
Hari terakhir di vila kaki gunung dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Albert untuk melakukan beberapa pengaturan. Meski Kultivasinya sudah cukup tinggi, namun tidak bagi teman-temannya, juga Via. Mereka masih cukup riskan jika berhadapan dengan lawan yang lebih tinggi kemampuannya.
"Dengan Basic Angsa putih level 4 dan aura level 4 sebenarnya kalian cukup diatas rata-rata. Bahkan Bang Yoga saja jauh dibawah kalian, karena dia hanya manusia awam yang hanya memiliki kemampuan beladiri tanpa kultivasi. Tapi kalian tidak boleh teledor, lebih-lebih sombong dan berpantas diri," nasehat Albert mengawali pembicaraan.
"Kami paham. Diatas ilmu masih ada ilmu, diatas ahli masih ada ahli. Jadi kami sadar sepenuhnya jika ini belum seberapa," sambut Vano bijak.
"Tapi kita juga jangan sampai minder dan merasa rendah diri. Itu akan melunturkan semangat kita," imbuh Huri.
"Jadi, yang sedang-sedang saja gitu yah?" Sabir terlambat berpikir.
"Lakukan semua sesuai porsinya. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik!" Via ikut berkomentar memberikan kesimpulan.
"Untuk kalian bertiga, tugas kalian disana nanti adalah menangani para komandan geng Maniac. Aku juga tentu akan membantu, tapi kalian janganlah terlalu bersandar padaku, disana akan begitu kacau kondisinya. Kita dituntut untuk berlaku mandiri dan penuh strategi!" Albert melanjutkan nasehatnya.
"Siap komandan!" ucap Sabir mewakili kedua temannya.
"Sekarang giliran kami bertanya padamu, bro. Kekuatan ini, ruang hampa, cincin ruang, dan semua kemudahan kultivasi kau dapatkan dari mana?" Huri memicingkan mata penuh rasa penasaran, begitu juga dengan yang lainnya, termasuk Via.
"Haruskah kuceritakan?" ucap Albert berusaha mengulur waktu karena tak siap dengan jawabannya.
"Silvana, aku harus bilang apa?" desis Albert dalam hati.
__ADS_1
[Sebaiknya Kakak berterus terang saja kepada mereka. Sejauh ini mereka terbilang setia pada Kak Albert. Lagipula semua kultivasi dan aura yang mereka dapatkan, sejatinya adalah hadiah dari sistem. Selama mereka setia, maka akan baik-baik saja dan justru meningkat. Namun jika mereka berkhianat, maka melepaskan hubungan dengan Kak Albert juga secara otomatis melepaskan hadiah yang mereka dapat. Mudahnya, mereka akan kembali menjadi manusia awam jika tak setia]
"Sebenarnya aku memiliki sebuah rahasia," ungkap Albert perlahan.
Semua menatap ke arah Albert dengan serius.
"Sebelum aku bercerita, kuminta ikrar kesetiaan kalian padaku. Karena ini sangat krusial dan berbahaya jika didengar oleh pihak luar. Dan semua ada konsekuensinya. Jika di kemudian hari kalian berkhianat, maka semua kekuatan yang kalian miliki, termasuk aura pada tubuh Via akan dicabut. Ditambah lagi aku akan menghancurkan pita suara kalian, sekaligus menghapuskan memori kalian tentang segala hal yang berhubungan denganku. Apa kalian sanggup?" Albert mengedarkan pandangan pada semua yang ada disana.
"Aku akan setia padamu, sayang!" Via yang pertama angkat bicara dengan penuh keyakinan.
"Aku juga sama, siap setia padamu." Sabir mengekor dibelakang Via.
Beruntun Huri dan Vano juga tanpa ragu mengucapkan ikrar, "Aku siap dengan segala konsekuensinya!" jawab keduanya serempak.
"Wah beruntung sekali kau, bro. Selamat ya. Sebagai sohib, aku ikut senang dan bangga.." Huri tersenyum tulus.
"Aku ga salah milih cowok," Via tersipu malu-malu.
"Bukan hanya Kak Via, kita semua beruntung karena telah mengenal Albert dan bisa dekat dengannya!" ucap Vano ikut bahagia.
Bagaimana dengan Sabir?. Dia sejak awal Albert bercerita sudah melongo tanpa henti. Insting Sabir untuk menggunakan Albert sebagai panutan sejak awal ketika masih mahasiswa baru, ternyata cukup jitu. Sabir adalah pendukung Albert garis keras. Kerasukan maksud Author.
__ADS_1
"Sebaiknya kita segera berkemas untuk kembali ke kota. Dua mobil ditinggal disini saja. Kita berangkat dengan satu mobil. Kedepan, kita mungkin akan tinggal disini. Dengan ruang hampa, kita bisa masuk dan keluar dimana saja tanpa menguras waktu." Pungkas Albert menyudahi pembicaraan mereka.
"Kalau begitu, aku akan meminta Papa untuk menjual saja rumah kita yang di kota. Kita fokus tinggal di vila ini," ucap Via.
"Sepertinya tidak perlu. Sementara rumah itu akan kita gunakan sebagai markas. Tenang saja, kelak aku akan membelinya. Aku berencana mendirikan sebuah perusahaan disana!" sergah Albert.
"Wah bagus sekali. Aku mendukungmu, Sayang." Via sangat antusias mendengar rencana dan semangat kekasihnya.
"Pak, sebelum berdesakan, sebelum berjubel, sebelum banyak saingan, ijinkan saya melamar kerja mulai dari sekarang. Jadi OB pun tak masalah," canda Vano mencairkan suasana yang sebelumnya terkesan serius.
Seperti biasa, Albert menanggapinya dengan serius, "Kalian bertiga akan menjadi orang-orang penting di perusahaanku nanti!" ujar Albert.
"Aku ga diajak nih?" Via merajuk.
"Tergantung.." jawab Albert mengambang.
"Tergantung apa?"
"Tergantung, kelak kamu mau jadi istriku ga?!. Kalau ga, ya ke laut ajaa!!" sepertinya Albert sedang becanda, namun wajah seriusnya tak menyunggingkan senyum sedikitpun.
Via hanya tersipu malu dengan pipi memerah seperti cabe digoreng campur saos baso.
__ADS_1
..._-_-_...