
Ana keluar dengan tangisan yang masih tak kunjung henti. Ia berharap jika ujian hidupnya segera berakhir karena ia sudah tidak sanggup lagi untuk berhadapan lagi dengan pria seperti Nicholas. Pria itu seperti malaikat maut yang sedang ingin mencabut nyawanya.
Ana duduk di sebuah kursi tunggu yang berada di lantai dasar, nafasnya masih tersendat karena rasa sesak yang dirasakannya. Elisa yang baru saja menyelesaikan satu kamar langsung terhenti melihat kondisi Ana yang tampak mengkhawatirkan. Sudah beberapakali ini Elisa selalu melihat Anastasia menangis dan murung seperti ini. "Sebenarnya ada apa Ana? Kau jangan sungkan untuk menceritakannya padaku," ucap Elisa dengan penuh rasa iba.
Anastasia semakin menangis mendengar pertanyaan dari Elisa. Ia langsung menarik tubuh Elisa dengan sangat erat, ia ingin sekali bercerita namun ia masih merasa takut jika harus menceritakan ujian hidup dirinya. Walaupun ia yakin jika Elisa adalah orang yang sangat baik dan dapat dipercaya, tapi untuk saat ini ia masih belum sanggup untuk menceritakannya kepada Elisa.
"Mungkin masalah yang kini tengah kau hadapi sangat berat, walaupun aku tidak tahu masalah apa yang kau hadapi. Tapi percayalah Ana, kau akan mendapatkan solusi dan jalan keluarnya," ucap Elisa seraya memeluk Anastasia dengan lembut.
Anastasia bimbang, namun ia tetap memegang teguh pendiriannya untuk tidak menceritakan terlebih dahulu pada Elisa. "Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah peduli padaku." bisa dibilang, hanya Elisa lah satu-satunya teman yang ia miliki. Selama ia memilih untuk pindah dan menetap di Meksiko, ia sama sekali tidak memiliki seorang teman. Yang ia punya hanyalah ibunya kini yang sedang terbaring lemah tidak berdaya.
__ADS_1
Anastasia merasa bersyukur karena Tuhan menghadirkan Elisa untuk hadir kedalam hidupnya dan hanya Elisa kini yang dapat mengerti kondisi Anastasia. Anastasia pun berjanji jika suatu saat nanti ketika hatinya sudah merasa lega ia akan memberanikan diri untuk bercerita kepada Elisa. Anastasia mengangguk dan tersenyum saat Elisa beranjak pergi meninggalkannya karena ada sebuah kamar kosong lagi yang harus dia bersihkan.
***
Malam harinya, Ana masih merasa sedih, dia kini berjalan seorang diri untuk kembali pulang dan memasang wajah tersenyum palsu pada sang ibu. Ucapan dan tingkah laku Nick benar-benar membuat Ana kecewa, jika ia harus keluar dari hotel kira-kira berapa denda yang harus di bayar oleh nya? oh ayolah Ana, jangankan untuk membayar denda, untuk makan pun sudah sulit, biarkan saja Nick berucap semaunya, dia akan bosan dan pergi sebentar lagi.
***
Nicholas kini tengah sibuk dengan ponselnya, entah apa yang pria itu lakukan. Hanya saja ia terlihat seperti sedang mencari tahu keberadaan seseorang. Ia melihat keluar lewat jendela jika diluar kini sedang turun hujan dengan sangat deras dan ia melihat titik orang yang ia cari tahu masih berada disekitaran hotel tempat ia menginap.
__ADS_1
Nicholas ingin menghampiri orang itu yang tak lain adalah Anastasia, tapi ia tidak ingin rencananya selama ini sia-sia begitu saja. Ia masih belum merasa cukup untuk membuat hancur Anastasia walaupun dalam hatinya yang paling dalam mengatakan jika ia sudah harus menghentikan semua rencana jahatnya terhadap Anastasia.
Nicholas kembali diingatkan dengan senyuman dan suara lembut dari Anastasia. Bagi Nicholas Anastasia memang sangat jauh berbeda dengan keluarganya yang lain, jika Ayah dan kakaknya sangat gila dengan harta, tapi Anastasia sama sekali tidak pernah gila akan harta yang dimilikinya. Nicholas selalu ingat dengan permintaan Anastasia jika ia ingin belajar untuk hidup mandiri dan sederhana tanpa mengandalkan harta yang telah diberi oleh orang tuanya yang sangat kaya raya itu.
Perasaan bersalah Nicholas kepada Anastasia semakin bertambah karena kini ia selalu melihat Anastasia murung dengan matanya yang selalu terlihat sembab seperti sudah menangis. Nicholas berpikir apa yang dilakukannya terhadap Anastasia sudah sangat keterlaluan sampai membuat wanita yang dicintainya itu terlihat seperti sangat tersiksa dengan keadaannya sekarang.
"Tapi maafkan aku Ana karena aku masih ingin melihatmu menderita," ucap Nicholas kepada dirinya sendiri.
Nicholas mengacak rambutnya dengan sangat kasar sehingga membuat rambutnya itu kini menjadi berantakan namun masih terlihat sangat tampan. Ia tidak pernah berpikir untuk menjadi orang jahat sebelumnya, jika bukan karena penderitaannya di masalalu yang dilakukan oleh keluarga dari wanita yang dicintainya ia mungkin tidak akan seperti ini.
__ADS_1