Flip-flops System

Flip-flops System
61. Pengintaian


__ADS_3

Setelah Via turun di kediaman Tuan Billy bersama dengan Shinta, Albert langsung bertolak menuju lokasi yang dimaksudkan Libra sebagai tempat dimana pilar timur Hellfire berada.


Butuh 1 jam perjalanan hingga mencapai area pergudangan kota Suretown yang mendekati perbatasan dengan kota Grassick.


Mobil yang digunakan Albert masuk ke sebuah gang panjang diantara tumpukan container. Semakin jauh ke dalam ternyata tempat semakin terlihat luas.


"Stop. Tungga dulu. Bukankah kita hanya akan mengamati?!. Jika terlalu masuk seperti ini apakah tidak membuat mereka curiga?" tegur Albert.


"Ini masih cukup jauh Bos dari tempat mereka. Nanti kita akan berhenti tidak terlalu dekat dengan mereka," ujar Libra sambil menepuk bahu Heksa agar tetap menjalankan mobil.


Tak lama berselang, Libra meminta Heksa untuk memutar haluan mobil memasuki sebuah bangunan gedung yang terbengkalai pembangunannya.


"Kita akan naik ke atas gedung ini untuk mengamati mereka!" Libra melangkah turun diikuti yang lainnya.


Tiba di lantai 4 gedung tersebut, keadaan pergudangan di sekitarnya menjadi lebih terlihat jelas.


"Gudang ber-cat merah itu adalah markas dari pilar timur Hellfire," tunjuk Libra pada sebuah bangunan dengan rolling door berwarna merah yang berjarak sekitar 50 meter dari lokasi gedung dimana Albert dan yang lainnya berada.


"Bagaimana kita bisa mengamati kekuatannya jika tertutup seperti itu?" komplain Sabir tak habis pikir dengan ide Libra.

__ADS_1


"Tenanglah dulu, Ndan. Jika pintu tertutup sempurna seperti itu, maka artinya mereka sedang berada diluar. Biasanya hanya dijaga oleh 2 orang. Mari kita tunggu saja kedatangan mereka!" terang Libra.


Semuanya mengambil duduk diatas lantai semen kotor sambil terus mengamati kondisi di luar sana. Posisi mereka yang tertutup tembok dan hanya menyisakan beberapa lubang jendela kecil cukup memudahkan pengintaian tanpa khawatir diketahui lawan.


2 Jam berlalu begitu saja tanpa ada tanda-tanda bahwa rombongan pilar timur akan datang. Diam-diam Albert meraih beberapa stok buah segar dan air jernih dari air terjun regenerasi untuk menemani kesuntukan.


"Buah dan air ini dari mana asalnya, Bos?. Seingatku tadi Bos tak membawa apa-apa sejak turun dari mobil?!" tanya Libra menyelidik.


"Bawel banget. Udah makan aja, ga perlu kepo!" sergah Sabir dengan tatapan angker ke arah Libra.


"Bos, mereka datang!" bisik Heksa yang sedari tadi duduk didekat jendela.


"Yang rambut warna putih itulah pemimpin pilar timur. Dia memiliki kemampuan kultivasi sangat tinggi!" jelas Libra.


Dari 3 mobil yang mereka naiki, ada 20 orang dengan memakai kemeja putih dan berdasi seperti orang kantoran.


"Yang berdasi itu adalah anak buah pilar timur. Mereka juga memiliki kemampuan beladiri yang cukup baik," lanjut Libra.


"Apakah hanya itu?" tanya Albert enteng.

__ADS_1


"Hanya itu bagaimana sih, Bos?!. Meski sedikit, mereka semua ahli beladiri, apalagi pemimpinnya. Bahkan kelompok preman saya dulu yang berjumlah 30 orang belum tentu mampu menaklukkannya!" desis Libra sedikit kecil karena seolah Albert meremehkan.


"Kalau hanya 21 orang termasuk pimpinan mereka, Sabir dan Heksa kurasa sudah cukup untuk mengatasi mereka," ucapan Albert kali ini cukup membuat Libra tercengang setengah kayang.


"Mereka bukan petarung yang mudah untuk diatasi. Apakah Bos yakin dengan pengaturan tersebut?" Libra terlihat ragu.


"Kalau kau ragu, sertakan 2 bawahanmu itu untuk membantu Sabir dan Bang Heksa!" ujar Albert dengan wajah dingin.


"Kapan kita akan menyerang?" tanya Sabir.


Albert sejenak terdiam menghitung masa update sistem, "2 atau 3 hari lagi!" jawabnya.


"Lama sekali!" sergah Heksa.


"Ada hal yang perlu kupastikan terkait kemampuan kultivasi mereka. Jangan sampai kita salah perhitungan dan akan menjadi bumerang untuk serangan kita sendiri!" lanjut Albert memberikan pemahaman.


"Sebaiknya kita pulang dulu untuk membahas lebih lanjut!" tukas Albert.


Sejenak mereka menunggu hingga semua anggota pilar memasuki gudang. Setelah keadaan dirasa aman, Heksa segera menginjak pedal gas untuk membawa mereka kembali ke rumah Tuan Billy.

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2