
"Perasaan mana yang tak hancur ketika melihatmu bersama orang lain, Tapi inilah caraku menjaga dan mencintaimu"
- Rafael Aditya Al Malik -
Ketahuilah tentang hati yang tak mudah untuk ditebak oleh pikiran. Jika bicara tentang perasaan, pikiran dan hati sangat berbeda. Jika dalam lisan dan pikiran mampu berkata iya maka akan berbeda jika dalam hati. Hati tak akan mudah dibohongi oleh tutur kata. Lisan bisa berbohong akan tetapi hati tak akan bisa dibohongi. Seperti halnya perasaan, pikiran dan lisan akan mudah bersandiwara tentang perasaan akan tetapi hati akan merasa sebaliknya.
Upaya ekspresi dari hati itu sendiri akan mudah dibaca dari raut wajah kita. Apakah itu betul? Tentu itu betul seratus persen.
Lalu bagaimanakah kondisi perasaan Rafael Aditya Al malik ketika melihat gadis yang dicintainya berada di pelukan orang lain?
Sakit, itulah yang ia rasakan tentunya. Walau inilah yang diinginkan oleh pikirannya. Tapi hatinya merasa dihujam sebuah tusukan besi berkali lipat. Walau tak berdarah tapi tampak terasa sakit.
Rafael Pov
Hidup itu bukanlah segalanya tentang kemenangan. Kadang kala hidup itu tentang kekalahan. Tak segalanya tentang kehidupan itu bisa dipenuhi oleh keinginan dan tak segalanya keinginanmu bisa dipenuhi oleh kehidupanmu. Kadang kala kehidupan itu berbanding terbalik atas kemauanmu. Dan kehidupanmu bukanlah tentang anganmu tapi Realita.
Iya itulah arti kehidupan versi diriku. Jika versi kehidupan pada orang lain kehidupan adalah kemenangan tetapi berbeda dengan diriku. Kehidupan versi diriku adalah tentang kekalahan. Kekalahan bukan tentang dapat memiliki segalanya akan tetapi mengalah demi menjaga apa yang kau miliki. Dan inilah kekalahan diriku atas cintaku selama ini. Kekalahan dari cinta yang ku pertahankan selama ini. Kekalahan dari cinta yang ku inginkan selama ini.
Dan inilah kekalahan cintaku yang terjadi hari ini..
Aku, aku memang meminta dirinya untuk mencari cinta yang lain. Mencari sosok lelaki yang mampu mencintainya. Sosok laki-laki yang menjadi pengganti diriku. Dan sosok laki-laki yang bisa melindunginya.
Aku meminta dirinya bukan tanpa sebab. Akan tetapi semua memiliki alasannya. Ya, aku meminta dirinya mencari laki-laki lain karena aku ingin melindunginya dari tangan seseorang yang mengincarnya. Ya siapa lagi kalo bukan Kevin. Seorang laki-laki licik yang mengincar tubuh Kirani.
Tapi kenapa rasa ini begitu sakit saat melihatnya berpelukan dengan laki-laki lain?
Kenapa hati ini sakit ketika kau sendiri yang memilihkannya dengan lelaki itu?
Kenapa kau yang sakit saat kau sendiri yang menginginkan hal ini?
Kenapa Rafael Aditya Al Malik!?
Bukankah kau sendiri yang ingin hal ini terjadi?
Mata memang bisa kau bohongi namun hati tak bisa kau bohongi!
Saat ini, aku tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Menyaksikan dirinya menerima cinta seorang laki-laki lain.
Menyaksikan dirinya beradu kasih dengan laki-laki lain. Hatiku rasanya tercabik-cabik bak sebilas pisau yang mencabiknya. Air mataku menetes seketika dari pelupuk mataku. Sekujur tubuhku memanas menyaksikan semuanya.
__ADS_1
Ku masih melihat dirinya yang tengah beradu bibir dengan lelaki pilihanku. Seperti meresapi kenikmatan di setiap perasaan mereka.
Ku masih menetap tuk berdiri melihat dirinya yang tengah beradu bibir dengan lelaki pilihanku. Ku liat dari bilik jendela jika dia dan lelaki itu sangat meresapi kenikmatan di setiap perasaan mereka. Seperti kenikmatan yang tiada tara.
Sekilas ku liat mata Kirani yang melirikku lalu memalingkannya dan melingkarkan tangannya di belakang kepala Reihan. Ku liat Kirani yang melakoninya dengan lihai. Seolah dia memang menginginkan hal itu.
Hatiku bertanya lirih 'Apakah inikah yang kau inginkan Ran? Apa kau sudah menepatkan pilihan perasaanmu pada Reihan?'
Apakah ini pertanda untukku pergi?
Aku masih diam terpaku menatap mereka. Hingga aku tak tahan lagi saat Reihan membawa tubuh Kirani ke sofa. Aku tak lagi bisa melihat aktivitas mereka. Hatiku merajuk dan mendidih. Pikiranku berteriak untuk memintaku pergi. Ingin rasanya aku terus melihat mereka namun langkah kakiku menarik paksa diriku untuk pergi.
Aku pun berjalan pergi meninggalkan kamarnya. Berlari pergi entah kemana langkah ini mengarahkannya. Ku kemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi.
Dan membawaku ke tempat dimana kenanganku dan dirinya terpatri.
Malam yang sunyi dan hatiku yang remuk. Alunan lagu mellow bersahut-sahutan. Bulan purnama bersinar terang. Dan bintang bertengger menemani sang bulan.
Di malam ini, aku kembali sendiri. Duduk di bawah ranjangku. Menatap kosong pada langit-langit kamarku. Ku liat lampu remang nan redup bersinar menemamiku. Menyiratkan arti dari kegundahan hatiku. Lalu perlahan sorot mataku memandang ke bingkai-bingkai fotoku dan dirinya. Foto diriku dan dirinya yang bertengger manis dalam pelukan.
Ku liat senyum itu merekah dengan indah namun pandanganku kembali pada kejadian tadi sore yang ku lihat. Pemadangan dimana aku melihat dirinya yang bercumbu mesra dengan lelaki lain tepat di depan mataku. Hatiku kembali memanas. Pikiran dan hati nuraniku kembali menjerit. Nafasku berderu tak karuan. Semua serasa sesak. Kepalaku berdenyut tak karuan.
"Hentikan Rafael! Hentikan!"
"Dia sudah bahagia Rafael!"
"Ini kan pilihanmu! Kenapa kau merasa menginginkannya!"
"Hilangkan pikiranmu tentangnya Rafael Aditya Al Malik!"
Buag! Buagh!
Ku pukul berkali-kali kepalaku. Berusaha untuk melupakannya namun semua kejadian itu berputar di kepalaku. Ku ambil vas bunga di meja dekat ranjangku. Memukulkannya berkali-kali ke kepalaku. Tak peduli cairan merah menetes di pelipis kepalaku.
Saat aku tengah memukulkan vas bunga di kepalaku, ku dengar suara sintiya adekku berteriak memanggilku. Ah, ternyata Sintiya adekku masuk ke dalam kamarku.
"Kakak! Cukup hentikan kak!"
Sintiya berlari ke arahku. Memeluk diriku dan mengambil vas bunga di tanganku. Lalu melemparnya jauh.
__ADS_1
"Kakak kenapa sih melakukan ini lagi! Berhentilah melukai diri kakak sendiri!" teriak Sintiya memarahi diriku atas tindakan yang ku lakukan.
"Kakak gak sayang apa pada diri kakak sendiri?"tanyanya kepadaku
Bagaimana aku bisa sayang terhadap diriku jika diriku saja telah bejat pada seorang gadis yang ku cintai Sintiya. Batinku menjawab pertanyaan Sintiya
"Liat darah di pelipis kepala kakak. Kalo kakak kehilangan darah dan meninggal gimana!? Apa kakak gak bisa mikir hal itu!" lanjut Sintiya memarahiku
Mataku kosong menatap adikku yang menjerit menangis di hadapanku. Tanganku hanya bisa mengusap air matanya yang menetas.
"Kau tak perlu khawatir kehilangan kakakmu dek. Meskipun kau kehilanganku, Kau masih ada tempat untuk dicintai." ucapku lirih kepadanya.
Sintiya mengunci bibirku dengan jari telunjuknya, "Hust kakk gak boleh ngomong gitu! Sampai kapanpun aku gak ingin kehilangan kakak! Aku masih ingin hidup bahagia bersama kakak bukan yang lain!"
"Jadi sekarang ayo obati kepala kakak dulu! Sebelum darahnya semakin mengalir!" lanjut Sintiya seraya menarik tanganku untuk berdiri.
Aku masih tak ingin berdiri, "Tinggalkan aku sendiri sintiya."
"Gak mau! Kakak harus diobati dulu!" tolaknya mentah-mentah pada perintahku
"Aku ingin sendiri Sintiya! Jadi pergilah!" perintahku mengusir Sintiya dengan perkataan yang dingin nan tegas
Sintiya menatapku dengan tatapan sedih. Ia pun berjalan lalu menoleh ke arahku sebentar.
"Baiklah kalo itu mau kakak. Kak ingatlah kau masih ada aku dan aku akan selalu ada untukmu. " ucap Sintiya sebelum keluar menutup pintu kamarku
Brak!
Pintu kamarku tertutup dan kembali ku rasakan hampa.
Ah inikah yang rasanya hampa dan denyut sakit itu?
Lama kelamaan pandangan mataku mengabur. Dan aku mulai menutup mataku. Tak tau hal apa yang terjadi setelah ini.
Hal apakah yang terjadi pada Rafael?
Dan bagaimanakah kelanjutan kisah cinta Kirani dan Reihan?
Mampukah Rafael bertahan hidup tanpa Kirani?
__ADS_1
Nantikan di chapter selanjutnya~^^