
Setelah berhasil menguasai keterkejutannya, Albert teringat kembali pada Silvana, "Silva, gue tau lu masih sembunyi didalam sana. Gue minta tampilan status juga lu tampilkan. Itu artinya lu cuma diem tapi ga pergi. Ayo dong Sil, ngomong. Maafin gue jika udah bikin lu marah.."
Beberapa saat menunggu, namun tak ada jawaban juga dari Silvana, "Silvana sayang, mau hadiah?", pancing Albert.
[Eh, mau mau]
"Hahaha, akhirnya lu muncul juga!"
[Jangan pakai lu-gue lagi, aku ga suka. Mana hadiahnya?]
"Iya ga akan pakai lu-gue lagi mulai sekarang. Sil, aku minta maaf ya kalau udah bikin kamu sebel. Setelah ini, aku janji ga bakal rewel lagi."
[[Buktikan nanti]
"Siape takut!"
[Lalu, apa hadiahnya?]
"Kalau aku traktir makan atau ngasih barang sepertinya ga mungkin. Kita kan ga bisa bertemu fisik,"
[Yahh]
"Sebagai gantinya, aku bakal ngasih kamu dispensasi alias cuti. Kamu diem aja saat nanti melatih Vano, dkk. Kamu istirahat aja dulu, biar aku yang ambil alih. Kamu cukup jawab seperlunya jika kurasa ada pertanyaan penting!"
[Tidak buruk. Baiklah]
"Tapi kenapa kau jadi irit ngomong gitu?!"
[Buktikan dulu omongan Kakak tadi!]
Albert sekilas memiliki ide. Dengan cekatan ia membuka aplikasi e-commerce dalam handphonenya dan memesan sesuatu.
"Kita balik yuk, Silvana.."
__ADS_1
[Ya]
"keluar dari ruang hampa,"
Tak sampai 2 detik, tubuh Albert sudah kembali berada di hutan kecil dekat Vila Via. Dengan penuh semangat Albert melangkahkan kaki untuk kembali ke Vila.
"Eh kunyuk, kemane aje?" sergah Huri saat Albert menampakkan batang hidungnya di vila.
"Latihan bentar di hutan," jawab Albert enteng.
"Latihan bentar kau bilang?!. Ini sudah 1 hari sejak kamu berangkat kemarin pagi tau ga?!. Kamu ga mikir kita disini kelaparan dan bingung makan apa?" sahut Vano.
Albert sedikit tersentak. Dia baru ingat jika satu jam di ruang hampa sebanding dengan 1 hari di dunia nyata.
"Upss sori, pren. Aku juga kelaparan kok ini, belum makan. Trus kalian makan apa sejak kemarin?" Albert balik bertanya.
"Ya makan enak dong, sayang. Kamu lupa jika punya pacar cantik dan pinter masak disini?" Via muncul diantara mereka.
"Mampus kau dikadalin," bisik Huri dengan wajah sewot.
"Kan kamu sendiri kemarin yang bilang kalau tak mau diganggu karena ingin menyendiri?!" jawaban Via spontan membuat ketiga teman Albert terkekeh menang.
TING TONG
TING TONG
"Ada tamu sepertinya," Via hendak melangkah membukakan pintu, namun Albert mencegahnya.
"Biar aku saja. Kamu lanjutin masak di dapur aja, honey. Dan kalian, segera berbenah. Kita akan segera berlatih!" Albert segera berlari ke ruang tamu.
Tepat seperti yang diperkirakan Albert, didepan rumah telah menunggu kurir yang mengirimkan barang pesanan Albert. Ada 2 dus. 1 dus ukuran telapak tangan, 1 dus lagi berukuran sebesar galon air. Dus besar langsung dilempar ke inventory oleh Albert.
"Siapa, sayang?" teriak Via dari dalam rumah.
__ADS_1
Albert kembali melangkah masuk, "Kurir kirim barang," jawabnya.
"Emangnya kamu pesan apa?" Via mendekat.
"Nih buah kamu.." Albert menyodorkan dus kecilnya.
"Apa isinya?" Via penasaran.
"Buka saja nanti. Sekarang aku mau makan, karena setelah ini akan berlatih bersama." Albert melangkah menuju meja makan diikuti Via.
--
"Perlu aku jelaskan disini untuk semua, sebelum nanti kalian malah sibuk bertanya tentang yang aku lakukan," ucap Albert didepan Via dan ke 3 temannya.
"Aku memiliki beberapa kelebihan dibanding manusia pada umumnya. Teknik yang aku kuasai bernama kultivasi. Hal itulah yang akan ku ajarkan pada kalian bertiga. Jadi, aku harap kedepannya kalian tidak akan merasa heran saat melihatku memiliki kekuatan spesial." Terang Albert dengan masih menyembunyikan rahasia ruang hampa.
Via dan ketiga teman Albert hanya bisa manggut-manggut tanpa melontarkan pertanyaan sedikitpun.
"Sayang, kau kunci semua pintu dan jendela saat kami pergi berlatih. Kemungkinan ini akan memakan 1-2 hari. Kamu jaga diri baik-baik ya," Albert mengalihkan pandangan pada Via.
[Interupsi, Kak. Kau bisa menyalurkan aura untuk melindungi Vila ini selama kau pergi]
"Oh sebentar," Albert terdiam beberapa saat sebelum kemudian terkumpul cahaya hijau di telapak tangannya.
Menggunakan cahaya hijau tersebut ia melapisi sisi luar vila hingga menyelubunginya tanpa celah. Detik berikutnya, cahaya hijau tersebut berubah transparan.
Semua tercengang. Siapa yang akan menyangka jika Albert memiliki kelebihan yang luar biasa seperti itu.
"Vila sudah aku pagari menggunakan aura. Kamu tak perlu takut dari gangguan hewan liar maupun penjahat selama kau tidak keluar dari vila ini," pungkas Albert.
"Baik, sayang." Via mengangguk patuh.
Bersama ketiga sahabatnya, Albert melangkah pergi untuk menjauh dari pandangan Via. Albert masih tak ingin menceritakan perihal ruang hampa pada kekasihnya.
__ADS_1
..._-_-_...