
Malam mulai semakin gelap, angin dingin semakin terasa mengelilingi Ana. Dia masih terdiam di balkon seorang diri, menghirup udara dengan perlahan sambil mencoba untuk menenangkan pikirannya. Entah bagaimana caranya untuk Ana bisa melupakan sejenak permasalahan yang terjadi hari ini.
Ana menggosok pelan jemarinya, udara malam terasa semakin dingin. "Huh," lirih Ana pelan, dia melihat ke arah bawah di mana tampak tak ada satu orang pun yang melintas. Ana berbalik dan menutup pintu balkon dan mengikat rambutnya dengan asal, memperlihatkan kulit leher yang begitu indah dan menambah kecantikannya. Ana berjalan menuju sebuah meja dan mengambil gelas yang hanya dia miliki 2 saja di dalam rumah ini. Sungguh miris bukan? lagi pula siapa yang ingin bertamu di rumah kecil ini? teman saja Ana tidak memilikinya. Lagi-lagi Ana menghela nafasnya pelan, jika dia mengingat tentang roda kehidupan selalu saja membuat Ana sesak. Setelah cukup meratapi nasib, Ana menuangkan air ke dalam gelasnya dan langsung meneguk air tersebut.
__ADS_1
Jika bisa berteriak, Ana akan berteriak kencang. Semenjak kebangkrutan ayahnya, semua yang dia miliki menghilang dalam sekejap, tatapan semua orang berubah dan mulai menunjukkan kebencian mereka. Ayahnya yang tampak frustasi setiap hari dan berada di titik putus asa mencari jalan keluar yang gila, dia mengakhiri hidupnya tanpa memikirkan kedua anak yang harus bertahan hidup dengan berbagai kebencian dari orang yang memiliki sakit hati pada ayahnya. Tak sampai di sana, Ana mengira sang kakak akan bersikap dewasa dan menenangkan keadaan, namun rupanya dia menggunakan cara yang salah dalam bertahan hidup, dia menjual obat terlarang dan masuk ke dalam jebakan para polisi yang sedang mencari beberapa pengedar obat. Dalam kesendiriannya, Ana sudah lelah pada hidup, dia hampir menyerah dan mengambil jalan seperti sang Ayah, tapi tiba-tiba Ellys datang dan menjemput Ana, Ayah dan Ibunya sudah lama bercerai, kelakuan Ayahnya yang selalu berselingkuh membuat Ellys muak dan memilih untuk pergi. Tapi sayang, baru setahun Ana bersama dengan Ellys, sang ibu menderita sebuah penyakit yang membuat Ana harus bisa bertahan hidup dan mencari uang untuk kesembuhan ibunya, keluarga satu-satunya yang Ana punya.
Anastasia melipatkan kedua tangannya di atas meja, lalu membiarkan kepalanya bersandar di atas tangannya itu. Ingin sekali rasanya ia segera terlelap, namun ternyata sangat sulit untuk ia lakukan.
__ADS_1
Anastasia berjalan menuju tempat tidurnya, ia berharap jika malam ini ia dapat tidur dengan tenang seperti malam-malam biasanya. Kehadiran Nicholas membuatnya tidak tenang, bahkan untuk terlelap pun Anastasia merasa takut jika Nicholas tiba-tiba berbuat jahat padanya.
Hanya rasa dendam lah kini yang terlihat dari Nicholas, Anastasia sungguh tidak percaya jika pria itu akan menyimpan dendam sebesar itu kepadanya dan keluarganya. Andai saja Nicholas mau menerima permohonan maafnya, mungkin ia akan sedikit lebih tenang.
__ADS_1
'Kau hadir kembali dengan begitu banyak perubahan Nick. Kau sangat membuatku takut sekarang, kau sangat jauh berbeda dengan Nick yang ku kenal dulu. Nick yang selalu berbicara dengan lembut kepadaku, tapi kini kau terlihat begitu kasar dan tatapan matamu kepadaku kini hanya kebencian'