
"Satu langkah lagi aku akan menarik kekasihmu dalam pesonaku Kirani!"
- Sintiya El Malik -
"Kita akan lakukan bersama hingga bisa menghancurkan rasa bahagia dari Kirani!"
- Kevin Armando -
Ting.. Ting..
Suara bel yang berkali-kali berbunyi menganggu seorang wanita yang tengah tidur di pelukan kekasihnya. Ya, wanita yang tengah tidur itu tak lain adalah Sintiya.
Sintiya terbangun dari tidurnya karena suara bel kamarnya yang terus berdenting. Sintiya melepas tangan Kevin dari pelukannya. Dengan pelan-pelan ia melepaskan sesuatu yang masih bersarang di mahkotanya.
Bles!
Sintiya melenguh pelan agar tak membangunkan Kevin. Lalu ia menyunggingkan bibirnya seraya melihat Kevin yang tengah tertidur.
Sintiya mengusap pipi Kevin dengan lembut, "Semalam adalah malam yang luar biasa nikmat sayang."
Saat ia masih mengucapkan kalimat pada Kevin seraya membelainya, suara bel pintunya berdenting sekali lagi. Sintiya berdecak kesal mendengarnya.
"Siapa sih haiz! Ganggu saja huh!" decak Sintiya kesal dengan suara bel pintunya yang terus berdenting.
Sintiya mencium pipi Kevin sambil mengucapkan kalimat cintanya, "I love you." ujarnya lalu beranjak bangun. Masih dalam pandangan samar, ia berjalan. Mengambil outer dan memakainya. Lalu ia lanjutkan langkah kakinya untuk berjalan ke arah pintu. Membuka pintu kamarnya.
Ceklek!
Hal pertama yang Sintiya liat adalah seorang pelayan wanita yang berdiri di depan pintu kamarnya seraya membawa nampan berisi makanan. Sintiya menatap kesal dan mendengus.
"Hm ada apa?" tanya Sintiya dengan suara ketusnya.
"Selamat sore nyonya, Maaf nyonya jika saya menganggu anda. Saya kesini hanya mengantar makan sore anda. Tadi siang anda tak menerima makanan dari pihak resort kami jadi kami mengantarkan kembali makanan untuk anda di sore hari ini." terang Sang pelayan perempuan dengan santun. Sang pelayan mengatakan maksud kedatangannya. Itu adalah bentuk pelayanan yang ia berikan pada pengunjung di resort.
Sang pelayan resort memberikan nampan itu kepada Sintiya. Namun Sintiya tak kunjung menerima nampan pemberian pelayan itu.
Sintiya hanya menatap pelayan itu dengan tatapan tak senang, "Ya sudah mana!" Balas ketus Sintiya. Sintiya menerima nampan di tangan pelayan dengan kasar.
"Ya sudah sana pergi!" usir Sintiya seraya melotot pada sang pelayan resort.
Sintiya membawa nampan itu masuk ke dalam. Lalu ia menutup pintu dengan membantingnya keras.
Blam!
Sang pelayan terkaget dan hanya bisa mengelus dadanya. Berkata pelan, "Gusti ada ya orang kayak gitu. Untung gua sabar. Dasar emang orang kaya seenaknya!"
Lalu sang pelayan itu pergi dari kamar Sintiya. Sintiya masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal. Membawa nampan pemberian sang pelayan.
"Hoam sayang kenapa kau tutup pintu kencang sekali." Ujar Kevin seraya menguap. Ia sudah duduk di tepi ranjang. Kedua matanya melihat ke arah Sintiya.
Sintiya mendongakkan kepalanya saat mendengar suara kekasihnya. Ia membulatkan matanya, "Sayang kamu sudah bangun?"
"Heem iya." Balas Kevin singkat
Sintiya mendekati Kevin dan ikut duduk di samping tepi ranjang. Sintiya memeluk dada bidang Kevin yang terbuka tanpa sehelai kain.
__ADS_1
"Sayang kamu beneran kan setuju dengan rencana yang ku buat? Kamu masih ingat kan?" tanya Sintiya to the point pada Kevin. Sintiya ingin tau apakah yang diucapkan Kevin saat bercinta adalah benar. Sintiya ingin tau apakah Kevin beneran mau. Sintiya juga ingin tau apakah Kevin masih mengingat ucapannya.
Kevin berdeham, "Hmm iya aku ingat."
Sintiya bersorak gembira mendengar jawaban Kevin, "Yeayyy!! Tapi kamu beneran ingat kan sayang?" tanyanya
Kevin menoleh dan melihat mata Sintiya, "Ya ingat dan aku setuju. Tapi ingat kau tak boleh bercinta dengan laki-laki manapun termasuk si Reihan! Tubuhmu hanya milikku!" ujar Kevin memberi penegasan pada Sintiya. Menekan kata 'Bercinta' .
Sintiya mengecup bibir laki-laki itu.
Cup!
"Iya sayang, Aku dan tubuhku adalah milikmu. Dan aku hanya merasa puas saat bercinta denganmu sayang. Tak ada laki-laki lain yang menandingi permainanmu dalam bercinta." ujar Sintiya memuji Kevin. Agar Kevin tak marah lagi. Cukup Sintiya akui jika permainan bercinta Kevin sangat memuaskan. Hingga membuatnya semakin ingin menikmatinya terus menerus. Bagi Sintiya permainan bercinta Kevin adalah candu untuknya.
"Ya sudah terus kau mau apa lagi?" Balas Kevin to the point tanya pada Sintiya. Kevin adalah laki-laki yang tak suka basa-basi. Ia langsung bertanya pada intinya.
Sintiya berpindah duduk jadi ke pangkuan Kevin. Agar bisa berhadapan dengan Kevin. Agar bisa mengatakan rencananya dengan serius. Sintiya menatap mata Kevin.
"Jadi gini sayang, Rencanaku adalah ingin merayu tuan Reihan lewat pesan yang ku kirimkan. Lewat chat whatyoo." ujar Sintiya yang dipotong oleh Kevin
Kevin membulatkan matanya saat mendengar kata 'Merayu' yang diucapkan oleh Sintiya. Ia pun bertanya, "Apa maksudmu merayu tuan Reihan sayang!?"
Sintiya terkekeh saat mendengar Kevin yang memprotes ucapannya. Sintiya tau jika Kevin tengah cemburu padanya. Sintiya tau jika Kevin sudah mulai sensitif pada dirinya sendiri.
Sintiya tertawa sambil berucap, "Haha sayang maksudku memancing. Bukan merayu. Kau cemburu ya?" goda Sintiya pada Kevin seraya menjawil dagu Kevin.
Kevin berdesis dan sedikit memalingkan wajahnya, "Haiz! Bilang yang bener! Udah deh gak usah goda aku! Katakan rencanamu!"
Kevin menolak untuk mengakuinya. Sintiya tau jika Kevin adalah laki-laki tsundere. Ia tak akan mau mengakuinya terlebih dahulu. Sintiya merasa gemas dengan respon Kevin. Ia tertawa cekikikan sendiri.
Sintiya menghentikan tertawanya. Lalu merubah raut wajah ekspresinya menjadi serius, "Ya sayang. Jangan pergi! Akan ku teruskan. Kamu disini dulu ya. Jangan pundung atuh sayangku." rayu Sintiya agar Kevin tak ngambek.
"Ya! Cepat katakan!" tegas Kevin.
Sintiya mengangguk, "Jadi gini sayang, maksudku yang sebenarnya adalah memancing tuan Reihan bukan merayu. Maafkan aku yang salah mengucapkannya." jelas Sintiya
"Ya teruskan penjelasanmu!" perintah Kevin dengan tegas
Sintiya mengangguk lagi, "Sebenarnya aku ingin memancing Reihan untuk penasaran tentang Kirani. Aku yakin jika tuan Reihan itu sangat penasaran pada Kirani. Apalagi setelah kejadian kemaren. Kau masih mengingatnya bukan sayang?" Tanya Sintiya
Kevin memangut dan menggerakkan kepalanya, "Ya aku ingat perbuatan onarmu itu. Yang sangat menyusahkanku!"
Sintiya terkekeh mendengar kata onar yang diucapkan Kevin, "Hehe maafkan aku sayang."
"Ya, lanjutkan saja penjelasanmu!" Balas Kevin cuek.
Sintiya kembali mengangguk, "Ya, Nah setelah kejadian itu aku pikir Tuan Reihan pasti penasaran. Dia pasti bertanya pada Kirani tapi kamu tau sendiri kan jika Kirani tak mungkin mengatakannya. Dia pasti akan menutupi masa lalunya dengan Kak Rafael. Kamu tau sendiri kan jika tuan Reihan adalah kliennya kak Rafa. Nah maka dari itu aku ingin memancing Tuan Reihan dengan mengulik masa lalu Kirani. Gimana Sayang?" tanya Sintiya menjabarkan seluruh dari rencana yang dibuatnya. Sintiya telah memikirkan rencana ini secara matang-matang. Jadi dirinya telah yakin dengan rencananya. Ia juga merasa rencana yang dipikirkannya telah sempurna.
"Jadi kau akan pancing Reihan itu dengan mengirimi pesan di whatyoo nya tuan Reihan itu?" tanya Kevin memastikan
Sintiya mengangguk cepat, "Ya kamu benar sayang! Tapi sebelum itu aku butuh bantuanmu dan kerjasama denganmu." tutur Sintiya
"Kau butuh bantuanku apa?" tanya Kevin
"Aku ingin kau mencari nomer whatyoo nya tuan Reihan. Itulah hal yang aku perlukan sayang." jawab Sintiya pada pertanyaan Kevin.
__ADS_1
"Oh gitu, baiklah aku akan menyuruh kedua anak buahku. Kau tak usah khawatir lagi." Balas Kevin datar. Lalu tangannya terjulur ke samping. Berusaha untuk meraih ponselnya di nakas meja.
"Ini ku ambillah ponselmu sayang." Sintiya sudah meraih ponsel Kevin dan mendapatkannya. Lalu ia memberikan ponsel itu pada Kevin.
Kevin menerima ponselnya yang diberikan oleh Sintiya. Lalu menggerakkan tangannya untuk mengusap layar ponselnya. Ia membuka aplikasi whatyoo kemudian mencari nomer kedua anak buahnya. Melakukan panggilan.
"Ya bos?"
"Ku tugaskan kalian berdua untuk mencari nomer whatyoo tuan Reihan Adam Khan." perintah Kevin dengan tegas
"Tapi bos bagaimana kami bisa mendapatkannya?" tanya kedua anak buahnya
"Ya itu urusan kalian. Lakukan sekarang juga!" tegas Kevin yang tak mau tau
"Hm baiklah bos. Ingat honornya harus lebih besar dari sebelumnya." tawar sang kedua anak buahnya
"Ya kau tak usah khawatir. Semakin cepat kau dapatkan nomer whatyoo nya maka semakin cepat aku membayarmu." Balas Kevin menyetujui penawaran kedua anak buahnya.
"Baiklah bos. Bos tunggu saja dalam hitungan 1 jam. Kami akan dapatkan. "
"Ya baiklah. Ku tunggu hasil kerja kalian. Bye!"
Tuttt..
Panggilan telfon terputus. Kevin menoleh ke Sintiya yang masih melihatnya.
"Gimana Sayang? Bisa kan?" tanya Sintiya.
"Bisa tapi kita harus kasih bayaran ke mereka. Jadi gimana? Aku tak punya uang." Balas Kevin yang berpura-pura melas pada Sintiya.
"Pakai saja uangku sayang." balas Sintiya
"Kamu tak apa sayang?" tanya Kevin yang masih berakting
"Iya tak apa. Lagian uangku adalah milikmu juga. Jadi pakai saja sayang." balas Sintiya. Sintiya nampak polos dan tak mengetahui akting yang dilakukan oleh Kevin. Sintiya telah terjebak pada akting Kevin.
Kevin tersenyum menyeringai lalu tangannya membelai pipi Sintiya. Menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Kevin mendekap tubuh Sintiya seraya berkata, "Terima kasih sayang. Kau sungguh wanita yang sangat yang baik sekali. Aku beruntung memilikimu." puji Kevin yang masih dalam aktingnya.
Sintiya membalas pelukan Kevin, "Aku juga beruntung memilikimu sayang. I love you.." ujarnya membalas pujian Kevin. Sintiya masih menenggelamkan dirinya di pelukan Kevin.
Dasar gadis bodoh!
Mau saja kau ku poroti!
Tak sia-sia aku memanfaatkanmu
Selain mendapatkan tubuhmu aku juga mendapatkan uangmu!
Apalagi misi untuk mendekati Kirani akan semakin dekat!
Sungguh nikmat mana lagi yang tak ku dapatkan haha
Kevin you are a winner!
And You Rafael are a loser!
__ADS_1
Selangkah lagi RAFAEL Aditya Al Malik!