacarmu, Ra?" tanya Gora to the poin tanpa tedeng aling-aling.
Via sudah tak mampu lagi menyembunyikan rasa malunya. Wajah cantik yang sekarang bersemu merah itu ia tenggelamkan di balik bahu Albert.
"Aku kan hanya tanya. Jika kalian serius dan saling mencintai, why not?" imbuh Gora tak ingin putri semata wayangnya kecewa.
"Betul Om, kami berpacaran." ucap Albert berterus-terang dengan tegas.
"Aku suka caramu dalam berterus-terang. Kau Ehm..Albert, dari kota ini juga? Siapa orang tuamu?" Selidik Gora penasaran melihat pemuda cakap dihadapannya.
"Saya dari kota Suretown. Maaf saya sebatang kara. Ayah saya sudah meninggal dan Ibu saya hilang," Albert menunduk haru.
"Hilang?. Oh maafkan aku jika mengungkit rasa sedihmu. Pada dasarnya aku bukan tipe pemilih. Semua kuserahkan pada Clara untuk menentukan calon pasangannya. Hanya saja kau harus mengerti jika aku cuma memiliki satu anak perempuan, jadi sudah barang tentu bila kedepannya hanya Clara dan pasangannya yang akan menerima tongkat estafet pengelolaan perusahaan ini," ujar Gora serius.
"Baik Om, itu semua sudah saya pikirkan. Ehmm langsung saja, maksud kedatangan kami kesini adalah untuk menyampaikan beberapa hal. Yang pertama adalah rumah Via di dekat kampus orange dan Vila kaki gunung. Untuk rumah Via, saya bermaksud membelinya dengan tujuan ingin menggunakan sebagai perusahaan. Sedangkan Via akan berpindah untuk menempati Vila kaki gunung. Hal yang kedua adalah mengenai niat kami untuk ikut belajar disini terkait ilmu pengelolaan perusahaan. Sekiranya memungkinkan, saya harap Tuan bisa meluluskan 2 hal yang saya sampaikan tadi," terang Albert.
Wajah Gora berubah drastis. Airmukanya berubah menjadi sangat serius. Melihat gelagat tersebut, Albert mulai merasa putus harapan.
"Apakah om merasa berat untuk menyetujuinya?. Jika tidak boleh pun kami tak masalah," buru-buru Albert berusaha meredam jikalau Gora menolaknya.
"Bukan. Bukan begitu, Nak. Justru aku sangat terkejut. Niatmu sungguh luar biasa. Aku bahkan hampir tak percaya jika hal tersebut diucapkan oleh seorang pria yang masih sangat muda. Mengenai rumah itu, kau tak perlu membelinya, Nak. Selama kau serius dengan Via, maka pakailah sesuka hatimu. Dan pintu perusahaan ini, akan selalu terbuka lebar untuk menjadi wadah pelatihan bagi generasi-generasi muda bertekad mulia seperti kalian!" Gora tersenyum tulus.
__ADS_1
..._-_-_...