Flip-flops System

Flip-flops System
46. Mode galak


__ADS_3

Antara Albert dan asisten Gora, keduanya saling menatap dalam diam. Namun kecerdasan sang asisten mampu mengatasinya.


"Tuan Gora, apakah mereka yang akan belajar bersama saya?" gadis cantik bertubuh sintal tersebut dengan apik melakukan sandiwara seolah belum pernah mengenal Albert.


"Iya, Kak. Kami yang akan belajar. Salam kenal ya.." Albert sigap menyambut kode tatapan mata sang asisten.


Meski sang asisten dan Albert mampu bersandiwara dengan baik didepan semuanya, namun tidak bagi mata si asisten, beberapa kali ia menatap resah pada tangan Via yang melingkar erat di lengan Albert.


"Awas saja jika nanti malam kau tak datang ke kosanku untuk menjelaskannya, Dek!!" batin sang asisten bernama Cintya, atau lengkapnya Shinta Cintya, Kakak angkat Albert.


Hari itu, baik Shinta maupun Albert berusaha berlaku profesional didepan semua orang. Keduanya masih berusaha menjaga harga diri masing-masing.


"Cintya, karena kau juga tinggal di kosan milik kami, maka sekalian aku minta tolong padamu untuk mengantarkan 4 pemuda ini memilih beberapa kamar disana. Tolong sampaikan juga pada Paman Dimas yang menjaga disana untuk tidak menarik bayaran pada mereka, karena mereka adalah tamuku!" perintah Gora yang langsung membuat hati Shinta sejuk seketika.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Siap laksanakan!!" jawabnya gembira.


"Mari, Adek-adek kita ke kosan.." ajak Shinta penuh semangat 45.


Via yang juga hendak berdiri mengikuti mereka langsung ditahan lengannya oleh Gora, "Kau ikut Papa pulang. Jangan sampai Mama-mu tambah panas. Kalian bisa bertemu lagi besok pagi!" ucap Gora.


"Ck..Mama emang menyebalkan!!" suara cebikan mulut terdengar dari Via.


Sejauh ini baik Albert maupun Shinta masih saling berdiam diri mengunci semua ucapan yang bisa membuat curiga ketiga temannya. Jika dalam kondisi normal mungkin Albert akan dengan senang hati memperkenalkan kakak angkatnya. Namun kini berbeda, status kekasih gelap yang diminta Shinta tempo hari justru membuat mereka lebih hati-hati dalam melangkah. Apalagi keberadaan Via telah diketahui oleh Shinta secara nyata.


Albert memilih tidur bersama Sabir, sedangkan Vano akan sekamar dengan Huri.


"Eh kamu, Dek Albert kan ya tadi?. Karena kau ketua tim, maka setelah mandi sore, saya tunggu untuk ngobrol berdua di lobi. Ketuk pintu kamar saya jika kau telah siap!" sorot mata Shinta seolah memberikan penekanan pada kalimat yang ia ucapkan.

__ADS_1


"Kak, maaf aku sangat lapar. Bagaimana jika setelah makan malam saja?" Albert berusaha berkelit.


"Ck, terserahlah. Tapi jangan terlalu larut. Aku tak ingin bangun terlambat untuk bekerja esok hari!" sinis Shinta kemudian berlalu pergi memasuki kamarnya.


"Dia cakep lho, bro. Hati-hati, khawatir dia juga naksir sama kamu!" goda Vano usil.


Albert malas menanggapi keusilan Vano. Ia lebih memilih untuk segera pergi mandi karena badan yang terasa begitu lengket oleh keringat.


Usai makan malam, seperti yang dijanjikan oleh Albert, ia mengetuk kamar Shinta untuk mengabarkan bahwa telah siap untuk bertemu di lobi.


Belum juga Albert melangkah, tahu-tahu bahu Albert sudah ditarik paksa oleh Shinta hingga mau tak mau Albert mengikuti Shinta memasuki kamarnya.


Shinta menunjukkan wajah mode galaknya, "Sekarang katakan secara detail pada Kakak. Ada hubungan apa kamu dengan nona Clara?" ia tumpahkan semua yang ia tahan sejak tadi siang.

__ADS_1


__ADS_2