
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari tatkala mobil Shinta yang digunakan Albert memasuki area markas Gold Wings wilayah timur yang dikomandani oleh Heksa. Albert merasa sangat lega setelah urusan hati telah diselesaikan dengan baik di rumah Tuan Billy, meski terjadi ganjalan terkait Belia dan April. Namun Albert yakin, lambat laun Belia dan April akan mampu menemukan calon tambatan hatinya sendiri-sendiri kelak di kemudian hari.
"Bos, pagi buta begini masih juga berangkat ke markas. Kenapa tidak istirahat saja dan kesini besok?!" sambut Libra.
Sejak Albert memberikan kepercayaan pada Libra sebagai penunjuk arah markas para pilar Hellfire, Libra merasa semakin nyaman bernaung dibawah bendera Gold Wings. Kepemimpinan Albert terasa begitu mengayomi baginya.
"Apa kau gila?. Disana ada 4 gadis muda. Dan aku satu-satunya pria selain Tuan Billy. Apa kau ingin terjadi sesuatu karena aku berlama-lama disana?!" sembur Albert sewot.
"Yah siapa tahu aja si Bos butuh pitamin hehe," Libra menjulurkan lidah.
"Ck, Pitamin gundulmu. Yang ada malah pitaminku terkuras habis jika harus melayani mereka berempat sekaligus!" cebik Albert dongkol.
"Helleh. Tak perlu menggubris omongan Libra. Emang dasarannya dia somplak. Gimana bro rencana penyerangannya?" Sabir datang bergabung dalam obrolan, sedangkan Heksa terlihat sibuk mengaduk kopi di dapur markas.
"Aku masih menunggu Silvana..."
"Apa, Silvana?. Silvana siapa lagi tuh?" Sabir terperangah.
"Eh anu, Silvana apaan. Maksudku rencana, ya benar, Rencana!" Albert menjadi gelagapan sendiri karena kelepasan menyebut nama Silvana.
"Apakah dia calon ketiga?!" Sabir memicingkan mata.
"Husss..apaan sih. Balik ke topik!" Albert semakin meradang.
"Ehm..menurut Silvana, kemampuan tertinggi para pilar ada pada kingkong perak tingkat puncak. Itu artinya akan setara dengan Sabir dan Heksa. Jika keduanya diturunkan menyerang, haha tak perlu menunggu Silvana, mereka pasti bisa mengatasinya!" batin Albert dalam diamnya.
"Gimana, Bos?" Heksa muncul dengan nampan berisi beberapa gelas kopi yang masih mengepul asapnya.
"Besok kita akan melakukan penyerangan. Aku dan Libra akan melakukan peretasan pada jalur komunikasi dan CCTV agar pergerakan kita tak diketahui siapapun!" ucap Albert memberikan pengaturan.
__ADS_1
Meski Albert berkuliah pada jurusan managemen, namun sejak SD dia telah memiliki ketertarikan yang besar pada semua hal yang berkaitan dengan IT. Secara otodidak dia belajar untuk memenuhi rasa hausnya pada ilmu IT.
"2 Anggota Libra dan 18 anggota Gild Wings wilayah timur bertugas sebagai back up jika ada buruan yang lolos atau ada yang ingin mencari bantuan. Penyerang utama adalah Heksa dan Sabir!" lanjut Albert.
"Dongky, ketua mereka memiliki kultivasi tinggi lho, Bos. Apa tidak riskan jika hanya 2 orang yang masuk?" Libra menyangsikan.
"Setinggi apa dia?" Albert menoleh.
"Kabarnya sih, Kingkong perak tingkat puncak dan aura biru tingkat puncak," ucap Libra serius.
Albert melirik Sabir dan Heksa, memberikan kode dengan kedipan mata.
BLARRR
BLARR
"Cukupp!!" Albert menggerakkan tangannya seperti menggenggam udara yang membuat tekanan energi menghilang tiba-tiba.
"Ka-kalian ber-dua..."
"Apa kau masih meragukan kami?" Sabir menatap tajam kearah Libra yang sedang bersusah payah bangkit dari lantai dalam kondisi kaki kanannya yang masih proses penyembuhan dari cedera.
"Aura biru?!. Berarti kalian..."
"Benar sekali, kingkong perak puncak dan aura biru puncak!" potong Heksa.
GLEKK
Libra menelan ludah dengan kasar melihat kemampuan Sabir dan Heksa. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Gold Wings memiliki personel yang luar biasa.
__ADS_1
"Apakah komandan lainnya juga seperti kalian?" wajah Libra terlihat ketakutan.
"Tentu saja, aku tak mau jika hanya memiliki banyak anak buah, namun kosong isinya!" tegas Albert.
Pandangan Libra beralih pada Albert, "Jika komandannya saja sudah sehebat ini, bagaimana dengan bosnya?" batin Libra bergidik ngeri.
"Kenapa menatapku seperti itu?, kau juga penasaran dengan kemampuanku?" Albert memiringkan kepalanya turun serong ke kiri untuk bisa menatap wajah Libra yang semakin tertunduk.
"I-iya, Bos." Libra gemetaran.
"Kau takkan sanggup menahannya. Minimal kau akan pingsan seketika jika menerima paparan energinya dengan jarak sedekat ini. Oh tapi baiklah, kau mendapatkan kehormatan mengetahui kemampuanku meski belum ada satupun komandanku yang mengetahuinya." Albert kini menatap satu per satu wajah Sabir, Heksa, dan Libra secara bergantian, "Karena kalian akan mengalami kesulitan jika menerima tekanan tenagaku, bahkan beresiko twrjadi kerusakan organ dalam, maka aku tak akan menunjukkan tekanan energi. Sebagai gantinya, kalian akan melihat ketebalan aura yang akan kualirkan sebentar lagi!" Albert tersenyum simpul.
Dalam beberapa detik kemudian, tubuh tegap Albert sudah diselimuti cahaya hitam pekat. Begitu tebalnya aura hingga membuat tubuh itu bagai bayangan hitam tanpa terlihat kontur tubuh aslinya sama sekali. Tubuh Albert kini seolah siluet gelap dengan pendar cahaya hitam yang mengelilinginya.
"A-aura hitam?!" Heksa terbelalak takjub.
"Benar sekali. Tepatnya, aura hitam tahap puncak!" ujar Albert sembari menarik kembali pancaran aura hitam dari tubuhnya.
"Berarti, kau..." Sabir menutup mulutnya dengan mata terbelalak.
"Basic Lion merah tahap puncak!!" gumam Heksa yang twrdengar oleh Sabir dan Libra.
Libra terduduk dengan tubuh luruh lemas. Ia kini merasa sangat kerdil. Petarung awam tanpa kemampuan kultivasi yang hanya dianggap seekor semut bagi para komandan Gold Wings. Apalagi dihadapan Albert, hanya seperti butiran debu.
"Bagaimana Libra, masih ragu jika Sabir dan Heksa akan menyerang sendiri?" tanya Albert.
"Ampun bos, saya tidak berani menatap kalian lagi. Saya terlalu bodoh untuk bisa mengetahui betapa hebatnya kalian!" Libra mengakuinya dengan malu.
..._-_-_...
__ADS_1