
Tiga hari sudah Queen tak juga mendapatkan kabar dari Langit kekasih hatinya, perasaan sedih, khawatir, kecewa, hingga cemburu dia rasakan. Baru kali ini Langit seperti ini biasanya sesibuk apapun Langit akan selalu mencoba untuk menghubungi nya, sedikitnya melalui pesan singkat agar dia tidak menghawatirkan nya.
Mimpi yang Queen alami sebelumnya yang membuat kekhawatiran Queen selalu muncul, terkadang dia sulit untuk memejamkan matanya dan baru akan tertidur setelah dia lelah menangis.
" Mama..." Queen menghampiri sang mama yang sedang memasak dan memeluknya dari belakang.
" Iya sayang...Tumben pagi-pagi mellow gini anak mama " Giel memberikan sentuhan terakhir untuk masakannya, memastikan rasanya dan mematikan kompornya.
" Kenapa sayang...?" Giel memutar tubuhnya dan memeluk putrinya erat, tangis anak gadisnya seketika pecah. Giel mengajak sang anak untuk duduk di kursi ruang makan.
" Kangen sama Langit ?" Queen mengangguk dan kembali ke pelukan mama tercinta, sang mama membiarkan anak gadisnya untuk meluapkan emosinya melalui tangisannya.
Sementara jauh diujung timur ibu pertiwi.
Tiga hari yang lalu Langit menerima komando langsung dari pusat agar dia dan pasukannya menjaga ketat perbatasan negara, disinyalir ada yang menyelundupkan binatang yang dilindungi ke negara tetangga untuk diperjualbelikan. Instruksi yang diberikan adalah untuk mengetahui titik lokasi transaksi dan melakukan pengamanan serta penutupan wilayah agar tidak lagi dijadikan jalur untuk para penyelundup keluar masuk dan mendampingi aparat terkait untuk menangkap para pelaku.
Sesuai dengan prosedur operasi dalam menjalankan perintah, semua alat komunikasi selain alat komunikasi khusus harus ditinggalkan ditempat untuk menghindari hal-hal yang akan mengacaukan jalannya misi.
Langit dan pasukannya bergerak dalam senyap menempati titik-titik lokasi yang telah ditentukan untuk mengintai musuh, mereka tetap dalam posisinya masing-masing menunggu komando untuk bergerak.
Hanya kode-kode yang terdengar ditelinga mereka untuk sekedar menginformasikan keadaan sekitar agar mereka tetap waspada akan pergerakan yang dilakukan oleh musuh.
" Pergerakan di arah jam 15, waspada " kembali terdengar suara perintah melalui alat komunikasi yang ada ditelinga mereka.
" Lima orang bersenjata lengkap mengawal empat orang membawa target misi, tunggu komando " Suara yang pelan namun tegas dan jelas.
" Enam orang bersenjata lengkap mendekat, timur,barat utara selatan mulai bergerak, tunggu komando eksekusi "
Merekapun mulai bergerak meninggalkan di pos-pos yang sudah mereka tempati selama tiga hari berturut-turut dengan sangat hati-hati. Senjata tetap berada diposisi siap tembak, telinga dan mata mereka tetap waspada menunggu perintah selanjutnya.
" Sniper, lindungi target "
__ADS_1
" Eksekusi!"
" Jangan bergerak!!!" Bunyi tarikan pelatuk senjata mengiringi perintah agar mereka tidak melakukan pergerakan sedikit pun. Langit memberikan komando agar tiga orang anggotanya melucuti persenjataan mereka dengan lirikan matanya.
Satu persatu senjata api dan senjata tajam berhasil mereka amankan, seorang pria yang menggunakan rompi dengan tulisan bahasa asing mencoba untuk menikam salah satu anggota dengan pisau belati yang masih ada ditangannya ketika senjata miliknya akan diambil dari tangannya tetapi satu tembakan yang diluncurkan oleh sang sniper tepat mengenai pelipisnya hingga dia pun roboh seketika.
Misi berhasil dilaksanakan, aparat gabungan telah berhasil meringkus para tersangka penyelundupan binatang yang dilindungi dan membawa mereka untuk diproses secara hukum. Langit dan pasukannya kembali ke markas untuk melaporkan misi mereka selama tiga hari disana.
Malam hari dikamar. Langit sudah selesai membersihkan badannya, kulit nya sekarang lebih gelap dari sebelum dia datang ke tempat ini dan berat badannya terlihat menurun hingga otot-otot ditubuhnya semakin terlihat kering dan sorot matanya semakin terlihat tajam.
Dia mengaktifkan kembali layar handphone yang sudah dua tiga hari ini dia matikan, lalu mulai menghubungi nomor gadis yang sangat dirindukannya. Sekali panggilan tidak diangkat nya, Langit melihat jam masih pukul 9 malam disana berarti di ibukota sekarang pukul 7 malam.
Apa mungkin Queen marah yah...gue lupa ngasih tau waktu itu...
Hingga panggilan ketiga Langit baru mendengar kembali suara yang sudah tiga hari ini sangat dia rindukan.
Queen baru saja kembali dari acara kumpul-kumpul nya bersama kedua sahabat kembarnya, hari itu mereka memaksanya untuk datang ke tempat biasa karena mereka ingin memperkenalkan seseorang kepada Queen.
Queen menaruh handphone nya di meja belajarnya, dan tiba-tiba dering handphone khususnya berbunyi. Nada dering ini hanya akan berbunyi ketika Langit menghubunginya. Dia menatap nanar nomor yang tertera disana, masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Pelan tapi pasti Queen akhirnya menerima panggilan telepon tersebut.
" Ha...Hallo..." Sapa nya lirih, dia sudah tak bisa menahan tangisnya.
"Hallo sayang...Kamu lagi ngapain ?" Langit mengalihkan panggilan telepon nya ke panggilan video dan langsung diterima oleh Queen.
" Huaaaa...." Tangis Queen pecah seketika melihat orang yang sangat dirindukannya ada dibalik layar handphone nya.
Tangis Queen sampai terdengar keluar, Antoni sang ayah langsung berlari bermaksud menghampiri anak gadisnya tetapi ketika dia hendak membuka pintu kamarnya dia langsung mengurungkan niatnya setelah mendengarkan percakapan mereka.
Hadeeehhh...Anak gue ketularan bucin
__ADS_1
Dia tersenyum dan kembali ketempat nya semula, duduk di sofa ruang keluarga menikmati tontonan film bersama dengan mantan kekasih yang sekarang menjabat sebagai RI 1 dirumahnya.
" Sayang...Maafin bang Langit, abang gak sempet ngasih tau kamu waktu itu....cup...cup...cup, udah nangisnya yah..." Langit mencoba menenangkan gadis yang dicintainya yang dari tadi terus saja menangis.
" Bang Langit jahat! hiks...." Queen menghapus air mata dengan punggung tangannya, dan mengambil tisu untuk menyapu cairan yang keluar dari hidung nya
" Iya...Bang Langit jahat, lupa gak sempet ngasih tau Queen kalo bang Langit ada tugas mendadak tiga hari yang lalu, memangnya adek-adek Abang gak ada yang ngasih tau Queen ?"
" Mereka ngasih tau kok, tapi tetep aja Queen kesel...Kenapa abang lupa sama Queen " Queen terlihat menyapu kembali air matanya.
" Terus sekarang gimana? Masih kesel?" Mencoba untuk menggoda kekasih nya, Langit tersenyum melihat perubahan pada raut wajahnya
" Engga...hiks .." Sudah mau nangis
" Eeehhh....Jangan nangis lagi dong sayang, bang Langit kan kangen sama senyumnya my Queen "
" Queen juga...Kangen sama abang, tapinya Queen masih kesel " Mulai memanja, Langit tergelak
" Kangen kok sambil kesel sih sayang, itu gimana coba " Lalu Langit menceritakan kronologis nya kenapa selama tiga hari ini dia tiba-tiba menghilang.
" Terus bang Langit gak kenapa-kenapa kan? gak ada yang luka kan?? kena tembak gak?? terus itu temennya luka gak? terus gimana itu binatangnya ??" Queen sudah kembali ke mode awalnya dan Langit sangat menyukai cerewet nya Queen yang seperti ini.
.
.
.
To be continued 😉
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘
__ADS_1
Happy Reading 🤗