
"Apa lagi ini! Kenapa cobaan bertubi-tubi datang padaku Argh!"
Rafael Aditya Al Malik -
"Aku gak mau tau Jo! Kamu harus temuin Sintiya! Sudah satu minggu kau usaha tapi kenapa kau tak kunjung menemukannya!? Tak becus kau Jo! F*ck!" Umpat Seorang pria sedang berbicara lantang di hadapan seorang pria kekar. Ya, Pria yang sedang marah memaki itu adalah Rafael dan laki-laki yang sedang dimarahi adalah tangan kanannya Joshua.
Rafael membuang seluruh barang di Mejanya hingga pecah berkeping-keping di hadapan Joshua.
Pyar!
Rafael telah marah beberapa hari ini. Rafael membuang seluruh barangnya dan membantingnya di hadapan Joshua. Entah berapa guci mahal yang telah Rafael pecahkan. Dan entah berapa barang mahal yang telah ia rusak. Rafael tak peduli hal itu. Rafael hanya melampiaskan kemarahannya. Tak peduli seberapa besar kerugian yang ia dapatkan.
Kemarahan Rafael tak hanya di rumah tapi ia lakukan di kantornya Juga. Apapun barang yang ada di mejanya selalu ia lempar. Hingga pecah berkeping-keping.
Joshua hanya terdiam menerima kemarahan sang bos. Kemarahan Rafael itu terjadi karena adiknya Sintiya yang tak kunjung pulang selama seminggu ini. Bahkan jejak Sintiya tak kunjung mereka temukan. Sejumlah pengawal telah Rafael kerahkan namun hasilnya nihil. Hal itulah yang membuat Rafael semakin marah besar.
"Bos saya berpikir jika non Sintiya bersama dengan kekasihnya Kevin. Bagaimana kalo kita cari kesana?" Joshua memberi ide yang sama kepada Rafael. Hal ini telah Joshua katakan berkali-kali. Namun bukannya mendapatkan respon baik Rafael justru memarahinya.
Rafael menggebrakkan tangannya di atas mejanya. Hingga bersuara keras.
Brak!
"Kau gila apa Jo! Bagaimana mungkin kau berpikiran itu hah! Berkali-kali ide gilamu kau ucapkan padaku! Pikir Jo! Jika semua itu tak mungkin terjadi!" Rafael terus mengelak dan menolak ide pemberian Joshua. Rafael merasa tak percaya akan hal itu. Rafael masih terus menyangkalnya. Meski itulah kebenarannya.
"Tak ada hal yang tak mungkin bos. Kita juga belum pernah cek kesana bukan? Jadi apa salahnya kita coba pergi ke apartemennya kevin gitu?" Kekeh Joshua pada ide yang ia miliki. Joshua tetap mencoba untuk membujuk Rafael sehalus mungkin. Meski ia tau bahwa keberhasilan hanya setitik nila. Joshua masih memperjuangkan idenya lantaran ia berharap sang bos mau membuka matanya. Dan mau melakukan idenya. Tak ada yang salah untuk mencobanya bukan?
Rahang Rafael mengeras, tatapan matanya semakin menusuk, tangannya mengepal. Rafael mengambil sebuah koran dari belakang. Koran yang terletak di mejanya. Lalu ia lemparkan dengan keras di depan wajah Joshua. Koran itu jatuh berserakan.
"Sudah ku katakan padamu apa kau gila! Kau pikir datang kesana itu tepat dan bagus? Tidak Jo! Kau salah!" Maki Rafael berjuta-juta kemarahannya.
__ADS_1
"Jika kau kesana itu sama saja artinya kau masuk ke dalam kandang singa! Coba kau pikirkan!" Bentak Rafael di depan wajah Joshua. Rafael menarik kerah kemeja Joshua dengan erat.
"Pikirkan secara dalam lalu sekarang lanjutkan mencari Sintiya! Jangan berada di hadapanku sebelum kau menemukan Sintiya! Jika kau tak menemukan Sintiya maka kau akan tau akibatnya!" Lanjut Rafael membentak Joshua. Memberinya perintah dengan tajam. Lalu Rafael melepaskan kerah baju Joshua dan mendorongnya pelan.
Joshua hampir jatuh namun kakinya masih bisa menahannya.
"Cepat pergi sekarang!" Perintah Rafael dengan lantang.
"Baik bos." Joshua menundukkan kepalanya lalu berjalan menuju pintu. Joshua pun keluar dari ruangan Rafael dengan perasaan kecewa.
Setelah kepergian Joshua, Rafael berteriak keras.
"Argh kenapa kehidupanku berantakan begini tuhan! Cobaan apa lagi yang kau datangkan padaku Tuhan Argh!" teriak Rafael dengan suara yang sangat keras.
Joshua dapat mendengar teriakan itu. Joshua menghela napas kasar. Joshua merasa kasihan pada diri Rafael. Pasalnya cobaan terus datang bertubi-tubi. Tapi dirinya juga sudah merasa lelah dan kecewa. Berbagai cara sudah ia katakan pada Rafael namun tak ada yang dipercayai Rafael. Sia-sia sudah usahanya memikirkan semuanya.
Saat Joshua tengah mengamati Rafael dari balik pintu, sebuah dering telfon terdengar nyaring. Joshua buru-buru mengambil ponselnya dari saku jasnya.
Nama kekasihnya Anna terlihat di depan layar notifikasi. Joshua buru-buru menjawab panggilan telfon Anna. Tapi sebelum ia menjawab, Joshua berjalan jauh dari ruangan Rafael. Itu semua ia lakukan karena ia tak mau kena amukan Rafael lagi.
["Halo sayang kita jadi kan kencan hari ini?"]
"Iya jadi. " Jawab Joshua singkat
["Lalu kau ada dimana sekarang? Kenapa kau tak kunjung datang menjemputku? Aku sudah dandan cantik padahal lho!"]
"Iya maaf sayang, tadi aku masih ada pekerjaan yang harus ku kerjakan. Aku akan datang Menjemputmu sekarang juga." ujar Joshua setenang mungkin
[Pekerjaan apa lagi sih yang dicekoki bos aroganmu itu hah! Kenapa dia suka sekali merepotkanmu hah!" maki Anna di seberang telfon ]
"Sudahlah sayang itu sudah jadi tugasku. Aku kesana menjemputmu sekarang. Bye.. "
Joshua mematikan panggilan telfon. Ia tak ingin berdebat panjang dengan kekasihnya itu. Karena ia sudah lelah setelah dimarahi oleh Rafael. Lalu berdebat dengan kekasihnya hanya membuatnya lelah saja. Joshua juga tak mau Anna mengetahui tentang keberadaan Kirani yang telah ditemukan. Hal itu karena perjanjiannya dengan Rafael.
__ADS_1
Joshua memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Lalu berjalan ke parkiran mobil. Mengambil mobilnya dan segera melajukannya dengan kecepatan tinggi.
*****
Di sisi lain...
Seorang pasangan telah berdiri di kamar mandi. Pasangan itu telah dipenuhi oleh gairah mereka. Ya, mereka adalah Sintiya dan Kevin.
Kevin merengkuh pinggang Sintiya untuk mendekat. Lalu kevin mendorong tubuh Sintiya ke dinding. Kevin memiringkan wajahnya ke arah leher jenjang Sintiya. Lalu ia mengecupnya dan menghiburnya. Memberi tanda pada setiap leher jenjang Sintiya tiada henti. Entah sudah berapa kali mereka melakukannya. Semua tak terhitung jumlahnya.Seminggu ia gunakan hanya untuk bercinta dengan Kevin tanpa lelah.
Sintiya telah terbutakan oleh cinta palsu Kevin. Sintiya telah menjadi gadis bodoh saat sudah mencintai Kevin.
Segala kerisauan tentang kakaknya pun menghilang begitu saja. Tergantikan oleh kegiatan bercintanya dengan Kevin. Sintiya tak peduli sudah berapa kali dirinya melakukan hubungan intim dengan Kevin. Sintiya hanya merasakan kenikmatan yang tiada tara. Bahkan Sintiya berani melakukannya tanpa sebuah pengaman.Gairah telah membutakan akal pikiran Sintiya. Pergulatan gairah cinta mereka usai setelah dua jam bermain.
Kini mereka berada di kasur hanya memakai bathrobe. Sintiya berada di pelukan Kevin. Sintiya memeluk erat tubuh Kevin seraya berucap, ''Sayang terima kasih membuatku bahagia dan nikmat. aku puas dengan permainanmu hoam.''
''Kita akan lakukan kapanpun kau mau sayang. Sekarang tidurlah dan istirahatlah My Love.'' puji Kevin berpura-pura di hadapan Sintiya
''Hoam iya sayang. Love you.''
''Love you too..''
Tak berselang lama Sintiya tertidur pulas. Kevin tau jika Sintiya tertidur karena lelah meladeni gairahnya. Tapi Kevin merasa bahagia sekali bisa mendapatkan keperawanan Sintiya. Ini adalah sebuah pertanda bahwa langkahnya melawan Rafael akan semakin dekat dan mudah.
Kevin menatap wajah Sintiya yang tertidur, lalu berkata lirih..
"Rafael Aditya Al Malik, Adikmu telah ku rusak jadi inilah langkahku untuk semakin dekat melawanmu! Akan ku jadikan dua gadis yang kau sayangi dan cintai hancur! Dan aku akan mendapatkan kenikmatan dari tubuh Kirani juga! Tunggu saja aku hahaha!"
"Selangkah lagi Rafael Aditya!"
"Kau tak akan bisa menang dariku!"
"Karena aku adalah Kevin Armando!"
__ADS_1