Gairah Cinta Sang Model

Gairah Cinta Sang Model
Bab 35


__ADS_3

"Aku akan jebak kau dalam perangkap pesonaku tuan Reihan!"


- Sintiya El Malik -


******* demi ******* Sintiya lakukan. Sintiya semakin menarik tekuk kepala Reihan untuk mendekat. Sintiya tak hanya ******* bibir Reihan, ia juga merengkuh pinggang Reihan. Tangannya tak tinggal diam, ia gunakan untuk meraba di setiap punggung Reihan hingga ke leher jenjang Reihan. Sintiya meraba jenjang leher Reihan dengan sensual.


Kirani dan Kevin yang awalnya berdebat pun berubah menjadi diam. Menoleh ke belakang dan mendapati Sintiya yang sudah beradu ciuman dengan Reihan. Kirani langsung berjalan mendekati mereka berdua. Memisahkan Sintiya dari tubuh Reihan. Kevin pun ikut memisahkan Sintiya kekasihnya.


Nyala mata Kirani telah menyala. Di sudut mata Kirani, ia mengepalkan tangannya lalu ingin menampar gadis bernama Sintiya itu. Namun ia urungkan pikiran itu. Ia tak mau membuat keributan lagi.


Kirani melotot pada Kevin, "Bawa gadis sampahmu itu dari hadapan kami berdua!" Tekan Kirani dengan nada tinggi.


Kevin tak membalas perintah Kirani. Kirani merasa semakin sebal. Lalu Kirani menarik tangan Reihan untuk pergi.


Setelah kepergian Kirani, Kevin menarik paksa Sintiya dari hadapan seluruh orang. Kali ini Kevin membawa Sintiya kembali masuk ke dalam resort. Kevin membawa Sintiya ke arah kamarnya berada. Kevin menghempaskan tubuh Sintiya ke kasur dengan kasar. Kevin menindih tubuh Sintiya. Menyentuh dagu sedikit dengan sedikit meremas.


"Kenapa kau mencium pria itu! Mengapa!" maki Kevin marah besar pada Sintiya. Kevin tak tau lagi apa yang ada di kepala Sintiya sehingga berbuat hal seperti itu. Mencium Reihan di hadapan umum. Apalagi mencium Reihan di saat pertengahan dirinya dan Kirani terjadi. Bukannya membantunya untuk berdebat dengan Kirani, Sintiya malah melakukan hal bodoh. Kevin merasa sia-sia sekali membela Sintiya.


Kevin mengusap wajahnya kasar seraya menunggu jawaban dari Sintiya. Bukannya menjelaskan Sintiya malah mengalungkan tangannya di leher Kevin. Lalu membuka kancing dressnya. Kemudian Sintiya mendekatkan wajahnya dan mengambil ciuman Kevin. Berusaha untuk ******* bibir Kevin namun Kevin masih menutup akses bibirnya.


Sintiya tak menyerah begitu. Ciumannya pun berangsur di leher Kevin. Sintiya menciumi setiap inci wajah Kevin lalu pindah ke leher jenjang Kevin. Tangannya ia gunakan untuk masuk ke dalam boxer yang Kevin kenakan. Lalu setelah tangannya masuk langsung saja tangannya meremas apa yang ada di dalamnya. Sintiya melakukan ini semua untuk meredakan emosi Kevin. Sintiya tau cara meredekan emosi Kevin.


Kevin mengeluh karena miliknya diremas oleh Sintiya. Kevin tak tahan lagi. Kevin pun melucuti dress yang dikenakan Sintiya. Lalu meremas benda favorit indah milik Sintiya. Sintiya mengerang keras. Membalas perbuatan Sintiya pada pusakanya.


"Sayang kiss meehh." pinta Sintiya seraya mendesah seksi.


"Tidak! Ini adalah hukuman untukmu! Jadi terima saja!" ujar Kevin menolak permintaan Kevin. Kevin membuka boxer miliknya lalu meluruhkan ****** ***** yang bertengger di mahkota Sintiya. Kevin berhasil membuka ****** ***** Sintiya. Mahkota milik Sintiya terpampang jelas di depan Kevin.


Kevin menarik tubuh Sintiya dari kasur. Berdiri berhadapan dengannya. Lalu Kevin menarik pinggang Sintiya dan membuka kedua pahanya. Menaikkan kaki sebelah kanan ke atas. Dengan sekali sentakan tanpa adanya pemanasan, Kevin memasukkan miliknya ke dalam liang mahkota Sintiya. Menghentakkan pusakanya semakin dalam.


Sintiya mengerang kesakitan karena Kevin tak melakukan pemanasan dengan miliknya. Kevin semakin brutal menggenjot tubuh Sintiya. Kevin menggendong tubuh Sintiya ke sudut dinding. Lalu kembali menghentakkan dengan brutal tanpa ampun. Sintiya mengerang kesakitan dan kenikmatan. Kevin melakukannya dengan waktu yang lama. Entah sudah berapa kali Kevin menyemburkan benihnya ke rahim Sintiya.


"Terima ini agar kau tak menggatal pada laki-laki lain!" ujar Kevin di tengah dirinya mendorong milik di liang mahkota tubuh Sintiya.


"Ya sayanghh.." desah Sintiya merasakan nikmat tiada tara.


"Ahh keluarrrrhh.." Racau Kevin menekan miliknya untuk menyemburkan benihnya ke dalam rahim Sintiya.


Sintiya merasakan rasa hangat di rahimnya. Kevin mengeluarkan miliknya lalu berjalan ke kamar mandi. Meninggalkan Sintiya yang terkapar di kasur.


Sintiya merasa terkulai lemas. Namun ia juga merasa bahagia karena Kevin akhirnya menunjukkan sisi cemburunya. Ia tersenyum manis sendirian.


Kevin akhirnya kamu menunjukkan sisi cemburumu padaku..


Semoga kau jadi ya nak..


Sintiya berpikir sejenak. Sebuah ide gila tercetus dalam pikirannya.

__ADS_1


Gimana kalo aku jebak Reihan agar bermain denganku..


Itu pasti ide yang hebat!


Terus aku berpura-pura aja deh kalo hamil..


Hati Kirani pasti sakit sekali melihatnya!


Ya itu ide yang bagus!


Akan ku lakukan hal itu!


Dan akan ku hancurkan kebahagiaanmu sebelum hari bahagiamu Kirani!


Hoho Kirani tunggu saja kehancuran hatimu!


Akan ku pastikan kau tak bahagia!


Akan ku pastikan kau hancur dan sakit hati lebih dari yang kak Rafael rasakan!


Sintiya melihat foto postingan Kirani dan Reihan. Ia tersenyum menyeringai setelah berhasil mendapatkan ide gilanya.


Di sisi lain...


Kevin Pov


Kevin meninju tangannya di kaca. Ia menjambak rambutnya secara acak. Sebuah cairan merah segar mengalir di tangan Kevin. Kevin tak mempedulikannya.


Saat aku masih berteriak sebuah gedoran ku dengar.


Hm itu pasti Sintiya. Ada apa lagi sih gadis itu! Batinku dalam hati menggeram.


"Kevin sayang buka pintunya!!" teriak seorang gadis yang tak lain adalah Sintiya.


Ku pakai bathrobe handuknya. Lalu membuka pintu kamar mandi. Ku dapati Sintiya yang sudah berdiri di depan pintu.


Ku tatap dingin wajahnya, "Apa!?" tanyaku dengan wajah dinginku


Sintiya menarik tanganku dan membawaku ke sofa. Memintaku duduk di sofa. Lalu ia duduk di bawah seraya meraih tanganku.


"Sayang kau marah ya?" tanyanya yang sudah tau begitu masih saja ditanyakan. Dan dia masih tanya dengan wajah polosnya.


"Kalo kau sudah tau tak usah tanya lagi!" jawabku dengan ketus.


Sintiya mengarahkan tangannya ke pipiku. Mengelus secara pelan dan membelainya. Sintiya tersenyum manis, "Sayang kamu ternyata bisa cemburu padaku juga ya?" ujarnya lalu terkekeh


"Wajar! Aku laki-lakimu!" tegasku yang tak tau kenapa tiba-tiba aku berbicara seperti ini.

__ADS_1


Sintiya terkekeh semakin keras, "Lucu juga ya ekspresi kamu kalo cemburu seperti ini. Makin sayang deh sama kamu sayang." gombal Sintiya pada diriku. Bukannya merasa takut ia malah menggombaliku dengan renyah.


Ku mendengus kesal, "Udah deh katakan padaku kenapa kau melakukan semua ini tanpa mendapatkan aba-aba dariku! Kamu tau kan lawanmu itu berat! Apalagi Reihan itu seorang pengusaha besar! Kalo kau seperti ini bagaimana bisa kamu tak ketahuan oleh Reihan? Lalu bisa-bisa balas dendammu tak akan bisa terwujud! Cobalah untuk tak bertindak gegabah!" makiku pada Sintiya. Ku luapkan semua kemarahan dan kesebalan yang ku rasakan. Tak. Peduli akan dicap seperti apa olehnya.


"Cobalah mengerti hal itu Sintiya!" Lanjutku menegaskan


"Bukannya membantuku untuk berdebat dengan Kirani kau malah melakukan hal bodoh! Sia-sia aku membelamu huh!" Protesku ku luapkan semuanya.


Sintiya hanya mengangguk, "Iya sayang aku mengerti kok. Sebenarnya aku melakukan semua ini juga memiliki alasannya."


"Apa alasanmu? Coba katakan padaku?" tantangku


"Alasanku ya aku mau mendekati laki-lakinya agar Kirani bisa merasakan rasa sakit hati yang lebih seperti yang dirasakan oleh kakakku." Jawab Sintiya Menjelaskannya padaku.


Aku mengusap kasar wajahku. Aku tak paham dengan maksud ucapannya. Tak ada sedikitpun hal yang bisa ku logikan dari alasan yang ia jelaskan padaku.


"Maksud kamu bagaimana sih! Aku tak paham deh!" ujarku meminta penjelasan lebih.


Sintiya menatap lekat mataku seraya masih menggandeng tanganku, "Sayang begini lho. Dengarkan aku baik-baik, aku memiliki ide untuk mendekati tuan Reihan." ujarnya yang ku potong.


"Untuk apa mendekati tuan Reihan!? Kau gila apa!?" balasku memotong ucapan Sintiya.


Sintiya semakin tersenyum lebar lalu terkekeh sendiri, "Aduh sayang kamu masih belum paham juga ya?"


"Ya belum lah! Mangkanya jelasin padaku!" balasku ketus


"Ya gimana mau jelasin kalo kamu potong terus! Mangkanya dengerin aku bicara dulu baru kamu balas setelah aku selesai bicara!" ucap Sintiya menyerang balik diriku.


Ku menghela nafas, "Huft! Ya baiklah. Jelasin padaku sekarang juga!"


Sintiya mulai menjelaskan beberapa hal kepadaku. Aku mendengarkan seksama penjelasannya.


"Begini sayang, pusat utama target kita emang Kirani. Tapi kita tak bisa langsung saja menyerang Kirani. Justru kita harus mendekati pusat orang yang ada di dekatnya. Dan tuan Reihan lah orang yang dekat dengan Kirani bukan?" tanya Sintiya yang terdengar logis juga di pikiranku.


"Lalu?"


"Lalu ya cara satu-satunya ya menggoda tuan Reihan agar Kirani semakin memanas sayang." Ucap Sintiya dengan mata berbinar


Aku tak paham betul apa maksud dari pemikiran dan rencananya. Sungguh semua sulit untuk ku cerna.


"Aku akan menjerat tuan Reihan untuk jatuh pada pesonaku. Lalu Kirani akan merasakan apa arti sakit hati itu sebenarnya." Lanjutnya.


"Lalu setelah itu aku berencana untuk berpura-pura hamil anak tuan Reihan tercintanya Kirani itu." Imbuh Sintiya yang masih menjelaskan kepada diriku.


Seketika aku melotot mendengarkan penjelasan kalimat terakhirnya itu.


"APA KAU GILA SINTIYA EL MALIK?"

__ADS_1


Bagaimanakah kelanjutan dari rencana yang dibuat Sintiya?


Akankah Kevin menyetujui rencana yang dibuat oleh Sintiya?


__ADS_2