
"Akan ku serahkan seluruh hidupku padamu karena aku percaya padamu Kevin"
Sintiya El Malik -
Tatapan siap menerkam telah tersirat di bola mata seorang pria yang sedang menindih badan seorang wanita. Gairah telah menggebu-gebu pada diri pria itu. Ya, mereka adalah Sintiya dan Kevin. Kevin hendak menyerang Sintiya yang sedang ditindihnya namun ia urungkan. Pasalnya gadisnya mengeluarkan air matanya.
"Sayang kamu kenapa? Kamu tak menginginkannya kah?" tanya Kevin kepada gadis di bawahnya. Kevin berinisiatif menarik tangan gadis itu. Lalu mendudukkannya. Kevin menghadapkan tubuh gadis itu di depannya. Agar bisa saling berhadapan.
Ya, Sintiya telah menangis dan entah karena apakah penyebabnya. Air mata Sintiya terus mengalir deras. Kevin terus bertanya pada Sintiya namun ia tak mendapatkan jawabannya. Sintiya masih terdiam seraya menangis tergugu. Suara isakan tangisannya makin keras.
Kevin yang melihat dan mendengarkan tangisannya merasa kewalahan karena Sintiya yang tak mengatakan apapun. Lama kelamaan ia merasa kesal.
Ck! Ada apa sih dengan gadis ini!
Bukannya bisa enak-enak dia malah menangis tak jelas begini!
Argh mengurus gadis ini sungguh menyebalkan!
Merepotkan saja!
Gua harus apa!
Huft tahan emosi lu Kevin!
Ingat masih ada hal yang harus kau dapatkan jadi jangan terbawa emosi karena gadis ini!
Kau harus menenangkannya jadi kau akan tau apa penyebabnya!
Kau harus menunggu hingga dia menyelesaikan tangisnya
Mengurus seorang wanita memang memusingkan!
Kevin menunggu Sintiya untuk menyelesaikan tangisnya. Kevin mendekap tubuh Sintiya dan memeluknya.
"Aku tak tau hal apa yang kau rasakan sayang tapi jika kau masih ingin menangis. Maka menangislah, bahuku siap kau gunakan untuk bersandar." Kevin berusaha untuk berakting pura-pura peduli pada Sintiya. Itu semua ia gunakan agar dirinya bisa mendapatkan apa yang dia mau. Kevin mengelus setiap helai rambut panjang Sintiya dengan lembut.
Sintiya merasakan kelembutan Kevin, ia pun membalas pelukan Kevin. Menumpahkan seluruh air matanya pada bahu Kevin. Melepaskan segala hal yang ia rasakan. Dalam hati, Sintiya merasa beruntung memiliki Kevin. Meskipun ia tak mengetahui sifat palsu Kevin. Sintiya masih setia mencintai Kevin.
Tiga puluh menit kemudian, Tangis Sintiya telah berhenti. Sintiya melepaskan pelukan Kevin. Lalu menatap Kevin dengan lekat.
Kevin menangkup wajah Sintiya. Mengelusnya secara perlahan. Memberikan sentuhan lembut pada kedua pipi Sintiya seraya menghapus air mata yang jatuh dari pelupuk matanya, "Udah tenang sekarang kamu sayang?" kata Kevin bertanya pada Sintiya dengan sangat halus.
Sintiya memberikan jawaban dengan mengangguk pelan dan mengulas senyum simpul pada Kevin.
"Jadi apa yang terjadi padamu sayang hingga kau menangis seperti ini?" Kevin berpura-pura bertanya pada Sintiya. Kevin ingin mengulik hal yang terjadi pada Sintiya. Kevin ingin mengetahuinya. Siapa tau hal itu berhubungan dengan gadis yang dia incar yaitu Kirani.
Kevin melihat Sintiya yang mengeluarkan sesuatu dari saku tasnya. Sebuah ponselnya Sintiya keluarkan. Sintiya membuka ponselnya di hadapan Kevin. Sintiya membuka aplikasi estagram miliknya. Kevin mengerutkan alisnya. Kevin merasa bingung kenap gadis di depannya memperlihatkan estagramnya. Kevin membiarkan gadis itu menunjukkannya.
"Sayang kamu mau tunjukkin apa?" Kevin bertanya pada Sintiya karena rasa tak sabarnya. Ia tak bisa menahan rasa penasarannya. Pasalnya Sintiya yang masih terus menggerakkan tangannya untuk scroll estagramnya tanpa memberinya penjelasan. Hal itu membuat Kevin makin merasa penasaran dan tak sabar.
Tangan Sintiya berhenti menscroll. Tangannya berhenti pada sebuah postingan foto seorang laki-laki dan perempuan. Sintiya menunjuk dengan jari telunjuknya. Memberi kode pada Kevin, "Ini."
Kevin yang merasa peka akan kode yang Sintiya berikan langsung melihat ke bawah. Melihat ponsel Sintiya yang memperlihatkan sebuah postingan foto estagram. Kevin membelakkan kedua bola matanya setelah melihat postingan foto yang ditunjukkan oleh Sintiya. Kevin merasa kaget melihat postingan foto itu. Tapi Kevin berusaha bersikap biasa saja agar tak diketahui oleh Sintiya.
__ADS_1
"Apa maksudmu sayang? Ini siapa sayang?" Kevin bertanya dengan santai kepada Sintiya. Walau dalam hatinya ia merasa syok. Kevin tau jika foto postingan kedua pasangan itu adalah Kirani. Namun ia tak tau siapa seorang laki-laki yang sedang berada di postingan itu. Kevin ingin membiarkan Sintiya yang menjelaskannya agar semua aktingnya bisa berjalan dengan lancar. Berpura-pura tidak tahu menahu adalah strategi yang bagus untuk dirinya. Kevin tak mau usaha aktingnya selama ini berakhir sia-sia. Jadi ia akan terus berakting di depan gadis bodoh itu, Sintiya.
Sintiya mendongakkan wajahnya. Menatap wajah Kevin dengan lesu, "Dia adalah calon suami Kirani." Balas Sintiya dengan nada suara yang lirih.
Deg!
Kevin melongo mendengar jawaban Sintiya.
Apa! Calon suami!?
Bagaimana bisa Kirani memiliki calon suami secepat itu!?
Bukannya Selama ini Kirani menghilang?
Bukannya selama ini Kirani takut dekat dengan seorang laki-laki?
Namun kenapa bisa Kirani mempunyai calon suami sedekat itu?
Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Apa semua ini berhubungan dengan rencana Rafael?
Jika iya maka aku harus menyelidiki dan mencari tahu semuanya!
Aku harus tau hal itu!
Aku tak mau kalah dari Rafael!
Aku akan menggunakan Sintiya untuk bahan mencari informasiku!
Aku tak akan biarkan Kirani jatuh di tangan laki-laki lain!
Hanya aku yang bisa memiliki Kirani!
Beratus-ratus pertanyaan ada di kepala Kevin. Kevin merasa bingung dengan semuanya. Namun Kevin berpikir akan mengambil langkah dengan cara memperalat Sintiya. Dan cara memperalat Sintiya adalah dengan cara terus bertanya secara halus. Serta bersikap lugu tak tahu menahu.
"Jadi inikah yang membuatmu sedih sayang?" Kevin bertanya dengan selembut mungkin pada Sintiya. Kevin mengelus ubun-ubun kepala Sintiya. Berusaha membuat kenyamanan untuk Sintiya.
Sintiya mengangguk pelan, "Iya ini yang bikin aku pergi ke apartemenmu sayang. Aku sedih dan kesal pada diriku sendiri. Aku kecewa pada diriku yang tak pernah bisa memahami perasaan kak Rafael. Aku kecewa pada diriku yang tak tau sakit hati yang kakakku rasakan sayang! Bagaimana mungkin kak Rafael menyembunyikan semuanya dariku hiks! Sungguh aku marah dan kecewa sayang! Aku seperti seorang adik yang tak berguna pada kakakku sendiri hiks!" Ungkap Sintiya akan kesedihan dan kekecewaan yang ia rasakan. Sintiya kembali menangis di depan Kevin. Jika mengingat semuanya, Sintiya merasa teringat pada sebuah malam dimana Rafael yang menyakiti dirinya sendiri. Dan hal itu ia sama sekali tak menyadari sakit hati yang dirasakan kakaknya. Ia merasa menjadi adik yang tak mengerti kakaknya.
"Dan kau tau sayang, Ini lah penyebab Kak Rafael menyakiti dirinya sendiri! Aku, apa aku tak bisa dipercaya untuk menjadi sandaran kakakku sendiri? Hiks!" Ucap Sintiya yang masih meluapkan kesedihan dan kekecewaan yang ia rasakan.
Kevin memahami perasaan yang Sintiya rasakan. Kevin menarik kembali tubuh Sintiya ke dalam dekapannya. Memeluknya dengan erat. Memberinya kecupan di ubun-ubun kepalanya. Menyibak pelan helaian rambutnya.
"Kakakmu memang tak tau diri sayang. Kau sangat peduli padanya tapi kakakmu tak menyadari hal itu. Bodoh sekali dia telah mengecewakanmu! Jika aku berada di posisimu aku juga akan sedih. Tapi kamu tak perlu sedih sayang. Aku akan selalu ada di pihakmu. Aku akan berada di sampingmu. Kau bisa menceritakan hal apapun padaku. Tak usah terlalu disesali atau disedihkan lagi. Karena aku akan memberikan kebahagiaan yang tak bisa diberikan oleh kakakmu itu." Kevin berucap manis pada Sintiya. Hal manis yang menyimpan sejuta rencana busuknya.
"Aku akan percaya padamu sayang. Jadi lupakan semuanya. Hapus air matamu dan mari kita buat kebahagiaan baru lagi. Okey?" Lanjut Kevin diiringi mengecup kening Sintiya.
"Kau tak cantik lagi kalo menangis begini. Macam anak kecil yang direbut permennya." Imbuh Kevin memberi gurauan pada Sintiya.
Sintiya terkekeh lalu menyikut dada Kevin, "Ish kau kok gitu sih sayang! Apa memang aku tak cantik lagi di matamu?"
Kevin merintih lalu tersenyum, "Mana ada kau tak cantik sayang. Bahkan aku sangat tergila-gila dengan lekuk tubuhmu yang menggoda ini."
Lalu Kevin beringsut ke bawah dan memberikan kecupan lama di leher jenjang Sintiya. Sintiya merasakan gelayar aneh saat Kevin mengecup leher jenjangnya. Sintiya merem melek saat Kevin memberinya tanda.
Kevin mendongakkan kepalanya ke atas agar bisa melihat Sintiya, "Ini akan menjadi tanda bahwa kau akan selamanya menjadi milikku dan tak ada seorangpun laki-laki yang dapat memilikimu selain aku!" Tegas Kevin berucap posesif kepada Sintiya. Kevin menunjuk pada kissmark berwarna keunguan yang telah dibuatnya. Memberi tahu Sintiya.
__ADS_1
Sintiya terkekeh karena merasa senang dan bahagia saat melihat sikap posesif Kevin. Lalu tangan Kevin semakin ke bawah, meremas favoritnya yang masih tertutup oleh penutup.
Sintiya mendesah pelan, "ah.."
Lalu Kevin terkekeh mendengar ******* yang keluar dari bibir Sintiya. Ia pun bertanya, "Jadi sayang mau kita lanjutkan aktivitas kita tadi?"
Sintiya membuka matanya dengan sayup-sayup, "Aktivitas apa sayang?" Tanya Sintiya yang begitu polos tak memahami kodenya.
Kevin menepuk jidatnya. Ia lupa jika gadis yang ia pacari saat ini adalah gadis yang polos. Ia juga baru ingat jika gadis ini tak pernah tau tentang hubungan intim. Sintiya hanya mengetahui sekedar saling sentuh, bersentuhan saja. Selain itu Kevin tau jika Sintiya tak mengetahui hal intim itu.
Kevin menyebut satu kata, "Bercinta." Lalu melanjutkan ucapannya, "Kau paham artinya sayang?"
Sintiya menggelengkan kepalanya dan menjawab singkat, "Tidak tau sayang."
Kevin meremas rambutnya kasar karena merasa gemas dengan gadis yang dipacarinya tak memahami arti bercinta.
Kau ini umur berapa sih Sintiya?
Mengapa kau tak mengerti kata Bercinta?
Oh ** rasanya kesal di ubun-ubun terus dari tadi!
Sudahlah tahan Kevin!
Mari rusak adik dari musuhmu!
Kevin mengaitkan kedua tangannya dan menggerakkan kedua tangannya dengan gerakan meremas. Lalu Kevin membisikkan suatu kalimat di telinga Sintiya, "Making love sayang. Hubungan intim suami istri. You understand?"
Ternyata Kevin memberi clue pada Sintiya. Sintiya membelakkan matanya setelah mendengarkan clue dari bibir Kevin.
"Apa? Kau mau kita melakukan itu sayang?" Sintiya menjauhkan dirinya dari Kevin. Memberi jarak.
Kevin mendekat lalu meraih wajah Sintiya, "Kau sayang aku bukan? Aku yakin jika kita melakukannya maka kau akan mendapatkan kenikmatan yang tiada tara sayang. Dan tentunya kau bisa melupakan apa yang terjadi padamu tadi. So tunggu apa lagi?"
Kevin memberi kecupan pada pipi Sintiya lalu kecupannya turun hingga ke leher jenjang Sintiya. Membuat gelanyar aneh pada diri Sintiya. Gairah Sintiya naik dan Sintiya tak tahan lagi.
Kevin berhenti sejenak lalu menatap Sintiya. Meminta jawaban atas permintaannya.
Sintiya berucap sambil mendesah, "Lakukan apapun yang kau sayang. Tuntun dan ajari aku sayang."
Setelah mendapat persetujuan dari Sintiya, Kevin langsung melucuti pakaian Sintiya. Membuka pengait penutup mainan favoritnya milik Sintiya. Kemudian ia memperlentangkan kembali tubuh Sintiya ke kasurnya. Lalu tanpa basa basi Kevin menyerbunya dengan ganas dan brutal. Seraya menggerakkan tangannya ke dalam mahkota Sintiya. Sintiya terus mengerang dan mendesah tiada henti. Seisi kamar apartemen Kevin dipenuhi oleh ******* dan erangan Sintiya.
Kegiatan gairah itu berlanjut hingga Sintiya tertidur pulas di pelukan Kevin.
''Sayang aku lelah..'' lirih Sintiya
''Tidurlah sayang. Aku tau kau lelah.'' balas Kevin seraya membelai lembut ubun-ubun kepala Sintiya
Tak lama kemudian Sintiya tertidur pulas di pelukan Kevin. Kevin melihat Sintiya yang tertidur pulas. Ia tersenyum menyeringai dan penuh arti.
Sedikit lagi Rafael!
Aku telah berhasil merusak adikmu!
Inilah balsa dendamku yang akan ku mulai!
Ku pastikan dua wanitamu terluka!
__ADS_1
Dan kau akan hancur!