
"Takdir untuk balas dendam ternyata datang sendiri padaku! Akan ku pastikan kau pembalasan atas sakit hati kakakku!"
- Sintiya El Malik -
Berpeluh-peluh keringat telah bercucuran di tubuh Sintiya dan Kevin. Kevin tiada henti menggenjot tubuh Sintiya. Sintiya terus merintih keenakan merasakan gerakan Kevin yang semakin memasukkan miliknya ke liang mahkotanya. Lama kelamaan menjadi semakin dalam hingga pelepasan itu terjadi. Entah berapa kali mereka melakukannya. Tak terhitung jumlahnya sudah mereka mendapatkan pelepasan.
Kevin turun dari ranjangnya. Berjalan ke arah lacinya. Membuka laci dan mengambil sesuatu. Sebuah pil obat Kevin ambil. Lalu ia berjalan kembali ke ranjangnya. Duduk di sudut ranjangnya. Menghampiri wanitanya yang tergulai lemas tanpa sehelai baju.
"Sayang minumlah ini." Perintah Kevin sambil menyodorkan pil kepada Sintiya.
Sintiya mengerutkan alisnya lalu ia bangun. Duduk sejajar dengan Kevin, "Kenapa harus minum pil ini sayang?" Tanya Sintiya yang sebenarnya ia tau bahwa pil obat ini adalah obat kontrasepsi, pencegahan kehamilan. Ia senang melakukan hubungan intim dengan Kevin tanpa pengaman, lalu kenapa Kevin memberinya obat?
"Untuk mencegahmu hamil sayang." Kevin memberi penjelasan singkat pada Sintiya.
"Kau gak mau punya anak denganku?" Sintiya bertanya sengit pada Kevin. Mendengar Kevin yang tak mau menerima dirinya untuk hamil, Emosi Sintiya naik.
Kevin mendengus lalu menangkup pipi kanan Sintiya dengan tangan kanannya, "Bukannya aku gak mau sayang. Aku malah senang bisa membuatmu hamil tapi bukan sekarang waktunya sayang. Aku mau membangun istana megah untukmu dan anak-anak kita nanti. Oleh karena itu kita harus mencegah hal ini. Biarkan aku berusaha bekerja keras untuk dapat membahagiakanmu dulu. Baru setelah itu kita bisa memiliki seorang anak. Bukankah kau ingin pernikahan yang megah?Apa kau lupa?"
"Ya sayang.."
Kevin mendekatkan wajahnya dan bibirnya ke bibir Sintiya. Kevin memberinya ciuman singkat pada bibir Sintiya. Setelah itu kembali berucap, "Aku ingin mewujudkan impianmu itu sayang oleh karena itu aku mau mencegah kehamilan sayang."
Sintiya bersemu merah mendengar ucapan manis Kevin. Jantungnya berdegup kencang mendengar keseriusan dari bibir Kevin. Sintiya merasa bahwa dirinya beruntung sekali memiliki Kevin. Baginya, Kevin selalu memberikan kebahagiaan yang tiada tara. Selain menuruti permintaannya, Kevin juga selalu senantiasa mengerti dirinya. Bahkan memikirkan masa depan dirinya.
Kau sungguh baik memikirkan masa depanku sayang .. padahal aku sendiri tak sabar memiliki keluarga kecil denganmu..
Aku tak sabar melihat sosok anak yang akan kita miliki nanti..
Ya aku akan bersabar..
"Jadi minumlah ini terlebih dahulu sayang." Kevin kembali mengingatkan Sintiya.
"Aku mau minum itu asal kamu menuruti dua keinginanku." Sintiya berusaha melobby kekasihnya itu.
"Kau mau apa sayang? Akan aku turuti semua kemauanmu itu. Mau itu dua ataupun bertriliun permintaanmu akan aku turuti." Ujar Kevin menggombali Sintiya. Wajah Sintiya kembali bersemu merah merona.
Bukannya menjawab ucapan Kevin, Sintiya justru mengambil pil itu dan segelas air di tangan Kevin. Lalu menelannya dengan sekali tegak. Pil itu telah berhasil ia minum. Lalu Sintiya menggerakkan tangannya ke atas. Berhenti di pipi Kevin. Sintiya ikut mengelus pipi Kevin.
"Aku mau ke resort untuk liburan berdua denganmu sayang. Kau mau kan menurutiku?" Sintiya mengatakan permintaannya pada Kevin dengan memayunkan bibirnya di depan kekasihnya itu. Hal ini ia lakukan agar Kevin mau menurutinya.
__ADS_1
Kevin tersenyum melihat ekspresi bibir manyun Sintiya. Kevin menarik tubuh Sintiya yang tanpa sehelai baju mendekat ke dada bidangnya. Lalu ia gunakan tangan kirinya untuk menangkup pipi kiri chubby Sintiya. Kevin mengangguk lalu berkata, "Apapun permintaanmu akan ku turuti. Lalu apa permintaan keduamu sayang?"
Sintiya tersenyum dengan gembira. Lalu memeluk Kevin. Membuat dua gundukan indahnya bergesekan dengan dada bidang Kevin. Gesekan itu membuat milik Kevin kembali berdiri tegak. Sintiya tau reaksi dari tubuh Kevin. Lalu Sintiya menempelkan bibirnya di telinga Kevin. Sintiya membuka mulutnya dan menggigit telinga Kevin.
Kemudian Sintiya membisikkan sesuatu di depan telinga Kevin, "Aku mau kita terus bercinta tiada henti sayang."
Mendengar permintaan kedua Sintiya untuk bercinta membuat gairah Kevin naik kembali. Kevin bertanya, "Tanpa atau dengan pengaman sayang?"
"Terserahmu sayang. Asalkan Senikmat apapun itu sayang." Balas Sintiya disertai ******* dari bibirnya.
Kevin menarik tubuh Sintiya yang bersembunyi lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya. Tubuh Sintiya kembali terlentang. Kevin menarik lacinya dan mengambil dua obat. Satu diminumnya dan satu masih di mulutnya. Kevin menundukkan tubuhnya mendekat ke tubuh Sintiya yang terlentang. Mencium bibir ranum Sintiya seraya memberikannya obat. Sintiya menelan obat kedua dari kevin.
Beberapa menit kemudian tubuh Sintiya kepanasan. Sintiya pun bertanya pada Kevin, "Obat apa itu sayang?"
Kevin membisikkan pada telinga Sintiya, "Obat penguat bercinta sayang. Jadi bersiaplah bertempur denganku malam ini lagi!"
Setelah mengucapkan itu, Kevin kembali memainkan tubuh Sintiya yang telah bergelinjang kepanasan di atas ranjangnya.
"Sayang cepat beri aku kenikmatan!" teriaknya seraya mendesak Kevin
"As your wish sayang!"
Sintiya tak peduli berapa kali ia melakukannya dengan Kevin. Sudah seminggu ia tinggal di apartemen Kevin. Melakukan hubungan intim tiada henti. Hal itu ia lakukan untuk melupakan pertengkaran antara dirinya dan kakaknya.
Sintiya tak lagi peduli dengan kakaknya yang mencarinya. Bahkan ia matikan ponselnya selama seminggu. Menghapus jejaknya. Mengisi waktunya dengan bercinta bersama sang kekasihnya. Keperawanannya ia berikan pada sang kekasih lantaran ia merasa tak ada seorangpun yang bisa dipercaya kecuali kekasihnya sendiri. Cinta telah membutakan mata Sintiya. Segala hal Sintiya berikan pada Kevin selama ini. Apartemen Kevin yang saat ini Kevin tempati adalah pemberiannya. Harta benda maupun keperawanan rela Sintiya berikan pada Kevin. Semua semata-mata cinta dan kepercayaan penuh Sintiya pada Kevin.
Sintiya tau bahwasanya kakaknya tak akan mungkin mencarinya kesini walaupun kecil kemungkinannya. Jika kakaknya kemari pun, ia bodoh amat. Hal terpenting sekarang berada di pelukan kekasihnya dan bercinta.
Ya cinta memang buta di mata seorang wanita..
Semakin dalam seorang wanita mencintai seorang laki-laki maka ia akan semakin bodoh..
Hingga tanpa sadar bahwa kebodohannya akan terus dimanfaatkan oleh seorang laki-laki..
Begitu juga apa yang dirasakan Sintiya yang bodoh sekali karena sedang dimanfaatkan Kevin..
Bagi Kevin, Jika ia mendapatkan kenikmatan kenapa harus berhenti memanfaatkan?
Kevin tetaplah Kevin yang akan terus memanfaatkan Sintiya demi tujuannya..
__ADS_1
Walau ia tak tau apakah hal itu berhasil?
Walau ia tau cepat atau lambat Sintiya akan mengetahui tindakannya..
Kevin tak peduli hal itu jika terbongkar..
Saat ini ia hanya harus fokus untuk akting dalam mendapatkan tujuannya..
*****
Silir semilir angin berhembus kencang. Sintiya berada di sebuah pantai yang indah. Sintiya merasa dirinya berada pada sebuah impian liburannya. Sintiya pun menggenggam tangan Kevin.
"Kevin apa ini liburan kita?" tanya Sintiya disertai ekspresi wajah yang gembira. Seperti seorang anak kecil yang mendapatkan sebuah permen.
"Ya sayang jadi bermainlah dengan puas di pantai ini." balas Kevin diikuti seulas senyuman
"Baiklah kalo begitu ayo main lari-larian!"
Sintiya berlari kencang meninggalkan Kevin yang berada di belakangnya. Lalu saat ia sedang berlari, ia tak sadar menabrak tubuh seorang wanita. Sintiya berhenti dan mengulurkan tangannya ke arah wanita yang ditolongnya. Bukannya mendapat tangan wanita itu, tangannya justru ditepis oleh seorang laki-laki bertubuh kekar. Tangan laki-laki itu membantu wanita yang terjatuh itu.
"Kau! Kau menabrak istriku yang hamil! Kau bisa pake matamu gak sih! Kalo istri dan buah hatiku kenapa-napa kau mau tanggung jawab hah!" maki Laki-laki itu
Sintiya menundukkan kepalanya meski ia merasa sebal pada laki-laki itu. Ia berucap, "Maafkan saya yang tak sengaja menabrak istri anda. Sekali lagi maafkan saya."
"Mangkanya jalan pake mata bukan pake dengkul!" Maki Laki-laki itu lagi kepada Sintiya.
"Sudahlah sayang jangan terlalu membesarkannya. Lagian aku tak apa kok." Sahut seorang perempuan yang sedang ditolong oleh lelaki yan memakai Sintiya. Lalu wanita yang ditabrak Sintiya membalikkan badannya.
Wanita itu memakai dress berwarna peach. Rambut wanita itu coklat panjang dan tergerai. Mata wanita itu berwarna abu-abu terang. Wajah wanita itu terlihat jelas di balik mata Sintiya.
Sintiya mengenali wajah wanita itu setelah terlihat jelas. Ia memekik, "Kirani!? Kau kau itu?"
Pertemuan Sintiya dengan Kirani apakah akan menjadi pertanda baik untuk mereka berdua?
Takdir apakah ini untuk mereka berdua?
Hal apa yang akan terjadi selanjutnya?
Nantikan di chapter selanjutnya~^^
__ADS_1