
"Tak ada korban yang tak terjebak pada perangkapku. Dan aku akan memperalat dirimu Sintiya!"
- Kevin Armando -
Seorang gadis memakai setelan baju sweeter tipis dengan dress berwarna hitam menggedor-gedor kamar apartemen dengan keras. Ya, dia adalah Sintiya El Malik. Saat ini ia tengah menemui kekasihnya di apartemennya. Meskipun malam tak menjadi penghalang untuknya melakukan hal ini. Bahkan ia menerobos satpam yang menjaga.
Gedor.. Gedor..
Sintiya masih menggedor-gedor pintu kamar Kevin dengan keras. Seraya berteriak memanggil Kevin dengan suara yang luar biasa kerasnya.
"Kevin! Kevin! Buka pintunya! Ini aku Sintiya!" teriak Sintiya yang tiada henti. Sintiya sudah memanggil Kevin sebanyak apapun namun masih tak ada jawaban dari sang empu. Sintiya sudah melakukan hal ini kurang lebih dua jam. Kelakuannya itu membuat penghuni setiap apartemen keluar dan melihatnya. Bahkan banyak penghuni apartemen yang mengingatkannya untuk tak berisik.
Selain itu satpam sudah mengatakan pada Sintiya bahwa Kevin masih belum pulang ke apartemennya. Sintiya tak percaya dengan perkataan satpam dan ia tetap kekeh menggedor-gedor kamar apartemen Kevin. Jika Sintiya sudah keras kepala maka tak akan ada seorangpun yang dapat mengubahnya. Sifat keras kepala Sintiya sama seperti Rafael. Namun ada satu perbedaannya yaitu jika Sintiya tetap kekeh sedangkan Rafael yang mudah mengendalikan keras kepalanya itu.
"Mbak, Mas Kevinnya belum pulang jadi tolong mbak jangan buat keributan disini. Atau anda pulang dulu bagaimana?" Satpam berusaha untuk membujuk Sintiya. Namun hal itu tak mudah dipercaya oleh Satpam. Satpam di depan Sintiya sudah mengatakan hal itu berkali-kali dan membuat Sintiya muak.
Sintiya mengacungkan jari tengahnya di depan wajah sang satpam. Ya tanda itu adalah tanda f'ck. Memberikan tatapan maut, "Bisakah kau diam pak tua f'ck!" umpat Sintiya tanpa segan dan berani begitu saja. Meskipun dirinya tengah menjadi perhatian para penghuni apartemen, ia berani melakukan hal itu. Sintiya tak peduli jika mendapatkan cibiran orang-orang sekitarnya. Hal yang terpenting adalah bertemu dengan kekasihnya. Ia membalikkan badannya dan kembali menggedor-gedor pintu kamar Kevin.
Kedua satpam di depan Sintiya tertegun mendapatkan teguran tak sopan dan kasar dari Sintiya. Satu satpam membisikkan kata pada rekan satpamnya, "Don lebih baik kau telfon mas kevin agar wanita itu tak semakin kacau!"
"Ya baiklah!"
Satpam itu meminta rekannya untuk melakukan panggilan telfon pada Kevin. Rekannya itu mengangguk dan segera membuka ponselnya. Melakukan panggilan pada nomer Kevin.
"Pak Kevin ada seorang wanita yang nyari mas dari tadi. Pak Kevin cepat pulang. Pak Kevin dimana sekarang?"
[Aku masih di parkiran apartemen. Emang siapa yang cari aku pak jiwo?]
"Saya gak tau Pak, pokoknya wanita cantik memakai dress hitam. Sebaiknya pak Kevin segera naik kemari deh!"
[Ya Baiklah pak jiwo ]
"Okey pak.. "
Tut..
__ADS_1
Panggilan tefon berakhir. Doni satpam yang memerintahkan Jiwo rekannya menelfon bertanya padanya, "Gimana Wo? Pak Kevin dimana?"
"Pak Kevin udah sampe di parkiran dan sebentar lagi dia kesini." Terang Jiwo memberi Jawaban pada Dini rekannya. Jiwo menerangkan jika kevin sudah berada di parkiran apartemennya. Hanya tinggal masuk dan naik ke atas.
Doni mengangguk paham, "Ya sudah, kerja bagus kau Jiwo! Kita tinggal nunggu pak Kevin saja." Kata Doni seraya menepuk bahu Jiwo sebagai bentuk apresiasinya.
Beberapa menit kemudian, Kevin telah sampai di lorong kamar apartemennya. Kamar apartemen kevin berada di ujung. Kevin melihat banyak kerumunan penghuni apartemen yang berdiri di depan kamarnya. Lalu ia melihat gadis yang menggedor-gedor kamarnya.
Sintiya?
Ngapain Sintiya malam-malam ke apartemenku?
Ada apa lagi? Gadis ini memang menganggu dan merepotkanmu saja huh!
Gerutu Kevin sambil mendengkus kasar.
Sudahlah biar ku samperin dia!
Kevin kembali melanjutkan langkah kakinya. Menuju ke arah letak kamarnya. Dia mendekat ke Sintiya dan berdiri di belakangnya.
Mendengar suara laki-laki yang ditunggunya, Sintiya membalikkan badannya ke belakang. Sintiya merasa senang melihat Kevin yang ditunggunya datang. Sintiya berlari dan memeluk Kevin, "Sayang kamu darimana saja sih! Aku dari dua jam lalu gedor pintu kamu dan panggil kamu. Tapi kamu gak keluar-keluar!" Omel Sintiya dengan sangat cerewet
"Kamu habis minum-minum sama cewek ya!" tuduh Sintiya pada Kevin. Mata Sintiya terus mengamati Kevin dari atas sampai ke bawah. Sintiya merasa curiga pada penampilan Kevin. Oleh karena itu Sintiya menuduhnya pergi ke club.
"Apa maksud kamu sayang? Kok kamu tuduh aku gitu sih?" Elak Kevin bertanya pada Sintiya.
"Ya kamu liat saja penampilan kamu tampan gini dan rapi. Pergi kemana emang kalo bukan ke club minum-minum sama cewek lain. " sanggah Sintiya dengan ketus.
Kevin menangkup pipi Sintiya, "Aku dari kerja sayang bukan dari minum-minum. Kamu tau kan kalo aku tak mungkin menduakan kamu. Aku tuh cuma cinta sama kamu sayang jadi aku tak akan minum-minum selain sama kamu wanitaku." Gombal Kevin menutupi hal yang dituduhkan oleh Sintiya. Karena apa yang dituduhkan Sintiya memang benar adanya. Kevin memang suka minum dengan gadis seksi dan Sintiya yang tak pernah mengetahui hal itu. Kevin berkata bohong di depan Sintiya.
"Kamu gak bohong kan!?" Sintiya masih tak percaya dengan ucapan Kevin.
Bukannya menjawab pertanyaan Sintiya, Kevin malah mendekatkan wajah ke wajah Sintiya. Mendekatkan bibirnya ke bibir Sintiya. Mencium Sintiya secara membabi buta. Sintiya yang merasakan pergerakan ciuman bibir Kevin dengan spontan mengikuti gerakan Kevin. Sintiya sedikit terkejut dengan ciuman yang dilakukan oleh Kevin. Namun Sintiya tetap sintiya, seorang yang mudah luluh oleh gairah yang diciptakan oleh Kevin. Sintiya mengikuti gerakan bibir Kevin. Mengalungkan tangan Kevin ke belakangnya. Mendekatkan kepala Kevin agar bisa semakin intens mencium Sintiya.
Kevin ******* bibir ranum Sintiya dengan membabi buta. Tak memedulikan pandangan penghuni apartemen yang ada di sekitarnya. Kevin terus melakukan aksi ******* bibir Sintiya dengan gairah yang menggebu-gebu. Tak hanya sampai di bibir tapi ciuman itu turun hingga ke leher jenjang Sintiya.
__ADS_1
"Kevin ah.., Banyak orang yang liat hah." Ujar sintiya yang masih terengah-engah nafasnya.
Kevin melepaskan ciumannya dan menoleh ke arah para penghuni apartemen yang berdiri di depan kamarnya.
"Jadi sampai kapan kalian disini? Pergilah jika tak ada urusan lagi!" usir Kevin dengan sarkas.
Mendengar hal itu, Para penghuni apartemen yang tadi berkumpul di depan kamar Kevin pun membubarkan diri. Begitu juga kedua satpam itu. Selepas bubar orang-orang, Kevin menarik pinggang Sintiya tuk mendekat lagi. Menundukkan wajahnya dan mulai menciumnya lagi.
Mendapatkan serangan ciuman brutal Kevin, Sintiya menikmatinya. Ikut saling *******. Kevin mendorong Sintiya di depan pintu. Masih mencium bibir ranum Sintiya, Kevin membuka pintu apartemennya dengan sidik jarinya.
Kling!
Pintu terbuka, Kevin membawa tubuh Sintiya tuk masuk ke dalam. Sintiya mengikuti gerakan Kevin yang membawanya masuk ke dalam kamarnya. Meskipun dalam keadaan saling berciuman. Kevin menutup pintu kamarnya lagi. Melanjutkan mencium Sintiya seraya membawanya ke ranjangnya.
Dijatuhkan tubuh Sintiya di ranjang king size Kevin. Tubuh Sintiya terlentang di ranjang milik Kevin dengan wajah seksi. Kedua gundukan sintal terlihat tercetak dari sweeter yang dipakai Sintiya. Kevin membuka sweeter Sintiya. Lalu melucuti dress Sintiya. Dress Sintiya telah terlepas seluruhnya. Tubuh seksi Sintiya terpampang jelas di mata Kevin. Kevin menatap tubuh seksi itu dengan tatapan liar dan lapar.
"Mari kita lakukan sayang!"
"Malam ini aku akan mencicipimu! Jadi bersiaplah!" Kelingan mata Kevin yang bergairah telah menyala.
Tubuh Sintiya yang terlentang di kasur king size Kevin hanya bisa mengangguk pasrah. Pasrah karena ia juga merasa bergairah. Kevin menindih tubuh Sintiya dan mulai mencium bibir gadisnya sekali lagi. Saat Kevin sibuk mencium bibir gadisnya, tak ia biarkan tangannya menganggur. Ia gunakan tangannya untuk menyibak dress hitam tipis yang dipakai Sintiya. Meluruhkannya hingga ke bawah. Terlihat jelas kedua gundukan indah milik Sintiya yang masih tertutupi oleh bra berenda berwarna pink soft.
Gairah Kevin telah naik. Tatapan Kevin makin liar menatap kedua gundukan indah itu. Tangannya bersiap untuk membuka penutup kedua gundukan indah itu namun saat tangannya hendak melepaskan pengikat penutup itu, Kevin mendengar suara isakan gadisnya.
Kevin menghentikan tangannya dan mendongakkan kepalanya ke atas. Melihat gadisnya. Kevin terkejut saat mendapati Sintiya yang tengah mengeluarkan air matanya dengan sangat deras. Suara tangisannya semakin keras.
Kevin yang masih menindih tubuhnya berkata, "Sayang kamu kenapa?"
Tak ada jawaban dari bibir Sintiya selain isakan tangisnya yang semakin menjadi. Kevin semakin bingung dibuatnya. Ia tak tau harus berbuat apa saat melihat Sintiya menangis.
Lalu hal apa yang sebenarnya terjadi pada Sintiya hingga menangis seperti itu?
Mengapa Sintiya menangis?
Nantikan di chapter selanjutnya~^^
__ADS_1