
"Dinginkan pikiranmu agar tak terlalu merasa gegabah dalam melakukannya!"
- Kevin Armando -
Pagi yang cerah dan matahari yang mulai bersinar. Seorang pasangan masih tertidur pulas dalam balutan selimut. Cahaya matahari yang mulai memasuki celah-celah jendela kamar membangunkan seorang gadis.
Ia bangun dari tidurnya lalu merentangkan tangannya. Mengambil segelas air di meja dekat ranjangnya. Memeluknya lalu ia mengucek-ucek matanya. Ia tersenyum manis melihat kekasihnya yang masih tengah tertidur di bantalnya. Gadis itu adalah Sintiya El Malik, adik dari Rafael Aditya Al Malik. Dan sosok kekasih yang masih tertidur adalah Kevin Armando.
Sintiya sedikit menundukkan kepalanya lalu mengecup kening kekasihnya seraya tangannya mengelus anak rambut kekasihnya yang menutupi matanya. Ia berkata lirih, "Sayang ayo bangun."
Sintiya membangunkan Kevin dengan lembut. Kevin masih saja tak bangun. Sintiya merasa sebal, ia menaikkan nada tinggi suaranya, "Sayang kau mau bangun atau mau keramas di pagi hari hm!?" ujar Sintiya sedikit penekanan dan bernada mengancam.
Kevin yang mendengar itu langsung membuka matanya. Melihat Sintiya yang sudah melotot kepadanya. Ia berkata lirih dengan suara paraunya, "Hm pagi sayangku.. "
Bukannya bangun Kevin malah melingkarkan tangannya ke pinggang Sintiya dan menduselkan dirinya di badan Sintiya. Sintiya sedikit merasa sebal tapi dia menyukainya. Menyukai Kevin yang manja padanya.
Sintiya mengelus pipi Kevin, "Sayang ayo bangun. Ayo jogging." pinta Sintiya membangunkan Kevin.
Kevin yang matanya masih terpejam menjawab, "Jogging? Untuk apa sih sayang? Mending anget-angetan di kasur. Gak buang banyak tenaga juga." balas Kevin
Mendapati jawaban dari Kevin yang terdengar enggan, emosi Sintiya naik lalu ia memukul pipi Kevin yang dieluskan dengan keras.
Plak!
Kevin terlonjak bangun seketika. Merintih kesakitan seraya menyentuh pipinya. Ia menoleh ke Sintiya tajam, "Aduh sayang sakit tau! Ngapain sih nampar aku keras banget gini huh!" maki Kevin
Sintiya melipat kedua tangannya dan menatap Kevin dengan tenang, "Ya biar kamu bangun. Sekarang dah bangun bukan?" ujar Sintiya dengan begitu tenang. Seolah tak merasa bersalah sedikitpun.
"Kalo udah bangun emang mau ngapain? Kamu mau main pagi sama aku lagi ya?" ucap Kevin yang salah paham maksud ucapan Sintiya. Kevin malah beranggapan Sintiya membangunkannya karena ingin 'Bermain' pagi bersamanya.
Bukannya menjawab, Sintiya turun dari kasur lalu menarik tangan Kevin untuk ikut turun dari Kevin. Kevin hanya bisa mengikuti tangan gadisnya yang menariknya turun dari kasur. Sintiya mensejajarkan dirinya dengan Kevin. Berdiri berhadapan dengan Kevin.
"Jadi benar kau mau bercinta pagi denganku ya?" tanya Kevin yang masih membahas hal bercinta pada Sintiya. Pikiran Kevin memang selalu dipenuhi oleh hal 21+ saja.
Sintiya tertawa pelan, "Haha Sayang, Pikiranmu bercinta mulu saja sih."
"Jadi gimana? Kamu gak mau ya?" Kevin menanyakan hal yang sama lagi
Ah ku goda saja Kevin pagi ini deh. Batin Sintiya yang mulai muncul pikiran jahil
Tawa Sintiya semakin keras, "Hahaha Sayang! Aku gak mau lah."
Sintiya berjalan ke sudut wastafel. Kevin mengikuti langkah kaki Sintiya yang ke wastafel. Sintiya semakin dibuat gemas oleh sikap Kevin yang seperti anak kecil yang mengikuti ibunya karena tak diberikan permen. Sintiya membiarkan saja Kevin yang mengikutinya.
"Lha kenapa sayang?" Tanya Kevin dengam raut wajah melas.
Sintiya menoleh dan menjawab, "Karena junior kamu kecil. Aku gak puas." balas Sintiya yang masih mengerjai Kevin.
"Sayang kok gitu sih! Kan kamu udah merasakan keenakan juniorku!" Kemarahan Kevin meledak seketika.
"Ya kan aku terpaksa melakukannya. Kan gak ada pilihan lagi. Kalo ada pilihan junior lain pasti aku mau mencobanya. Itu pun kalo aku punya pacar banyak." Pancing Sintiya yanv masih menjahili Kevin yang berada di belakangnya.
Tiba-tiba Kevin menarik tubuh Sintiya dan membalikkan tubuh Sintiya. Menghadapkan tubuh Sintiya dengannya. Kevin menghimpit tubuh Sintiya di wastafel. Lalu Kevin menyerang bibir Sintiya dengan menciumnya secara membabi buta. Tak hanya mencium Sintiya, Kevin juga membuka bathrobe yang dipakai Sintiya. Meremas kedua benda indah favorit milik Sintiya. Lalu tangan satunya ia masukkan kembali ke liang mahkota Sintiya.
Sintiya mengerang dan mendesah, "Aduhhh sayanghh."
"Kau harus menerima serangan juniorku! Akan ku buktikan kalo juniorku bisa memberikanmu kenikmatan yang tiada tara!" ucap Kevin tegas. Kevin mulai terbawa emosi dari kejahilan yang Sintiya lakukan.
__ADS_1
"Tapi sayangh.. " Sintiya hendak menjawab namun Kevin tak menghiraukannya. Kevin malah memasukkannya ke dalam liang mahkota Sintiya yang masih belum basah. Sintiya mengerang kesakitan namun ia merasakan kenikmatan. Kevin mulai menggerakkan tubuhnya untuk memompa Sintiya. Menyibak bathrobenya dan melepaskannya. Tubuh Sintiya terlihat dengan sempurna tanpa adanya sehelai pakaian.
Kevin menaikkan kaki Sintiya ke atas agar miliknya bisa masuk dengan dalam dan sempurna ke liang mahkota kenikmatan Sintiya. Sintiya dapat merasakan emosi Kevin yang naik dari cara dia bercinta. Kevin terus mendorong miliknya hingga keduanya mendapati pelepasan. Kevin menyemburkan benih cinta di rahim Sintiya. Sintiya merasakan hangat di rahimnya.
Sintiya menatap Kevin dengan nafas terengah-engah.
Kevin bertanya pada Sintiya, "Apa kau puas!? Puas dengan juniorku!"
Sintiya mengangguk, "Puas sekali sayang. Sudah ya jangan marah."
"Salah siapa yang menyulut emosiku?" ujar Kevin
"Iya maafkan aku ya sayang. Jadi lepaskan juniormu dari sini." Pinta Sintiya seraya menunjuk ke liang mahkotanya.
"Kita bermain sekali lagi! Tak ada penolakan lagi!" ujar Kevin langsung membopong tubuh Sintiya ke kamar mandi.
Di kamar mandi, Kevin dan Sintiya melakukan kegiatan bercinta hingga terpuaskan. Sampai tak tau kapan mereka akan selesai.
****
Setelah 2 jam selesai bercinta. Sintiya memayunkan bibirnya. Sedangkan Kevin yang masih memandangi wajah Sintiya.
"Kamu kenapa lagi sih sayang? Masih gak puas bermain bercintanya tadi?" tanya Kevin pada Sintiya yang masih memunggungi dirinya.
"Ya kamu sih main lama banget!" balas Sintiya ketus
"Jadi gimana? Kau puas kan dengan permainan juniorku?" tanya Kevin menggoda Sintiya.
"Hm!"
Kevin hendak memeluk Sintiya namun ada suara bel kamarnya berbunyi. Kevin beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kamarnya. Membuka pintu kamarnya. Kevin mendapati seorang pelayan yang membawakan nampan yang berisi makanan kepada dirinya.
Kevin menerima nampan itu lalu tersenyum, "Terima kasih. Kau sungguh cantik. Tunggu sebentar." ujar Kevin menghentikan langkah kaki pelayan yang hendak berjalan.
Kevin meletakkan nampan pemberian pelayan itu ke meja dengan cepat. Lalu berjalan kembali ke pintu, membuka dompetnya, "Karena kamu begitu cantik jadi aku mau memberikanmu tip cantik." Ujar Kevin yang berniat untuk memancing Sintiya.
"Kau mau berapa?" goda Kevin yang berusaha untuk memancing Sintiya yang masih ngambek padanya.
Kevin hendak menyentuh dagu sang pelayan namun tangannya dihentikan oleh Sintiya dari belakang. Sintiya mengambil uang 50 ribu dari dompet Kevin lalu memberikannya kepada sang pelayan.
Memberikannya dengan tatapan tajam seraya berucap, "Ini ambil! Dan pergilah!" usir Sintiya dengan ketus.
Pelayan itu menunduk dan langsung pergi dari hadapan Kevin dan Sintiya. Seperginya pelayan itu, Kevin membalikkan badannya. Melihat Sintiya yang sudah berdiri di depannya. Sintiya masih memayunkan bibirnya semakin maju dan menekuk wajahnya.
Kevin manjawil dagu Sintiya, "Eciye yang cemburu." Goda Kevin yang menjahili Sintiya.
Sintiya menepis tangan Kevin lalu berjalan ke sofa, "Udah deh gak usah mulai! Aku ngambek bukannya dirayu malah merayu cewek lain huh!" Omel Sintiya pada Kevin. Sintiya mengomeli Kevin tiada henti.
Kevin terkekeh mendengar Omelan Sintiya. Bukannya takut Kevin justru tertawa. Kevin merasa Sintiya sangat lucu saat mengomelinya jadi ia hanya mendengarkan Omelan Sintiya hingga selesai.
Sintiya melihat Kevin yang tak menjawabnya. Ia pun protes, "Sayang kamu kok diam saja sih!! Jawab dong! Masa gak bela diri sama sekali hih!!"
Kevin tertawa keras, "Haha sayang sayang. Kamu kok lucu sekali sih."
Kevin duduk di samping Sintiya lalu mencubit kedua pipinya dengan gemas, "Ututu sayang aku inih lucu sekali sih kalo ngambek campur cemburu gini."
Sintiya teriak lalu memundurkan dirinya agar tak menerima cubitan dari Kevin lagi, "Aduh sayang sakit tau cubitannya. Emang aku anak kecil apa huh!"
__ADS_1
"Buat apalah susah.. cari kesana kesini.. sudah di depan mata.. kamu lah takdirku.. Tuhan ciptakan aku.. Tuhan ciptakan kamu.. kita berdua.. diizinkan bersama dan bersatu.. Selamanya.." Kevin pun menyanyikan sebuah lagu di hadapan Sintiya. Sintiya terenyuh mendengar suara Kevin saat menyanyi. Sintiya memeluk Kevin. Menangis sesegukan.
"Udah ngambeknya? Kok sekarang malah nangis sih." Goda Kevin dibalas cubitan di pinggangnya.
"Kamu sih!"
"Kenap aku? Tampan kah nan lucu ya?" Goda Kevin lagi
"Aizzz!!" Desis Sintiya
Kevin melepas pelukan Sintiya. Lalu menangkup kedua pipi Sintiya, "Udah jangan nangis lagi ya? Kalo nangis nanti kecantikannya ilang. Aku gak mau cantiknya kamu ilang." Rayu Kevin dengan sangat manis.
Seulas senyuman terbit di bibir Sintiya. Sintiya malu mendengar rayuan manis Kevin.
"Daripada kamu cemberut terus mending kita jalan-jalan keluar yuk?" Ajak Kevin dibalas anggukan langsung dari Sintiya
"AYOK! AKU MAU SAYANG!" seru Sintiya yang sudah tak sabar. Sintiya bangkit terlebih dahulu dari posisi duduknya
Kevin terkekeh melihat Sintiya yang sudah tak sabar. Ia pun ikut berdiri lalu menggandeng tangan Sintiya, "Ya sudah ayo permaisuriku."
Mereka berdua pun keluar dari kamarnya. Sintiya merasa senang sekali bisa jalan-jalan dengan Kevin. Mereka pun keluar dari lift bersama.
"Sayang aku mau makan steak disitu ya!" Tunjuk Sintiya memberitahu pada Kevin. Menunjuk sebuah kedai minimalis. Kevin melihat kafe minimalis yang ditunjuk oleh Sintiya. Ia pun mengangguk.
"Ya sudah ayok masuk aja sayang. Apapun permintaanmu akan ku turuti sayangku." Balas Kevin mengiyakan permintaan Sintiya.
Sintiya menggandeng tangan Kevin dengan sedikit berlari. Sesampai di kafe itu pandangan Sintiya tertuju pada seseorang. Sintiya menghentikan langkah kakinya yang tadinya berhenti.
"Itu Kirani kan?" Tanya Sintiya
Kevin memandang ke arah pandangan Sintiya melihat. Kevin pun melihat sosok yang ia kenali. Ya, sosok itu adalah Kevin dan pacar barunya.
"Kalo itu beneran Kirani ayo kita hampiri sayang?" Ujar Sintiya memberi ide pada Kevin.
Kevin melongo, "Menghampiri? Untuk apa sayang?"
"Untuk menyapa dia dan pacar barunya." Ucapnya
Setelah mengucapkan itu, Sintiya melepaskan genggaman tangannya dengan Kevin. Berjalan terlebih dahulu ke arah Kirani.
Apa?
Sintiya mau kesana!
Mampus gua!
Gua harus hentikan Sintiya!
Jangan sampai terjadi kekacauan lagi!
Argh mengkondisikan gadis ini emang susah sekali!
Kevin mau tak mau mengikuti langkah kaki Sintiya. Lalu dapatkah Kevin menghentikan Sintiya?
Apakah Sintiya akan melabrak Kirani?
Hal apa yang akan Sintiya lakukan sebenarnya?
__ADS_1
Tujuan apakah yang Sintiya miliki?
Nantikan di chapter selanjutnya~^^