Forever Mine

Forever Mine
Bab 18


__ADS_3

Keesokan harinya Anastasia sudah datang ke hotel lebih awal. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini ia sama sekali tidak merapihkan rambutnya, rambutnya ia biarkan tergerai dengan asal. Ia pun tidak memoleskan sedikit pun make up pada wajahnya, walaupun seperti itu Anastasia masih terlihat sangat cantik dengan wajahnya yang sangat natural.


Anastasia kini sedang bersenda gurau dengan Elisa, ia tidak ingin membuat Elisa semakin khawatir seperti hari-hari sebelumnya. Hari demi hari Anastasia semakin dekat dengan Elisa, bahkan Elisa sudah menganggap dirinya sebagai saudara sendiri. Anastasia bersyukur dan merasa senang jika dirinya bisa diterima baik oleh orang lain. "Kau harus berjanji padaku kalau kau tidak boleh lagi bersedih seperti kemarin," ucap Elisa sambil mengangkat kelingkingnya dan tersenyum pada Anastasia.


Anastasia hanya mengangguk dan menyematkan kelingkingnya ke kelingking milik Elisa. Mereka berdua pun berpelukan dan suasana seperti ini yang sangat dibutuhkan oleh Anastasia. Disaat kakaknya kini sudah tidak bisa lagi menjadi sandaran untuknya, namun Tuhan menghadirkan Elisa yang mampu mengerti dengan kondisinya.


Raut wajah Anastasia pun berubah saat ia menerima panggilan dari kamar VIP milik Nicholas. Entah apa yang akan terjadi lagi pada dirinya, kini ia mulai pasrah dengan keadaannya. Jika memang Nicholas akan menyakitinya lagi, Anastasia akan menerimanya dengan ikhlas. Karena ia percaya akan ada hadiah dibalik semua ujian yang dialaminya.


Anastasia masuk ke dalam kamar Nicholas dengan wajah yang menunduk, ia seolah tidak ingin menatap wajah pria yang ada dihadapannya itu. Karena Anastasia berpikir jika menatap wajahnya hanya akan membuat hatinya semakin terluka, tatapan tajam Nicholas yang selalu ia gunakan ketika pria itu berbicara sangat menyakitkan bagi Anastasia.

__ADS_1


"Ada apa kau memanggilku Nick?" Tanya Anastasia sambil menunduk.


Tubuh Ana sebenarnya bergetar saat melihat Nick yang tengah berjalan kearahnya, dia ingin mundur tapi tidak ingin membuat Nick kesal dan mengucapkan kata-kata kasar lagi. Ana merasakan tatapan Nick yang mengawasinya. "Kemana kalung yang aku berikan?" tanya Nick pelan.


Ana menelan Saliva dengan kuat, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. "Ada di dalam loker," jawab Ana kemudian.


"Aku tidak bisa, jika sedang bekerja aku tidak boleh mengenakan perhiasan," jawan Ana asal.


Nick tampak tak percaya, dia menaikan sebelah alisnya bingung. "Siapa yang membuat peraturan itu? aku akan menghapuskan peraturan konyol itu." Nick tampak ingin berbalik mengambil telepon yang menempel di dinding, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Ana.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku Nick?" Tanya Anastasia menatap Nicholas dengan tatapan sendunya. "Kau memberikan aku kalung dengan kata-kata mu yang merendahkan, memangnya aku ingin memakai kalung itu? Apa jauh di dalam lubuk hatimu kau masih Nick yang dulu? selalu mengingat aku kemana pun kau pergi? membelikan aku barang cantik walaupun uang mu dulu sangat pas-pasan?"


Tatapan Nick meredup dengan perlahan, namun beberapa detik kemudian Nick berdecak pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Jangan berlebihan Ana, apa kau berpikir aku masih Nick dulu yang bodoh karena cinta?" Nick kembali berjalan mendekati Ana. "Tentu saja aku ingin membuatmu hancur Ana," jawab Nick dengan sinis.


Ana menggelengkan kepalanya tak percaya, apakah ada seseorang yang menginginkan hancur memberikan perhiasan? tapi untuk apa juga Nick mempermainkannya sejauh ini? "Bunuhlah saja aku Nick jika itu bisa membuatmu senang daripada kau harus selalu mengusikku seperti ini," ucap Ana dengan sorot mata yang menatap Nick dengan cukup berani.


"Jika aku bisa aku akan membunuhmu tanpa kau suruh Ana!" ucap Nicholas.


Deg! tetap saja Ana merasa sangat sakit mendengar ucapan Nick yang seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2