
Tak hanya ratusan pasukan geng Maniac, bahkan Anggara-pun menjadi panas dingin ketika secara beruntun Sabir berlanjut Huri dengan gemilang memenangkan pertarungan.
"Dari 4 bocah culun, tersisa 2 bocah culun yang belum kalian coba kekuatannya. Gimana, bro?. Mau tetep satu-satu atau sekalian keroyokan?. Aku siap meladeni kalian sendirian!" cebik Albert memanaskan telinga.
"Wait wait, bro. Enak saja mau kau lawan sendirian, aku belum bertarung, tau!" komplain Vano tak rela jika jatah lawannya diambil oleh Albert.
"Hahaha, kau terlalu bersemangat!. Ya sudah, kita lawan berdua saja. Dua lawan dua, adil kan?!" Albert terkekeh.
Anggara berikut 1 sisa komandan geng yang bernama Lukas hanya mampu diam tanpa tahu harus berkata apa. Mereka menghadapi dilema akibat dari omong besar mereka sendiri.
"Sebelum bertanding, aku ajukan 1 kesepakatan. Jika kalian kalah, maka semua pasukan geng Maniac harus menyerah dan juga mengaku kalah. Sebaliknya demikian juga jika kami kalah. Bagaimana 'si hebat' Anggara?" Albert melempar umpannya, berharap Yoga dan yang lainnya tidak perlu bersusah payah mengatasi ratusan pasukan Maniac nantinya.
Wajah Anggara menggelap. Seumur-umur, baru kali ini dia merasa dipermalukan seperti itu. Tanpa menjawab apapun, Anggara dan Lukas bergerak siap menerjang.
"Basic angsa putih level puncak, aura level puncak. Masih ingin melanjutkan setelah melihat ini?" Albert mengangkat genggaman tangannya yang bersalut cahaya merah menyala.
"Aura merah milik Rajawali emas?!. Tidak mungkin!!" mata Anggara melotot seperti ingin melompat dari kelopaknya begitu mengetahui Basic yang dimiliki Albert.
Baik Anggara maupun lukas menjadi ragu untuk melakukan serangan. Sudah barang tentu apapun upaya mereka akan sia-sia. Basic Angsa putih milik para komandannya saja sudah sangat merepotkan, apalagi Albert yang berada jauh 2 tahap dan belasan level diatas Anggara.
"Kalian tak ingin maju?. Mana kesombongan kalian tadi, hah?!" bentak Albert keras.
Lukas dan Anggara hanya bisa saling memandang tanpa kata.
"Baiklah. Jika kalian masih cukup waras untuk tidak melanjutkan serangan kalian, maka sekarang biarkan aku yang menyerang kalian. Bagaimanapun juga penderitaan Clara Zavia dan Sabir haruslah terbayarkan!" ucap Albert cepat sebelum kemudian menghilang dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
BUKKK
Sebuah tendangan keras tahu-tahu bersarang di punggung Lukas. Badannya otomatis terhuyung kedepan.
"Vano. Kau urus komandan ini!!" teriak Albert bersamaan dengan terhuyungnya Lukas ke arah Vano.
Tak menunda, Vano mengeluarkan sepasang trisula miliknya.
WUSSS
WUSS
Dua cabikan trisula bercahaya kuning hanya ditanggapi Lukas dengan mengangkat kedua tangannya sebagai bentuk pengakuan bahwa kemampuannya tak akan mampu melawan Vano.
CASSS
Telak trisula Vano menorehkan luka cukup dalam di sekujur bahu dan lengan Lukas.
WUSS
KRAKK
Tak ingin membunuh lawan, Vano memuntahkan sinar kuning panjang dari trisula-nya ke arah kedua kaki Lukas, "Aghhhh.." dalam sekejap, kedua kaki tersebut patah.
Beralih pada posisi Albert, tendangan tinggi diudara disambut pula oleh Anggara sebagai upaya terakhir daripada ia harus mengucapkan kata menyerah.
__ADS_1
DARRR
Tumbukan 2 kekuatan menimbulkan ledakan energi yang menekan semua orang. Bagi mereka yang manusia awam, ledakan tersebut terasa sangat menyesakkan pernapasan.
"Semua menjauh jika tak ingin mati konyol!" teriak Vano pada pasukan geng Maniac.
Tubuh Anggara terpental menghujam bumi karena tak mampu menahan besarnya hentakan pukulan bercahaya merah dari Albert.
Albert lekas memburu tubuh Anggara yang belum sempat bangkit. Detik berikutnya Albert sudah menindih tubuh Anggara dan melesakkan lusinan pukulan. Anggara laksana samsak hidup bagi Albert. Wajah, dada, dan semua bagian tubuh Anggara tak luput dari amukan pukulan Albert. Ia menumpahkan segala kekesalan akibat ulah Anggara.
"Stop, bro. Kau bisa membunuhnya!" Huri dan Vano berlari menahan Albert yang mengamuk dan memukul seperti orang kesurupan.
Sudah dapat dibayangkan, jika pukulan biasa saja bisa membuat lawan tepar, apa kabar dengan pukulan berenergi besar milik Albert?. Jelas, Anggara sudah diambang maut jika Vano dan Huri tak menyelamatkannya.
"Ada yang tidak terima dan ingin mencoba kami lagi?" teriak Albert pada hadirin-hadirot anggota geng Maniac.
Semua hanya diam tanpa berani bermain api. Mereka begitu merasa kecil dibanding kekuatan Albert Cs.
"Tu-nggu s..ja. A-akan..a..da y-yang membalas inii!!" ancam Anggara sebelum kemudian tak sadarkan diri.
Albert tersenyum, kemudian berjalan keluar markas diikuti ketiga temannya. Ratusan pasukan spontan membelah kerumunan dan memberikan jalan bagi Albert untuk berlalu.
Diluar gedung sudah menunggu Yoga, Heksa, juga Via dengan tatapan penuh pemujaan. Mata mereka seolah menyiratkan rasa bangga, haru, penuh semangat, dan segunung ketakjuban pada sosok Albert.
..._-_-_...
__ADS_1