
Ana terus mengenggam erat tangan Ellys yang kini tengah terbaring disebuah brankar dan segera di bawa menuju ruang perawatan. Tangisan Ana semakin menjadi saat salah seorang perawat memintanya untuk menunggu diluar dan membiarkan dokter untuk memeriksa Ellys.
Ana duduk di sebuah kursi tunggu, perasaannya kini sangat tidak karuan dan ia merasa jika ia gagal untuk menjadi seorang anak yang tidak bisa merawat ibunya dengan baik. Ana tidak mempunyai banyak pilihan, jika ia memilih untuk tidak bekerja maka ia akan kesulitan untuk merawat ibunya dikarenakan pengaruh ekonomi yang sangat kurang.
Air mata itu terus mengalir deras di pipi Ana, ia tidak bisa berhenti menangis karena sampai saat ini dokter masih belum keluar dan memberikan kabar baik tentang ibunya. Ana merasa sangat hancur karena hanya ibunya lah yang saat ini ia miliki. Andai saja ada seseorang yang mampu membuatnya lebih tenang, mungkin ia tidak akan serapuh ini.
Ana mendengar suara langkah cepat seperti orang yang sedang berlari dan terburu-buru. Ia langsung mencari dimana sumber suara itu, dan saat Ana melihat seorang pria berlari ke arahnya dengan wajah yang sangat khawatir. Ana merasa sedikit tenang saat ia melihat siapa yang datang menghampirinya.
Ana semakin terkejut saat pria itu menariknya ke dalam pelukan pria yang memiliki dada yang bidang itu. Pelukan yang sangat ia harapkan, pelukan yang selalu ia rindukan. Ana merasa jauh lebih tenang saat pria itu memeluknya dengan sangat erat, seakan tidak ingin melepaskan Ana darinya.
"A..ana maafkan aku," Lirih Nick sambil menangis dalam pelukan.
Ana mengangkat wajahnya dan mengenggam tangan kekar milik Nick. Meskipun ia masih sangat merasa kesal dan kecewa pada pria yang kini berada dihadapannya, namun tidak bisa dipungkiri jika Ana juga sangat merindukan kehadiran Nick dalam hidupnya. Mungkin juga karena bawaan sang bayi yang berada dikandungannya itu. Ana menatap dalam manik mata berwarna cokelat karamel milik Nick, ia seolah mengisyaratkan jika Nick jangan pernah meninggalkan Ana lagi.
"Nick!" Lirih Ana dengan memberikan sebuah senyuman tipis.
"Aku tidak tahu jika selama ini kau tinggal bersama ibumu, karena yang ku tahu dulu setelah orang tuamu bercerai ibumu tidak pernah menemuimu sekali pun," Lirih Nick terdengar seperti menyesali semua yang terjadi pada Ana.
__ADS_1
Ana hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Ia tidak menjawab apa yang telah di ucapkan oleh Nick, karena untuk menyesali yang sudah terjadi pun percuma. Tidak ada yang perlu disesali dalam hidup Ana, ia hanya ingin fokus menata masa depannya dan juga calon anaknya dan Nick.
"Sudahlah Nick," Lirih Ana terdengar sangat lembut di telinga Nick.
Ana langsung ditarik untuk masuk ke dalam pelukan Nick lagi. Pria itu terlihat sangat bersedih dan menyesal, andai saja waktu dapat di putar kembali. Mungkin Nick tidak akan pernah menyakiti Ana walaupun hanya sedikit. Ana terhanyut dalam pelukan Nick, Ana terlihat seperti menikmati suasana seperti ini. Hanya ada Ana dan Nick yang berdiri di lorong rumah sakit itu, tidak ada satu pun orang yang terlihat.
Hingga akhirnya seorang dokter datang dan menyadarkan Ana dan juga Nick yang terlalu sibuk dalam pelukannya. Mereka terlihat sangat gugup saat dokter itu tersenyum padanya, perawat itu memasang waiah malu dan merasa menganggu Ana dan juga Nick.
Ana langsung menghampiri dokter itu dan berharap mendapatkan kabar yang baik dari ibunya yang masih terbaring lemah di ruang rawat itu. Ana melirik sekilas saat tangan kekar Nick meraih tangannya dan menggenggam tangan Ana dengan sangat erat. Ana merasa jika Nick berusaha untuk menguatkan Ana apapun yang akan disampaikan oleh dokter itu.
"Bagaimana keadaan ibuku?" Tanya Ana berharap cemas.
"Kenapa dok? Ibuku baik-baik saja kan? Aku ingin segera menemuinya dok," Ucap Ana dengan perasaan yang semakin tidak karuan.
"Ibumu sudah meninggal, sekali lagi kami mohon maaf. Tuhan sudah berkata lain dan kami hanya berusaha namun Tuhan lah yang berkehendak," Ucap dokter muda itu sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Ana dan juga Nick.
Seketika Ana ambruk dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai, ia tidak menyangka dengan kabar yang disampaikan oleh dokter tadi jika ibunya kini telah tiada. Ana merasa jika dunia nya langsung hancur dan semua harapannya langsung hilang begitu saja. Satu-satunya harta yang ia punya kini harus tiada, Ana merasa dirinya kini menjadi sebatang kara. Sudah tidak ada lagi keluarga yang menemani hidupnya.
__ADS_1
***
Nick terlihat menangis saat mendapatkan kabar duka tentang Ellys, ibunya Ana. Ia sangat rapuh saat melihat Ana yang kini menangis dengan sangat keras. Ia meraih tubuh Ana dan membantu wanita itu untuk bangun dan membernarkan posisinya. Tanpa banyak berpikir Nick langsung memeluk Ana dan mencium kening Ana.
Kini Nick merasa jika bajunya sudah basah karena Ana yang menangis diatas dada bidangnya. Ia memilih untuk membiarkan wanita itu agar puas dengan tangisannya, ia tidak ingin menganggu dan membuat perasaan Ana semakin kacau.
"N..nick," Lirih Ana dengan nada yang terseda-seda karena masih saja menangis.
Nick tidak menjawab ucapan Ana, ia hanya memberi isyarat jika ia akan mendengarkan semua yang akan di ucapkan oleh Ana. Nick mengelus rambut Ana dan berharap jika wanita yang dicintainya itu bisa lebih tenang.
"Aku sudah tidak punya seseorang pun di dunia ini. Jika kau ingin meninggalkanku, pergilah. Aku tidak akan memaksamu untuk tetap tinggal bersamaku disini," Ucap Ana dengan wajah yang terlihat sangat kacau.
"Kau ini bicara apa Ana? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapanpun. Aku akan selalu ada disampingmu dan aku akan membuatmu bahagia, menggantikan posisi ayah dan ibumu akan ku lakukan. Kumohon jangan pernah kau merasa sendiri," Ucap Nick menggenggam erat tangan Ana.
"T...tapi," Lirih Ana. Belum selesai Ana berbicara, Nick meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Ana. Ia tidak ingin mendengar Ana yang selalu merasa tidak punya siapa-siapa.
"Kemarin aku berniat untuk melamarmu, tapi ternyata ada kejadian yang sangat tidak aku sangka sebelumnya. Ana aku tahu kau masih dalam keadaan berduka, tapi aku ingin kau menjadi istriku. Izinkan aku untuk bisa membahagiakanmu," Ucap Nick sambil memberikan sebuah cincin pada Ana.
__ADS_1
Ana merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Nick pria yang beberapa bulan ini ia nantikan datang untuk melamarnya. Walaupun ia masih merasa begitu sedih karena ditinggal oleh ibunya, namun hati kecilnya merasa bahagia karena Nick bersedia untuk membuatnya bahagia. Ana langsung berhambur ke pelukan Nick, ia memeluk Nick dengan sangat erat. Berharap jika pertemuan mereka kali ini tidak akan terpisah kembali.