
"Aku Tak tau apakah aku harus menyembunyikan hal ini terus di hadapanmu Anna?"
- Joshua -
Joshua pov
Perasaan tak tenang selalu ku rasakan. Entah bagaimana aku harus menyembunyikan semuanya. Aku sudah terlanjur menutup rapat tentang semuanya kepadamu. Tapi tak mungkin juga aku terus menyimpan semuanya sendirian. Semua rasanya berat untuk ku rasakan.
Pluk!
Sebuah tepukan ku rasakan di bahuku. Ku menoleh dan mendapati kekasihku Anna yang sudah melotot ke arahku.
Ku berhembus nafas pelan. Menetralkan tatapanku, "Iya sayang kenapa? Kau mau sesuatu kah?" tanya secara pelan agar tak ketahuan olehnya tentang kegelisahanku.
"Enggak!" Anna menjawabku dengan ketus
"Kalo tidak kenapa menepuk bahuku?" Aku bertanya sekali lagi secara lembut. Aku tak ingin buat pertengkaran lagi. Apalagi saat mengendarai mobil.
"Hentikan mobilnya sekarang juga!" Perintah Anna dengan nada tinggi secara mendadak. Ku mengerutkan kedua alisku. Menatapnya cemas dan takut. Aku masih mengemudikan mobil dan tak ku hentikan seperti permintaannya.
"Kenapa sayang?" Aku bertanya secara lembut. Tak ingin membuat keributan lagi.
"Hentikan ya hentikan! Bisa gak sih gak banyak tanya!?" Anna membalas pertanyaan dengan suara bentakan yang lebih tinggi.
Ku anggukan kepalaku. Lalu menepikan mobilku, Ku injak rem mobilku secara pelan.
Ckit!
Mobilku berhasil berhenti. Ku serongkan diriku ke kiri. Agar bisa berhadapan dengan Anna. Ku arahkan tanganku ke pipinya. Anna masih memalingkan wajahnya dariku. Ku berikan elusan lembut di pipinya.
"Sayang kamu kenapa?" tanyaku berhati-hati agar tak membuatnya emosi.
Ia menolehkan wajahnya. Menatapku tajam. Kerutan wajahnya terlihat jelas jika ia masih marah. Lalu ia berkata, "Kamu yang kenapa! Bukan aku!" bentaknya kepada diriku
"Aku? Aku kenapa emang?" Aku tak paham kepada dia bertanya tentang diriku.
"Kamu lagi pms ya?" imbuhku bertanya kepada Anna.
Anna semakin menajamkam sorot matanya lalu, "Enggak! Udah deh jo jangan alihkan pembicaraan!" bentaknya yang semakin menjadi.
Ku hela nafas lagi. Jujur saja aku tak mengetahui apa penyebab seorang wanita marah-marah. Semua tak bisa ditebak dengan mudah bukan? Ya memang memahami pikiran wanita itu sulit. Dan aku sebagai laki-laki memang tak peka serta tak lihai dalam memahami wanita.
"Hft, Katakan padaku sayang kenapa dengan diriku? Aku ada salahkah? Jika ada maka katakan saja." Ujarku yang mencoba untuk mengalah saja di depan Anna.
"Kau intropeksi diri saja huh!" Balas Anna mencuekiku
Aku menghela napas lagi, "Sayang aku bukan laki-laki yang peka. Kau tau bukan? Aku juga sudah mencoba intropeksi diri namun aku tak tau apa kesalahanku. Jadi coba sekarang katakan padaku apa salahku? Jika kau mengatakannya semua akan serasa mudah untuk dipahami bukan? Kita bukan anak kecil saja yang mau dipahami. Hubungan orang dewasa itu tentang keterbukaan bukan saling menuntut peka." tuturku panjang kali lebar memberi pengertian untuk Anna. Agar Anna bisa memahaminya.
Anna melipat kedua tangannya lalu mendongakkan wajahnya menatapku, "Okey aku paham! Jadi ku katakan sekarang! Kenapa kamu sulit sekali dihubungi!? Kenapa sulit sekali mengajakmu bertemu!? Membalas pesanku saja tidak! Kau ada perempuan lain ya!? Atau kau mengkhianatiku! Main belakang di belakangku!? Ngaku saja Jo!" makinya dengan sederet pertanyaan
__ADS_1
Aku tertawa kencang mendengar sederet pertanyaannya. Bagaimana mungkin aku tak tertawa? Anna seperti anak remaja yang sedang posesif pada pacarnya sendiri. Apalagi kecerewetannya begitu menggemaskan di mataku.
"Kenapa kau tertawa Jo!" tanya Anna dengan tegas.
"Haha sayang kau lucu sekali. Bahkan sangat menggemaskan saat posesif begini." balasku yang masih menertawakan ekspresi Anna.
"Tak lucu tau! Jadi cepat katakan padaku! Kita putus atau terus!" maki Anna yang semakin membuatku tertawa.
Ku tangkup kedua pipinya saat ia masih melanjutkan ucapannya. Lalu ku miringkan wajahku, mendekatkan ke arah bibirnya. Ku cium bibir ranum merah miliknya. Anna merasa tertegun dan tak sadar membuka bibirnya. Langsung saja ku masukkan bibirku ke dalam bibirnya. ********** dengan sensual.
Bagaimana mungkin aku tahan untuk tak **********. Bibir ranum merah Anna selalu menggodaku untuk menciumnya. Dan aku tak bisa tahan lagi untuk tak menciumnya. Anna mengalungkan tangannya ke belakang tekuk kepalaku. Meski sedikit terhalang tapi bukan berarti kami tak bisa melakukan ciuman.
Anna melepaskan bibirnya. Menatapku dengan kerlingan sorot mata gairah, "Sayang kita teruskan di kursi belakang saja ya?" pintanya menawariku untuk meneruskannya. Seolah melupakan hal yang terjadi tadi. Anna mudah sekali melupakan pertengkaran dan hal itu karena aku menciumnya. Sangat mudah sekali menaklukkan kemarahan Anna.
"As your wish my sweetie." balasku mengiyakan permintaannya.
Anna segera melepaskan heels yang dipakainya. Menyibak dress agar bisa melompat ke kursi belakang. Aku terkekeh melihat tingkah Anna. Semua sangat lucu seperti seorang anak kecil.
Setelah Anna duduk di kursi belakang, ia melambaikan tangannya kepadaku. Memintaku untuk segera ke kursi belakang. Aku pun melakukan hal yang sama seperti Anna. Melepas sepatuku dan melompat. Kami duduk berhadapan. Tak ada lagi pembatas diantara kami berdua.
Ku tarik pinggangnya untuk mendekat. Lalu ku berkata lirih, "Duduklah di pangkuanku sini sayang." perintahku menepuk pahaku. Memberi kode untuk Anna duduk di pahaku.
Anna mengangguk dan segera duduk di atas pahaku. Melebarkan kakinya dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Kami saling mengalungkan tangan kami berdua di belakang tekuk kepala. Memiringkan wajah kami berdua lalu saling berciuman. ******* bibir satu sama lain. Kami berdua saling ******* hingga waktu yang sangat lama.
Lalu ku rasakan Anna yang menggerakkan pahanya untuk memancing diriku. Membuat gesekan padanya. Aku mengerang, "Sayang kau memancingku! F*ck!" umpatku terpaksa melepaskan ciuman panas kami berdua.
"Kau mau melakukannya sayang?" Anna bertanya kepadaku dengan tatapan yang menggodaku.
"Okey sekarang jawab pertanyaanku tadi kalo begitu." desak Anna yang masih mengungkit pertanyaannya tadi. Mendesakku untuk menjawab pertanyaannya.
Aku terkekeh, ku elus anak rambutnya.
"Sayang kau menggemaskan sekali saat mendesakku menjawab pertanyaan lugumu itu haha." Aku sedikit meledeknya seraya menguyel-uyel rambutnya.
"Aduh sayang berantakan deh rambutku! Udah deh jawab aja!" protesnya memayunkan bibirnya.
Aku bisa melihat jelas bibir manyunnya yang menggemaskan itu. Ingin rasanya ku ***** sekali lagi saja. Tapi aku harus menahan semuanya.
"Okey aku jawab my sweetie Anna. Semua tuduhanmu itu salah sayang. Aku tak akan pernah selingkuh. Dapat kamu seperti spek bidadari dari goa masa aku selingkuh? Mana mungkin itu sayang." Aku menjawab pertanyaan Anna dengan sedikit menggombalinya.
"Mana ada spek bidadari dari goa jo! Itu mah bukan bidadari tapi buto ijo yang tinggal di goa huh!" protesnya yang tak terima dengan gombalanku
Aku terkekeh lalu menjawabnya, "Ada sayang bidadari dari goa." godaku yang mengelaknya.
"Apa coba!?"
"Bidadari Anna yang diculik buto ijo joshua di goa hatinya eak." gombalku diselingi tertawa. Anna pun ikut tertawa bersamaku saat mendengar jawabanku.
"Aduh hahaha kau ada-ada aja sayang!"
__ADS_1
"Ya lagian kamu gitu masih nanya. Dapat kamu aja mana mungkin aku selingkuh sayang. Aku itu milikmu dan kamu adalah milikku. Jadi aku tak akan berpaling darimu karena kamu adalah belahan jiwaku." Ku gombali Anna agar ia bisa melupakan posesifnya. Aku juga tak mau membuatnya semakin banyak tanya.
"Haha iya iya sayang. Jadi hal apa yang sebenarnya kau lakukan sayang? Kau kerja apa sih sama si psikopat itu!?" Tanya Anna tentang Rafael. Aku tau psikopat yang dikatakan Anna adalah bos Rafael.
Aku tak mungkin mengatakan kebenarannya. Maka jalan satu-satunya adalah mengarang cerita lagi.
"Hmm aku sedang mencari desainer yang bos Rafael inginkan. Ya untuk fashion show model di agensi sayang. Tapi sayangnya aku masih belum menemukannya jadi ya wajar jika aku sibuk hehe." Ku karang cerita secerdik mungkin agar tak ketahuan oleh Anna. Aku terpaksa berbohong karena aku tak ingin Anna mengetahui masalah tentang Kirani.
"Hoo jadi begitu ya?"
Ku sentuh dagunya lalu mengecupnya, "Iya sayang."
"Okey baiklah, aku percaya padamu kok sayang." Anna akhirnya mempercayaiku
Aku menghela nafas lega. Akhirnya karangan cerita bohongku dipercayai oleh Anna.
"Jadi sekarang kita mau kencan kemana sayang?" Anna bertanya kepadaku
Aku menatap wajahnya, "Kau inginnya kemana emang sayang?"
"Aku mau ke resort permata indah. Resort itu dekat pantai dan laut sayang. Baru buka juga hari ini. Aku liat postingan di estagramnya juga bagus. Jadi gimana?" Tutur Anna mengatakan tentang resort impiannya yang ia inginkan untuk kunjungi.
"Jika kau mau itu ya udah ayo sayang. Akan ku turuti apapun maumu sayang." Ku iyakan permintaannya. Ya sebagai bentuk waktu rehatku. Menikmati waktu bersama kekasihku Anna.
"Lalu kerjaanmu yang belum selesai itu gimana sayang?" Anna kembali bertanya kepadaku tentang pekerjaanku. Ia seperti mencemaskannya.
"Itu tak jadi masalah sayang. Nanti aku minta rekanku yang lain. Terpenting kita menikmati waktu bersama kita untuk pacaran." Balasku
"Baiklah sayang, aku bahagia sekali." Serunya lalu mengecup pipiku.
Aku dan Anna pun kembali ke bangku depan. Merapikan pakaian kami berdua yang sempat berantakan. Setelah itu memakai belt pengaman.
"Kau siap sayang?"
"Tentu aku siap sayang!!"
Brum..brumm..
Ku lakukan mobilku dengan kecepatan penuh. Berjalan ke tempat tujuan yang Anna inginkan. Aku tak peduli lagi urusan perintah bos Rafael lagi. Aku sudah lelah melakukannya dan aku butuh rehat serta mendinginkan kepalaku. Menghabiskan waktu berdua bersama Anna di resort adalah pilihan yang tepat untukku.
Ya setidaknya aku tak akan bisa cepat tua dan bisa menikmati masa indahku dengan kekasihku.
Jika terus mengatur perintah bos Rafael maka aku bisa keriput deh..
Maafkan saya bos..
Saya manusia dan saya butuh waktu untuk mengisi kasih sayangku dengan kekasih tercintaku..
Joshua dan Anna akan menuju resort yang sama dengan Kirani dan Sintiya..
__ADS_1
Lalu hal apa yang akan terjadi selanjutnya?
Nantikan di chapter selanjutnya~^^