Gairah Cinta Sang Model

Gairah Cinta Sang Model
Bab 16


__ADS_3

"Banyak hal yang ingin aku ketahui tentangmu Ran..."


- Reihan -


Jangan lupa vote dan komen!


Happy Reading!


Sebuah bentuk perasaan tak semuanya harus berupa perkataan. Pada dasarnya semua akan bernilai manis pada sebuah tindakan. Tindakan untuk membuat perasaan tampak nyata untuk dipercaya. Ingatlah wahai wanita semua perkataan manis laki-laki bukanlah sebuah idaman namun aksi / tindakan laki-laki yang nyata adalah sebuah pedoman dalam kriteria pendamping idaman. Bukankah begitu?


Dan bagaimanakah perasaan Kirani saat mendengar tutur kata manis yang diucapkan oleh Reihan?


Apakah Kirani mempercayainya?


Tentu saja ia tak mudah percaya pada perkataan Reihan. Semua karena kebekuan hatinya yang tak memikirkan tentang cinta lagi. Alasan itulah yang membuat Kirani menutup hatinya.


Banyak Pria mapan yang sering mendekati Kirani namun tak ada seorangpun yang mampu mengganti peran Rafael di hatinya. Dan tak ada seorangpun yang bisa mengisi isi hatinya yang kosong nan hampa. Semua itu karena trauma yang ia alami dulu.


Cukup sulit untuk membuka hati kembali dan ia merasa bahwa sendiri cukup untuknya saat ini.


Kirani masih termenung mendengar perkataan Reihan. Tak ada jawaban dan hanya tatapan kosongnya.


Reihan merasa bingung dengan hal apa yang seharusnya ia lakukan. Ia telah bertekad untuk mendekati Kirani namun kediaman Kirani membuat dirinya sadar jika ia melangkah ke langkah yang salah. Dan tak seharusnya ia mengucapkan perkataan tadi. Dan tak seharusnya dirinya mencium kirani.


Duh Reihan! Kenapa lu gombal di waktu yang gak tepat sih! Bego lu mah! Rutuknya dalam hati


Satu sisi hatinya merutuki perkataannya dan di sisi lain hatinya mengatakan hal yang berbeda.


Tapi kalo bukan sekarang kapan lagi lu bakal maju Rei?


Lu bakal maju saat dia sudah diambil orang lain?


Jangan bego lah lu Reii!!


Inget tujuan lu untuk mendekati kirani untuk menjaganya!


Apa lu lupa?


"Ran maafkan aku yang melakukan hal itu tanpa seizinmu. Jujur dalam hatiku jika aku sangat mencintaimu Ran.. " Reihan mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Ia tak ingin menunggu waktu lagi. Seperti janjinya pada Rafael, ia akan menjaga dan membahagiakan Kirani. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Rafael berikan padanya.


"Maaf kak, Aku tak bi-bisa menjawabnya sekarang. Aku masih memerlukan waktu lagi." Ucap Kirani memberikan jawaban atas ungkapan perasaan Reihan


"Baiklah, Aku akan menunggumu sampai kapanpun Ran.. " Balas tertunduk lemas karena mendapat jawaban yang tak sesuai dengan keinginannya


"Maafkan aku kak.. "


Suasana diantara mereka menjadi canggung. Tak ada lagi canda tawa diantara mereka. Hanya sunyi yang menyeruak di kamar inap Kirani.


"Ah iya waktu sudah malam, detik kamu istirahat ya Ran. Aku akan menunggumu di luar." Reihan memulai pembicaraan di sela kesunyian


"Ah iya kak.. "


Reihan keluar dari kamar kirani. Kirani memiringkan kepalanya. Melihat kepergiaan Reihan dari kamarnya.


Dengan lirih ia berkata "Maaf kak, aku masih belum bisa menerima seseorang. Karena aku masih harus menyembuhkan lukaku.. "


Sebuah luka yang entah kapan sembuhnya. Kirani yang sekarang bukanlah sosok wanita yang mudah jatuh cinta pada seorang laki-laki. Dia sekarang adalah wanita yang sangat berhati-hati pada seorang laki-laki yang mendekatinya.

__ADS_1


Bagi Kirani, sosok yang berhasil mendekatinya dan membuatnya nyaman hanyalah Reihan. Kehadiran Reihan membuatnya kembali tertawa lepas. Kehadiran Reihan juga membuatnya semangat dalam menjalani hidup.


Dia tau jika Reihan telah lama menyimpan perasaan padanya. Dia sadar hal itu. Akan tetapi dia tak bisa menerima perasaan Reihan begitu saja. Dan tentu ia memiliki alasan. Ia tak mau menerima cinta seorang pemuda dengan mudah. Dan dia mau mengenali sosok laki-laki yang mencintainya. Ia tak ingin terjebak pada lembah masa lalu yang sama. Dia tak ingin jatuh pada birahi laki-laki yang hanya menyukai tubuhnya.


Dan itulah pola pikir Kirani tentang seorang pria.


****


Semalaman Reihan tak bisa tidur dengan nyenyak. Ia bahkan tak tidur semalaman. Ia terus memikirkan hal yang terjadi antara dirinya dan kirani semalam. Entah kenapa ia seperti salah dalam melangkah.


"Tuan Reihan.. Tuan Reihan.. " Seseorang memanggil dua kali


Reihan tersadarkan dari lamunannya "Ah iya tuan Rafael, maafkan saya yang tadi melamun."


"Apa tuan Reihan baik-baik saja?" Tanya Rafael yang menyadari keadaan Reihan yang tak baik-baik saja


"Ah iya saya baik-baik saja. Mari meetingnya kita lanjutkan kembali." Balas Reihan


"Meetingnya kita akhiri sampai sini saja dan kita lanjutkan besok." Ujar Rafael yang mengakhiri meeting dengan seenaknya


Para anggota meeting keluar. Reihan mendekati Rafael "Tuan Rafael kenapa meetingnya diakhiri?"


"Karena tuan Reihan membutuhkan istirahat. Saya tebak jika anda sedang memikirkan sesuatu. Apa tebakan saya benar?" Tebak Rafael dengan sempurna


"Ah iya tuan. Tebakan tuan benar."


Rafael menyipitkan matanya "Jadi apa yang sedang anda fikirkan?"


"Emm.. Sebenarnya.. " ucap Reihan yang masih merasa ragu untuk mengatakannya


"Katakan saja tuan Reihan. Jangan sungkan untuk mengatakannya."


"Kemudian?"


"Kirani menolak saya tuan, Lebih tepatnya ia masih butuh waktu tuan Rafael." Ujar Reihan tertunduk lemas


"Hm saya mengerti, Baiklah nanti saya akan mencoba berbicara dengan Kirani. Tuan Reihan tak usah merasa resah lagi." Tutur Rafael


"Apa tuan yakin itu? Apa saya tak membuat anda repot?" Tanya Reihan


"Tidak, besok biar saya yang mengurusnya secepatnya." Tutur Rafael


"Tapi kenapa tuan mau membantu saya? Sebenarnya apa hubungan tuan Rafael dengan Kirani?" tanya Reihan yang tak dapat menahan lagi rasa penasarannya. Ia ingin mengetahui semuanya meskipun harus menahan luka.


"Kau tak perlu tau masa laluku dan Kirani. Sekarang anda cukup fokus pada masa depan anda dengan Kirani saja." Balas Rafael dengan tatapan mematikan


"Tapi tuan.."


"Turuti saya. Sekarang saya pergi dulu."


"Baik tuan Rafael.."


Reihan tak berdaya untuk bertanya lagi. Kepergian Rafael sejujurnya membuat dirinya ingin tau lebih tentang masa lalu Rafael dan Kirani. Ia masih penasaran dengan hubungan Rafael dengan Kirani di masa lalunya?


Apa mereka pernah terlibat suatu hubungan ya?


Kalo iya hubungan apakah yang mereka miliki sebenarnya?

__ADS_1


Sudahlah Reihan kau masih belum boleh mengetahui hal tersebut!


Kau harus menjaga privasi seseorang!


Sekarang lebih baik mengurus pekerjaan!


****


Citt!


Suara ban berdecit. Rafael mengerem mobilnya dengan dadakan. Ia menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit. Jonathan yang berada di sampingnya masih merasa pusing karena cara Rafael menghentikan mobilnya secara mendadak.


"Kamu tunggu sini Jo! Jangan keluar satu langkah pun!" Titah Rafael pada asistennya


"Baik bos!"


Rafael keluar dari mobil. Tak lupa mengenakan kacamata hitamnya agar tak dikenali oleh siapapun. Dia terus berjalan menuju kamar inap Kirani.


Brak!


Rafael membuka pintu kamar inap Kirani dengan keras. Kirani yang sedang duduk di sofa menatapnya kaget. Ia terkejut melihat kehadiran Rafael yang tiba-tiba.


"Kenapa kau tak menerima Reihan! Kenapa Ran!" Rafael melontarkan pertanyaan yang membuat Kirani merasa bingung


"Maksud kamu apa kak?" Tanya Kirani dengan polos


"Sudahlah Ran tak usah bersikap polos lagi! Kemaren Reihan menyatakan cinta kepadamu kan!? Lalu kenapa kau tak menerimanya hah?" Ujar Rafael mengetahui semuanya


"Oh kakak sudah tau hal itu. Ya sudah itu adalah urusanku." Jawab Kirani menanggapi perkataan Rafael dengan cuek


Hal itu membuat amarah Rafael mendidih. Ia duduk di samping Kirani. Mendekati Kirani hingga tak ada jaraknya. Menarik wajah Kirani untuk menatapnya. Dengan brutal ia mencium Kirani. Kirani tak bisa berkutik dengan tindakan yang Rafael lakukan. Ia berusaha menepis ciuman Rafael akan tetapi Rafael memegang kedua lengannya. Kemudian ******* habis bibir Kirani. Karena emosi yang Rafael rasakan membuat birahi nafsunya naik.


Rafael terus menciumnya semakin dalam. Kirani tak bisa melakukan apapun selain diam dengan tindakan yang Rafael lakukan. Ciuman Rafael turun dari bibir ke leher jenjang Kirani. Rafael menyesap leher jenjang Kirani dan memberikan kissmark untuk Kirani. Kirani melenguh saat tangan Reihan masuk ke dalam bajunya. Menyentuh sesuatu yang berada di dalam.


"Argh kakkhh.."


Rafael merasa puas mendengar suara lenguhan dari Kirani. Ia menatap wajah Kirani dan mengerlingkan matanya. Ia terus melakukan aksinya hingga Kirani tak dapat menahan sesuatu yang keluar dari dalamnya.


"Kakkhh akuuhh.."


"Get it out babyy.."


Kirani mengalami pelepasan hanya karena sentuhan yang dilakukan oleh Rafael padanya. Rafael mengakhiri tindakannya dengan menggigit leher jenjang Kirani. Leher Kirani penuh dengan kissmark yang diberikan oleh Rafael.


Kirani menatap Rafael dengan penuh kebencian. Matanya meloto pada Rafael, "Kau biadab!"


Rafael hanya bisa diam, "Kau tak melakukan apa yang ku mau dan itulah hukumanmu!"


Rafael tak memedulikan Kirani yang sedang menangis. Ia bangun dari posisi duduknya. Merapikan jasnya.


"Sekali lagi ku ingatkan padamu Ran! Terima cinta Reihan atau kau akan mendapatkan hal yang lebih seperti tadi yang ku lakukan padamu!" Ancam Rafael


"Aku pulang dulu!"


Setelah mengatakan kata-kata itu Rafael keluar dari kamar Kirani. Rafael masih mendengar suara isak tangis Kirani.


Rafael juga mendengar suara Kirani yang mengatakan kebencian pada dirinya. Rafael terduduk di depan pintu Kirani.

__ADS_1


Air matanya ikut menetes. Dengan lirih ia berucap "Maafkan Aku Ran, hanya cara inilah yang bisa ku lakukan untuk melindungimu. Jadi mengertilah dengan tindakan yang ku lakukan padamu."


"Aku tak ingin menyakitimu akan tetapi aku ingin melindungimu.. Maaf Ran.."


__ADS_2