
Meski Albert cukup lelah karena langsung melakukan pengintaian setelah tiba di kota Suretown, namun ia tak sampai hati untuk menolak Tuan Billy yang begitu bersemangat tatkala melihat Albert datang. Alhasil, Albert dengan patuh duduk di ruang tamu sambil bernostalgia mengenang masa-masa saat ia bersekolah dulu. Libra dan Sabir memilih ikut Heksa pergi menuju Markas Cabang Gold Wings wilayah timur untuk berkenalan dengan anggota lainnya. Albert juga berjanji akan menyusul kesana setelah larut malam nanti.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" Tuan Billy tersenyum teduh.
"Baik, Tuan." Jawab Albert sungkan.
"Panggil, Papa, jangan Tuan. Kau sudah kuanggap anakku sendiri!" tegur Tuan Billy tak suka dengan cara Albert memanggilnya.
"I-iya, Pa." ucap Albert kikuk.
"2 Perusahaan yang ada disana apakah lancar?" lanjut Tuan Billy.
Memang sejak Albert menerima tongkat estafet sebagai penerus semua perusahaan, Tuan Billy lebih banyak berdiam diri di rumah. Ia ingin menikmati usia senja dengan tenang. Begitu juga dengan Tuan Gora yang menarik diri dari urusan kerja dan mempercayakan pada Via untuk mengelola BILLY GORA GROUP dibawah pantauan Albert sebagai puncak pengelolanya.
"Kondisi BILLY GORA GROUP dan juga BARA CORPS cukup stabil, Tuan, ehm Pa." ujar Albert masih canggung.
"Syukurlah. Sejak dulu aku sangat yakin bahwa kau adalah satu-satunya penerus yang paling cocok mengemban amanahku. Bahkan kelak kau akan bisa mengembangkan usaha kita lebih pesat, karena aku tahu bahwa kau mampu dan cakap, hahaha.." Tuan Billy terbahak seolah melihat cerminan dirinya dikala muda dulu.
"Eh ada Kak Albert. Astaga, sudah berapa tahun kita tak bertemu, Kak?" Belia, adik bungsu Shinta yang terpaut umur 1 tahun lebih muda daripada Albert muncul dari ruang tengah.
"Ah Belia, kau sudah dewasa sekarang. Ehm, kau sudah kuliah juga pastinya?!" Albert tampak ceria begitu melihat Belia yang sudah seperti adik kandung bagi Albert.
__ADS_1
"Iya, aku kuliah di kota ini juga. Papa tuh ga kasih ijin buat aku kuliah di luarkota, huffh.." Belia memanyunkan bibir hingga kecantikannya bertambah semakin imut.
Perlu diingat kembali bahwa anak dari Tuan Billy adalah 3 orang gadis yang cantik jelita. April sebagai anak sulung, gadis berusia 25 tahun, namun belum juga mendapatkan pendamping hidup. Anak yang kedua adalah Shinta Cintya, berusia 23 tahun, terpaut 3 tahun lebih tua dari Albert atau terpaut 1 tahun lebih tua dari Via yang berumur 22 tahun. Sedangkan si bungsu, Belia, berumur 19 tahun. Semuanya cantik, bertubuh menarik, dan tak ada satupun yang telah memiliki kekasih. Kecuali Shinta dengan Albert sebagai kekasih gelapnya.
"Kau tak perlu kuliah jauh-jauh. Ilmu dimanapun akan sama saja. Apalagi Papa tak tega melihat anak bungsunya hidup sendiri di kota lain!" terang Tuan Billy pada Belia.
"Iya, Pa. Belia ngerti kok. Tadi itu aku hanya becanda," jawab Belia tersenyum manis.
Sebenarnya Albert selalu kagum jika memandangi 3 orang anak Tuan Billy yang kecantikannya memang diatas rata-rata. Namun ia tak pernah berinisiatif untuk mendekati satupun dari mereka hingga Shinta terpaksa mengambil inisiatif terlebih dahulu untuk mendekati Albert.
Tanpa Albert sadari, ke 3 anak Tuan Billy sebenarnya juga kepincut pada ketampanan sang saudara angkat. Bahkan si anak sulung, April, memilih untuk tetap menjadi single karena masih memiliki harapan lebih pada Albert.
Shinta yang keibuan selalu bisa mengambil hati Albert melalui nasehat-nasehat dan perlakuan lembut khas wanita dewasa sehingga Albert seperti menemukan FigurX, eh figur pengganti ibu yang begitu ia dambakan.
April, dengan gayanya yang saklek, tegas, dan kurang suka basa-basi membuatnya tertinggal satu poin dibelakang Belia dan Shinta. Namun sekali saja April memanggil, Albert langsung patuh dan setia menemaninya. Ia adalah tipe wanita yang tak mau dibantah.
"Kak April, sini deh. Apa kamu tak kangen dengan Kak Albert?" teriak Belia memanggil April.
Dengan gaya ogah-ogahan April berlagak seperti terpaksa menuruti panggilan adiknya, padahal didalam hatinya ia berteriak senang bukan kepalang.
"Halo Albert, gimana kabarmu?" sapa April datar.
__ADS_1
"Baik, Kak. Gimana kabar butiknya, tentu sekarang semakin berkembang ya?!" jawab Albert dan balik bertanya.
"Lumayanlah, beberapa orang penting di kota ini sudah menjadi pelanggan tetap butikku," ujar April membanggakan diri.
"Wah kalian kumpul-kumpul kenapa tak mengajakku?" tiba-tiba Shinta muncul bersama Via, ikut bergabung di ruang tamu.
"Dasar ganjen," desis April begitu melihat Shinta.
"Nenek tak laku, kau ngomong apa barusan?!" Shinta melotot galak ke arah Kakaknya.
"Eh enak saja kalau ngomong. Tak punya tata krama. Lebih baik jadi nenek tak laku daripada jadi cewek tapi keganjenan!" April tak mau kalah.
"Ck, Ganjen darimana coba?. Aku biasa aja kok yah. Tanya aja sama Via kalau tak percaya. Kak April tuh yang sok jual mahal kalau didepan Albert, padahal berharap bangettt!!" cebik Shinta dengan wajah jengkel.
"Apanya yang jual mahal?!. Aku memang seperti ini orangnya, tidak dilebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan. Apa adanya saja!" April membela diri.
"Yang bener saja, Ka..."
"Cukuppp!!" Tuan Billy langsung memotong karena tak tahan melihat kedua anaknya yang selalu berperang mulut setiap kali bertemu.
..._-_-_...
__ADS_1