
Albert dan Via memilih untuk berjalan-jalan sejenak pagi itu untuk mencari semangkuk bubur ayam sekaligus membicarakan permasalahan mereka.
"Sayang, maafin aku ya sudah menuduh yang tidak-tidak padamu dan Kak Cintya. Tak pernah terpikir olehku jika kalian ternyata masih saudara," lirih Via saat mereka sedang bersantai menunggu bubur ayam disiapkan.
Pagi itu mereka berhenti di sebuah taman bermain. Tempat tersebut belum terlalu ramai, juga karena masih hari efektif sehingga anak-anak dan orang dewasa yang biasa bermain atau berolahraga disana tidak terlalu banyak.
"Kau tidak salah, Honey. Lagipula, hubungan kami hanya saudara angkat, masih terbuka celah hubungan karena kami tidak sedarah," jawab Albert sambil mengaduk bubur ayam yang baru dihidangkan.
Albert termasuk jenis orang yang suka memakan bubur ayam dengan cara diaduk rata dulu, baru memakannya. Berbeda dengan Via yang memakannya dari pinggir, sedikit demi sedikit, tanpa perlu mengaduknya. Kalau kalian, termasuk kelompok yang mana?, Author sih kelompok Albert.
"Apa kau ingin mengatakan bahwa memang sebenarnya kalian memiliki hubungan khusus?" Via memicingkan mata.
"Ya. Tak dapat dipungkiri jika hubungan kami terbilang khusus. Aku begitu dekat dengan Kak Shinta layaknya adik-kakak, atau mungkin teman tapi mesra, tapi aku juga bingung hubungan ini mau dibawa kemana. Aku sangat menghormati Tuan Billy, dan aku cukup tahu diri jika aku hanyalah anak seorang pembantu!" bukan Albert ingin menyakiti Via dengan keterus-terangannya, namun dia tahu bahwa Via cukup berjiwa dewasa untuk menyikapi itu semua.
Via menghela napas, "Heehmm, ini sulit, Sayang. Ketika aku berpikir bahwa hubungan kita adalah satu-satunya, ternyata ada hubungan lain yang meski tak berstatus namun memiliki peluang yang sama. Aku tak akan egois memaksakan perasaanku. Disana ada hati lain milikmu dan Kak Cintya yang juga bisa terluka. Jadi, semua sekarang kembali pada kebijakanmu. Sudah menjadi kodratnya, pria bebas memilih, wanita berhak menentukan," Via meminta Albert berpikir bijak, namun nyatanya justru kini Via yang telah berpikir bijak.
__ADS_1
"Pria bebas memilih, wanita berhak menentukan?" kening Albert berkerut.
"Kita buat contoh saja agar lebih mudah. Kamu sebagai pria, memiliki hak kebebasan dalam memilih si A, B, C, dan seterusnya untuk menjadi kekasih. Namun apapun pilihanmu juga tergantung keputusan si wanita, apakah dia menerima atau tidak!" terang Via.
"Ooh. Apakah maksudmu bahwa hubungan kita akan kembali mengambang setelah kehadiran Kak Shinta?. Sejujurnya, aku cukup egois untuk bisa mempertahankanmu!" ada sebuah penekanan dari Albert dalam ucapannya, dan Via bisa menangkapnya.
"Hahaha, kau itu begitu polos dan naif. Segitu mudahnya menjabarkan ini semua tanpa berpikir efek sampingnya. Jika bukan aku, mungkin kau sudah ditinggal pergi oleh kekasihmu, Sayang. Tapi kau tak perlu berpusing-pusing ria tentang itu semua. Aku berpikir simple saja, kita masihlah sepasang kekasih, dan kalian masihlah adik-kakak dengan hubungan kedekatan khusus. Nantinya, pilihan istrilah yang patut kau pikirkan. Kita masih kuliah, nikmati saja yang ada!" Via tersenyum garing.
"Itulah kenapa aku lebih suka menjalin hubungan dengan wanita yang berusia diatasku. Kalian begitu bijak dalam bersikap!" lirih Albert seakan malu untuk mengakui egonya sendiri.
Mungkin jarang terjadi keadaan seperti yang ada pada Via dan Albert. Tidak ada pertengkaran dalam perselisihan mereka. Mereka bertutur dengan santun dan tenang. Namun setiap kata yang dipilih, setiap kalimat yang terlontar, sarat akan muatan penuh makna. Sebuah pengendalian emosi yang baik dari mereka, namun akan berubah menjadi malapetaka jika dikemudian hari satu diantaranya ataupun keduanya salah dalam mengambil langkah.
[Kak Albert. Baru kali ini aku bilang jika Kakak itu bodoh!!. Bisa-bisanya memberatkan 2 wanita sekaligus, Hadooh. Apa Kakak tidak bisa menghargai perasaan Via?]
"Lalu aku harus bagaimana, Silvana?. Kenyataannya, mereka berdua dekat denganku!"
__ADS_1
[Apa Kakak tidak khawatir jika mereka akan meninggalkan Kak Albert setelah tahu bahwa ternyata Kakak orang yang maruk?!]
"Entahlah, Sil. Aku hanya berusaha untuk jujur. Yang penting bagiku adalah jujur terlebih dahulu. Jika toh nantinya mereka akan menjauh dariku, tak masalah. Kan masih ada kamu, kekasih online-kuh, hehe."
[Helleh. Gombal Mukiyo!]
Usai membayar bubur ayam, keduanya bergegas menuju mobil untuk segera kembali ke kantor Gora. Namun baru saja tangan Albert meraih handle pintu, terdengar teriakan dari sisi belakang mobil.
"Berhenti Woy!!"
"Apa benar lelaki itu yang telah menghajar kalian berdua tempo hari?" ucap seorang pria kekar pada dua pria lainnya.
"Benar. Aku masih mengingat jelas wajah bocah sialan ini!" jawab salah satu pria.
Didepan Albert dan Via, berdiri 10 orang preman dengan seringai bengis menghadang mereka. Dua diantaranya masih diingat oleh Albert, yakni dua pria yang sempat ia hajar di area kosan Shinta.
__ADS_1
..._-_-_...