Gadis Tomboy Kesayangan Sang Baret Merah

Gadis Tomboy Kesayangan Sang Baret Merah
Salah Paham


__ADS_3

Pada akhirnya Langit memberikan restu nya kepada dua sahabatnya itu setelah perjuangan mereka yang dengan gigih memohon persetujuannya untuk bisa menjadikan Aurora dan Laluna sebagai kekasih hatinya.


" Awas aja kalo kedua adek gue jadi sengklek model lo berdua!"


" Mana berani....." Mulut Nakula langsung dibekap oleh tangan Sadewa sebelum dia asal nyebut lagi dan itu sudah pasti akan membuat sang calon kakak ipar menarik kembali keputusan nya.


" Lo jangan khawatirin itu bro, you have my word on it!" Sadewa menepuk dadanya.


.


.


.


" Kalian darimana aja? Kenapa baru pulang jam segini?!" Langit sudah kesal menunggu kepulangan kedua adik kembarnya, dia saja tidak berani mengantarkan Queen pulang lebih dari jam 8 malam.


" Loh, kan Abang bilang maksimal jam 9 malam, ini baru jam 8.55 bang " Jawab Aurora dengan santainya.


" Memangnya kalian abis ngapain aja sama si kunyuk itu dirumah nya?" Langit mulai curiga


" Abis latihan nembak bang, senjata punya kak Kula kecil, jadi aku rada susah makenya...Masa gak nembus-nembus " Aurora menjawab dengan jujur


" Kalo senjata kak Dewa gede, jadi gampang aku makenya, sekali nembak langsung tembus " Disambung oleh Laluna yang sama-sama jujur dan polos


"APAAAAA???!!!!" Teriakan Langit sampai terdengar oleh sang mami, Axel.


" Abang apaan sih pake teriak-teriak segala " Mami Axel menghampiri ketiga anaknya, dia ingin tahu apa yang telah dilakukan oleh kedua anak gadisnya hingga membuat sang kakak sangat murka. Langit lalu menceritakan apa yang sudah disampaikan oleh kedua adik yang saat ini telah duduk di kursi tersangka.


" Ya Tuhan!!! Papiiii...!!!"


Teriakan sang mami menambah jumlah tanda tanya yang muncul diatas kepala keduanya.


Mereka ini kenapa yah???


" Iya sayang....Ada apa? Kok mami sampe teriak gitu??" Papi Galaxy menghampiri Axel dan duduk disampingnya.

__ADS_1


" Ini ada apa sih? Kok tumben-tumbenan ngumpul disini jam segini, bukannya kalian sudah waktunya tidur?" Galaxy memandangi anak-anaknya satu persatu. Dia memang tidak menyukai jika acara kencan malam Minggu dengan mami Axel diganggu oleh siapapun.


" Jadi gini pih..." Langit menceritakan kembali apa yang telah diceritakan oleh kedua adik kembarnya, dia langsung tertawa terbahak-bahak.


" Memang Nakula dan Sadewa kasih liat senjatanya? " Pertanyaan ini langsung direspon dengan anggukan kepala yang antusias dari keduanya.


" Hah??!!" Mami Axel masih tidak percaya dengan kelakuan ayah dan kedua anak gadisnya yang sangat kompak itu.


" Mana sini, papi pengen liat fotonya.." Aurora memberikan handphone nya, disana sudah ada foto dari senjata yang dimiliki oleh Nakula dan Sadewa.


" Wah keren ini...Keluaran terbaru? Kok papi belum dikasih liat yah??" Galaxy membolak-balikkan handphone yang ada ditangannya.


" Kata mereka ini baru prototipe, masih harus di tes beberapa kali lagi pih "


" Memangnya apaan sih pih?" Langit penasaran


" Ini lho senjata milik mereka " Papi Galaxy menyodorkan handphone milik Aurora


"Ooh.... Maksud nya senjata ini toh " Langit terkekeh, dia menggaruk keningnya.


" Maafkan kak Langit, udah salah paham tadi " pintanya kepada Aurora dan Laluna, yang sampai saat ini pun mereka tidak tahu kenapa mami dan abangnya itu begitu panik mendengarkan penuturan nya tadi.


" Itu loh Na..." Galaxy sedang berusaha menyusun kalimat yang pas kepada keduanya tetapi keburu dipotong oleh sang istri tercinta.


" Udah malam papi...Ayo tidur! Kalian juga ayok cepet masuk kamar kalian!" Galaxy langsung beranjak dari duduknya dan meraih pinggang yang tak lagi ramping milik istrinya tercinta dan mengajaknya pergi ke kamar untuk melanjutkan acara kencan malam Minggu na bersama.


Keesokan harinya disalah satu cafe.


" Lo ngapain sih pake ngajak adek-adek gue kencan model gitu? Bikin panik gue sama mami tau gak?!" Langit mendengus kesal, dia hampir saja melayangkan pukulan nya di perut kedua sahabat itu.


" Lah..Emang Lo gak ngeh sama kesukaan adek-adek Lo sendiri?? Mereka mana mau diajak jalan ke mall buat belanja belanji atau ke salon " ujar Sadewa


" Ditolak mentah-mentah bro " Sambung Nakula menggelengkan kepalanya.


" Ya tapi gak maenan senjata juga kali " Langit mendecih

__ADS_1


" Daripada mereka ngajak kita hiking terus kemping ato tracking kayak waktu itu...Hampir mati kita berdua jalan berjam-jam, mana nanjak pula..." Sadewa mengingat hiking pertama dan terakhir nya dulu


" Mending nyobain senjata aja...ya kan??" Nakula menimpali.


" Asal jangan bazoka aja Lo kasih ke mereka " Langit mendapat seringai aneh dari keduanya


" Ato jangan-jangan...." Keduanya mengangguk


" Kita udah pernah nyoba waktu itu, mereka berdua sampe loncat-loncat saking bahagianya " Ucap Nakula asal. Langit menepuk keningnya sendiri.


Bisa mati berdiri gue gegara kesomplakan mereka...Udah cukup papi sama adek-adek gue yang aneh, jangan ditambahin lagi sama mahluk model beginian....hedeeehhhh


"Pokoknya kedepannya kalo mau ngapa-ngapain, kasih tau gue dulu! " Pinta Langit memaksa


" Emang Lo mau ikutan terjun payung Minggu depan?" Lagi-lagi Sadewa asal nyebut


PLAK! satu pukulan telak mendarat di kepalanya, siapa lagi pelakunya kalau bukan saudara kembarnya sendiri yang selalu merasa paling waras.


Langit berdiri dan meninggalkan mereka disana, lama-lama disana bisa membuat nya tambah gila pikir nya.


" Ngit...Woi....Yee malah pergi "


" Jadi ya ikut bareng kita, ntar gue jemput!".


Langit sadar memang dia dan keluarganya lebih banyak menghabiskan waktu di alam terbuka jika sedang menghabiskan waktu bersama. Papi, kedua pamannya bahkan Opa nya sekalipun lebih senang mengajak dia dan adik-adiknya untuk berkemah di alam terbuka ketimbang menghabiskan waktu di mall atau cafe-cafe.


Mungkin ini yang menjadi alasan kenapa kedua adik kembarnya tidak suka diajak ke mall oleh kedua sahabat somplaknya.


.


.


.


To be continued 😉

__ADS_1


Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘


Happy reading 🤗


__ADS_2