
"Simpan kemarahanmu karena kita akan pake cara halus untuk membalaskan dendammu terhadapnya!"
- Kevin Armando -
"Kau! Kirani?" pekik Sintiya menyadari bahwa wanita hamil yang ditabraknya adalah Kirani sahabatnya. Sintiya tak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan Kirani.
"Kau hamil anak siapa Ran! Bagaimana bisa kau tega tidur dengan laki-laki lain dan menyakiti kak Rafael yang sudah mencintaimu hah!" Sintiya membentak sosok wanita hamil di depannya.
"Anak yang ku kandung anak suamiku. Dan ini suamiku. Alasanku pergi dari kakakmu karena aku tak lagi mencintai kakakmu itu." Kirani menjawab dengan tenang. Seolah tak ada rasa salah sedikitpun. Kirani pun tak sungkan merangkul lengan tangan lelaki yang telah memaki Sintiya.
"Lagian kakakmu gak lebih berada dari suamiku." Imbuh Kirani merendahkan Rafael.
Emosi Sintiya membara seketika setelah mendengar Kirani merendahkan kakaknya. Sintiya mengambil kerah dress Kirani dan menariknya, "KAU! KAU TAK AKAN BISA MERENDAHKAN KAKAKKU!"
"KAU MENJADI TOP MODEL JUGA KARENA SIAPA HAH! JIKA BUKAN KARENA KAK RAFAEL MAKA KAU SUDAH JUAL TUBUHMU PADA LAKI-LAKI LAIN!" Sintiya memaki Kirani dengan berani. Tak peduli teriakannya menjadi pusat perhatian di sekitarnya.
"Itu masa lalu sudahlah Sintiya. Aku lebih cinta dengan suamiku sekarang bukan kakakmu yang brengsek itu." Balas Kirani dengan tajam. Menyulut api kemarahan Sintiya.
Sintiya semakin mengeratkan tarikannya. Tangannya sudah terkepal. Siap untuk memukul Kirani. Seringai maut Kirani berikan pada Sintiya.
"Kakakmu Rafael bukanlah pilihan yang tepat untukku karena dia tak berguna untukku. Jadi wajar dong jika aku memilih laki-laki lain." Kirani terus semakin berani berkata merendahkan Rafael di hadapan Sintiya.
Sintiya tak bisa menunggu lagi akhirnya ia melayangkan pukulannya seraya berkata, "Mati saja kau ******!"
Berkali-kali ia memukul namun entah kenapa ada suara teriakan yang memanggil namanya. Sintiya tak peduli hingga pada akhirnya ia merasakan guyuran air di wajahnya.
Byur!
Sintiya bangun tiba-tiba dengan gelagapan karena menerima guyuran air itu. Kepalanya serasa pusing namun ia berusaha untuk melihat ke sekitar. Hal yang ia liat adalah wajah kekasihnya yang sedikit memar.
"Sayang? Ada apa dengan pipimu? Kenapa merah memar begitu?" Sintiya mendekat dan mengusap pipi milik kekasihnya- Kevin.
"Itu karena pukulanmu waktu tidur huh!" Dengus Kevin yang tampaknya marah kepada Sintiya.
"Ya ampun sayang maafkan aku. Pasti sakit ya?" Sintiya merasa bersalah namun ia tak sadar jika tubuhnya terlihat tanpa sehelai kain pun.
"Emang kamu mimpi apa sih sampai ngigau manggil nama Kirani itu? Sampai kamu pukul aku." tanya Kevin menelisik mata Sintiya
"Ya aku mimpi kita liburan di resort bagus terus aku melihat Kirani yang sudah hamil besar. Aku tak sengaja menabraknya lalu aku bertanya pada dia kenapa dia memilih laki-laki lain. Terus dia menjawabnya jika dia tak mencintai kakakku lagi. Dia terus merendahkan kakakku dan aku sangat kesal. Aku layangkan pukulan deh ke dia. Eh ternyata itu cuma mimpi. Yang ada kamu yang kena pukulanku hmm. Maafkan aku sayang." Sintiya menjelaskan semua mimpi yang ia rasakan dengan panjang kali lebar pada Kevin. Seraya tangannya mengelus pipi laki-laki itu.
Kevin mengangguk-angguk, "Ya aku paham sekarang. Mungkin mimpimu itu petunjuk tentang tabiat sifat buruk kirani sebenarnya sayang. Biasanya seperti itu." hasut Kevin pada Sintiya. Kevin mau membuat Sintiya berubah membenci Kirani. Dan menghasut Sintiya adalah cara termudah bagi Kevin.
"Benarkah seperti itu sayang? Berarti selama ini Kirani bersikap busuk di belakangku? Kamu tau darimana itu sayang!?" Sintiya merasa curiga namun ia juga merasa percaya pada Kevin
"Ya sayang, aku tau karena aku dulu satu agensi dengannya. Dia sering ciuman dengan laki-laki lain jadi tak heran bukan jika dia sebenarnya wanita busuk." Kevin semakin menghasut Sintiya dengan kata- kata bohong.
"Jadi tak heran bukan?" Kevin melanjutkan kembali hasutannya seraya menarik pinggang Sintiya untuk mendekat ke dada bidangnya. Setelah dekat Kevin menggerakkan kedua tangannya untuk meremas kedua gundukan indah Sintiya.
Sintiya tak fokus dengan hal yang diucapkan Kevin. Ia malah fokus mengerang dan merintih karena merasakan gerakan tangan Kevin di kedua gundukan indahnya. Tangan itu semakin turun ke bawah hingga ke mahkotanya.
"Mau bercinta lagi di shower sayang? Aku ingin kita melakukannya disana." ajak Kevin seraya menunjuk ke pintu kamar mandi.
"Lakukan apa yang kau mau sayang." Sintiya sudah digelapkan oleh gairah yang dibuat oleh Kevin. Sintiya menyetujui permintaan kevin begitu saja.
Kevin langsung menggendong tubuh Sintiya ke shower miliknya. Di shower itu, Kevin nyalakan lalu mencium bibir Sintiya secara membabi buta. Tak lupa memasukkan miliknya ke liang mahkota kenikmatan milik Sintiya. Dan percintaan pun dimulai lagi...
*****
Beberapa jam kemudian..
Setelah kegiatan bercinta Sintiya tertidur pulas di ranjang Kevin. Sedangkan Kevin sibuk menghubungi anak buahnya. Kevin duduk di atas kursi. Menaikkan kakinya serta seraya menghisap vape miliknya.
"Gimana? Udah dapat resort tempat Kirani liburan?" tanya Kevin pada anak buahnya.
["Sudah bos! Nama Resortnya Permata indah." ]
"Lalu Kirani masih ada disitu bukan?" tanya Kevin lagi
["Ya masih bos. Mereka masih menginap 3 hari lagi. Jadi bos bisa bertemu dengannya dan kami sudah bookingkan untuk bos serta Sintiya." ]
Kevin tersenyum seringai, "Baiklah kerja bagus kalian. Secepatnya aku akan pergi ke resort itu."
["Bonus jangan lupa bos!"]
"Gampang, Aku akan transfer sekarang. Kau tak perlu rusuh." Balas Kevin
Saat Kevin tengah sibuk menelfon, ia merasakan ada sebuah tangan mengalungkan di bahunya dan menyandarkan kepalanya. Kevin menutup ponselnya dan menoleh ke belakang. Kevin terkejut saat mendapati sosok Sintiya. Sosok Sintiya ternyata yang mengalungkan tangannya tadi.
"Sayang? Kamu sudah bangun? Dari kapan?" Kevin bertanya dengan gelagapan.
Sintiya mengangguk, "Dari tadi. Kamu nelfon siapa? Aku dengar kamu bicara resort. Apa kamu sudah menemukan resort untuk kita liburan?" tanya Sintiya
"Ya sayang aku sudah temukan. Jadi... " Kevin hendak meneruskan ucapannya namun dipotong oleh Sintiya
"Aku dengar tadi kau sebut nama Kirani. Ada apa sebenarnya?" Tanya Sintiya dengan tatapan kecurigaan.
"Gak ada sayang, mungkin kamu salah dengar. Nama resortnya permata indah. Resortnya bagus jadi ayo kita berkemas dan pergi sekarang." Elak Kevin yang berusaha untuk menutupi kecurigaan Sintiya kepada dirinya. Kevin tak mau rencananya diketahui oleh Sintiya. Ia masih belum siap. Jadi secerdik mungkin ia mengajak Sintiya pergi ke resort.
__ADS_1
"Sekarang?"
"Iya sekarang sayang karena aku sudah booking kamar untuk kita berdua. Kita akan menginap di resort itu tiga hari. Jadi tunggu apa lagi?" Ujar Kevin yang masih berharap Sintiya tak curiga pada dirinya.
Mata Sintiya terbelak, "Benarkah itu sayang?"
"Ya sayang jadi ayo bersiaplah." balas Kevin mengelus pipi Sintiya
"Ya sudah ayo! Aku akan menyiapkan koper dan baju kita berdua. Aku senang dan bahagia kamu menurutiku! Muah makasih sayang." seru Sintiya kegirangan seraya mengecup pipi Kevin. Kemudian Sintiya sudah heboh menyiapkan koper dan baju.
Kevin hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Sintiya. Kevin juga merasa lega bisa membuat kecurigaan Sintiya pada dirinya hilang. Sintiya memang bodoh namun dia masih peka dan ingat akan pendengaran tajamnya. Jadi mau tak mau Kevin harus terus berbohong dan bersandiawara di hadapan Sintiya.
****
Beberapa jam kemudian Sintiya dan Kevin telah mempersiapkan liburan mereka berdua. Sintiya telah berdandan cantik. Sintiya memakai setelan dress bunga-bunga berwarna lilac berlengan pendek 3/4 dengan outer berwarna putih. Menggerai rambut panjang dan memakai bandana yang senada dengan dress yang dipakainya. Dress yang dipakai Sintiya adalah Dress pemberian Kevin. Dan Sintita sangat menyukainya.
Sedangkan Kevin memakai kemeja lilac yang senada dengan dress yang dipakai Sintiya, beserta celana pendek selutut berwarna putih. Kevin pun telah siap. Ia berjalan mendekati Sintiya yang menunggunya dengan bercermin di kaca dan koper yang berada di dekatnya.
"Sayang kamu sudah siap?" tanya Kevin menepuk bahu Sintiya.
Sintiya yang awalnya fokus melihat penampilannya di kaca sontak mendongak ke samping. Ia melihat Kevin. Kevin melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sintiya. Memeluk mesra tubuh gadis itu seraya memberi kecupan di pipinya.
Sintiya mengangguk, "Sudah sayang. Kamu? Udah selesai?"
Kevin pun ikut mengangguk, "Sudah sayang."
"Gak ada hal yang ketinggalan lagi sayang?" tanya Sintiya memastikan pada Kevin. Siapa tau ada barang Kevin yang ketinggalan atau ingin ia bawa.
Kevin menggelengkan kepalanya, "Gak ada sayang. Yang ketinggalan hanya satu."
"Apa itu sayang?" Sintiya bertanya dengan heran.
"Hatiku buat kamu." Kevin melontarkan gombalan pada Sintiya. Membuat wajah Sintiya bersemburat merah.
Sintiya menyikut Kevin, "Kamu bisa aja sayang huh!"
Kevin terkekeh, "Kau cantik sekali sayang. Ketomboianmu berubah menjadi kecantikan bidadari di langit ketujuh." puji Kevin terhadap kecantikan Sintiya. Kevin merasa tak menyangka jika gadis di hadapannya dulu yang tomboi berubah menjadi gadis yang cantik nan menawan. Kevin masih terpana melihat kecantikan Sintiya yang memakai dress pemberiannya.
"Kau sangat cantik memakai dress ini sayang." Puji Kevin yang tiada henti. Membuat wajah Sintiya semakin memerah.
"Udah berhenti memujiku sayang. Aku sangat malu tau huh." balas Sintiya dengan malu-malu. Apalagi Kevin yang masih memeluknya erat.
Kevin mengendus leher jenjang putih Sintiya, "Sayang kau wangi sekali. Sungguh beruntung aku memilikimu sayang."
Sintiya merasa geli dengan nafas Kevin di leher jenjangnya, "Sayang sudah, Mending kita berangkat sekarang sebelum macet." Ujar Sintiya yang masih berusaha untuk menahan hasrat gairahnya. Ia tak mau liburannya tak jadi dan tertunda lagi.
Sintiya melepaskan tangan Kevin yang melingkar di pinggangnya. Lalu berbalik badan, berdiri sejajar dengan Kevin. Lalu ia menyunggingkan bibirnya. Tersenyum manis pada Kevin, "Sayang aku tau kau tak bisa menahannya. Tapi aku ingin melakukannya di tempat yang indah. Aku ingin hal spesial untuk kita berdua. Jadi tahan ya hingga kita sampai di resort." tutur Sintiya dengan sangat lembut. Agar Kevin tak marah atau tersinggung kepada dirinya.
"Ya baiklah sayang kalo itu mau kamu." balas Kevin. Mengangguk dan mengerti apa maksud ucapan Sintiya. Kevin diam sejenak. Berfikir sebentar.
Tunggu Kevin? Kenapa kau malah tertarik pada kecantikan gadis yang kau bodohi ini?
Kenapa kau mulai memuji kecantikannya?
Kenapa dirimu tiba-tiba bersikap begini?
Memang Sintiya cantik tapi bukan berarti kau?
Bukan berarti kau mulai tertarik beneran padanya?
Jangan! Jangan sampai kau tertarik pada Sintiya!
Ingat Kirani lebih menggoda daripada Sintiya! Meskipun kau sudah mencicipi tubuh Sintiya!
Jangan sampai kau terlena pada tubuh maupun kecantikan Sintiya!
Dia hanya mainanmu! Ingat itu!
Kau tak boleh tertarik maupun jatuh cinta beneran pada mainanmu!
Melihat Kevin yang terdiam lama dari tadi, Sintiya pun menegurnya dengan menepuk bahunya, "Sayang? Kamu kenapa?" Tanyanya dengan cemas
Kevin tersadar akan pikirannya lalu ia melihat Sintiya, "Ah aku tak apa kok sayang."
"Kau tak tersinggung dengan ucapanku kan sayang?" Tanya Sintiya lirih dan cemas. Ia khawatir Kevin tersinggung atas permintaannya.
Kevin menggeleng lalu mencubit pipi gembul Sintiya, "Aish sayang ngapain juga aku tersinggung. Kamu gemesin deh kalo khawatirin aku gini haha."
Sintiya mendengus karena cubitan Kevin, "Huh ya siapa tau sayang!"
Kevin melihat bibir Sintiya yang sudah manyun. Ia pun berinisiatif untuk menggendong tubuh Sintiya. Ia lakukan segera. Tanpa menunggu waktu, Kevin mengangkat tubuh Sintiya dengan gaya bridal style.
Sintiya merasa terkejut saat Kevin mengangkat tubuhnya secara tiba-tiba. Ia berteriak, "Kevin!? Kamu ngapain?"
"Menggendong tuan permaisuriku ke kereta kencana." Balas Kevin sedikit menggoda Sintiya.
Sintiya tersenyum malu mendengar penuturan Kevin. Kevin meneruskan menggendong tubuh Sintiya hingga keluar dari apartemennya.
__ADS_1
Sintiya bertanya di tengah Kevin berjalan, "Barang kita gimana?"
"Itu akan menjadi urusanku paduka permaisuriku." Balas Kevin dibalas lelehan dari Sintiya.
Kevin melanjutkan melangkahkan kakinya hingga keluar apartemennya. Sebuah mobil merah milik Sintiya telah ia siapkan sedari tadi. Kevin membuka pintu mobil lalu menurunkan tubuh Sintiya ke dalam mobil.
Setelah selesai menurunkan tubuh Sintiya ke dalam mobil Kevin berkata, "Silahkan anda tunggu saya disini permaisuriku." Ujarnya seraya bergerak menunduk layaknya seorang pangeran yang melayani permaisurinya.
Sintiya masih terkekeh. Ia merasa bahagia melihat Kevin yang memperlakukannya layaknya seorang ratu.
Sintiya menjawab, "Baiklah aku tunggu disini pangeranku. Jangan lama-lama ambil barangnya ya?"
Kevin membalas dengan cepat, "Tentu saja permaisuriku.."
Kevin kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemennya untuk mengambil barang-barangnya dengan milik Sintiya. Beberapa menit ia kembali dengan membawa dua koper dan satu tas. Kevin berjalan ke belakang. Membuka bagasi mobil lalu ia meletakkan dua koper dan satu tas itu ke dalam bagasinya.
Setelah selesai meletakkan ia berjalan ke depan. Membuka pintu mobil dan duduk di bangku pengemudi. Memasang belt pengamannya.
Kevin melihat ke arah Sintiya sebentar. Sintiya menautkan alisnya, "Kenapa?"
Kevin tak menjawab. Ia sedikit berdiri ke arah tempat duduk Sintiya. Sintiya kira Kevin akan menciumnya atau mengecupnya. Ternyata tidak. Kevin justru menarik belt pengaman Sintiya yang masih belum terpasang. Kevin memasangkan belt pengaman pada Sintiya.
Kevin tertawa melihat Sintiya yang menutup matanya. Ia pun bertanya, "Sayang kamu ngapain tutup mata?"
Sintiya membuka mata dan menyadari bahwa tak ada hal yang terjadi. Tak ada ciuman ataupun kecupan yang Kevin berikan padanya. Mendengar pertanyaan Kevin, ia merasa malu sekali. Sintiya menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Kevin masih tertawa renyah dengan kelakuan Sintiya. Ia juga masih menggoda Sintiya, "Jadi apa kau ingin ku cium ya sayang? Apa mau bercinta?" Godanya terus menerus
Sintiya mendengus kesal lalu membuka telapak tangannya yang menutupi wajahnya, "Apaan sih kamu sayang huh!"
"Udah bilang aja atuh sayang haha." Kevin masih meledek Sintiya dan tertawa terbahak-bahak.
"Udah deh ayo kita berangkat sebelum aku ngambek!" Ujar Sintiya yang mulai merengutkan wajahnya.
"Ah iya iya sayangku. Entar deh sampai di resort ku cium kau sepuasnya haha." Balas Kevin yang masih gencar meledek Sintiya.
"Ih sayanggg!!"
"Iya sayang kita berangkat sekarang haha!"
Kevin melajukan mobil sport Sintiya. Seraya tertawa riang bersama dengan Sintiya. Entah mengapa bercanda dengan Sintiya membuat hatinya nyaman dan kian menghangat. Namun Kevin adalah Kevin, seorang yang berusaha untuk memilah tujuan dan mainannya. Mungkin rasa hangat yang ia rasakan tak akan ia sadari bahwa ia mulai jatuh hati pada pesona Sintiya El Malik..
*****
Satu jam setelah perjalanan, sampai lah Sintiya dan Kevin ke resort yang mereka tuju. Resort permata indah, sebuah resort yang memiliki pesona alam dan laut. Terlihat sangat asri dengan angin yang berhembus.
Mata Sintiya terpanah dengan keindahan resort di sore hari. Cahaya matahari yang akan tenggelam bisa ia liat. Semburat warna jingga membuatnya semakin gembira.
"Sayang ayo kita keluar!" Seru Sintiya menarik baju Kevin untuk mengajaknya keluar dari mobil
"Iya sayang ayo."
Mereka berdua ingin keluar namun sebuah nada dering bergetar dari ponsel Kevin yang ada di saku celananya. Kevin mengambil ponselnya dan melihat nama anak buahnya yang tertera di layar notifikasinya.
"Sayang ayo!!" Teriak Sintiya yang sudah tak sabar.
"Kamu keluar dulu ya sayang nanti aku susul. Ada telfon penting dari kantor hehe." Ujar Kevin bohong. Ia tak mau Sintiya mendengar percakapannya dengan anak buahnya. Bisa gawat kalo ia tau rencananya. Maka dari itu Kevin meminta Sintiya keluar terlebih dahulu.
"Okey baiklah nanti susul aku ya sayang!!"
"Iya sayang." Kevin tersenyum tipis
Sintiya keluar terlebih dahulu dari mobil. Ia berjalan sendirian ke sudut pantai resort. Sintiya terus berjalan hingga tak sadar ia sudah berada di laut dekat resort. Sintiya sangat takjub dengan pemandangan matahari terbenam. Ia sangat menyukainya.
Saat ia fokus memandangi pemandangan di pantai, ia mendengar seseorang memanggil nama seseorang yang ia kenali.
"Kirani, Jangan jauh-jauh dariku."
Mendengar nama Kirani disebut, Sintiya mengikuti sumber suara itu. Lalu ia melihat seorang pasangan sedang berpelukan mesra. Seorang laki-laki yang menangkap tubuh si perempuan. Dan si perempuan yang tertawa.
"Ah kena kau sekarang Kirani! Kau gak bisa kabur lagi!" Ujar laki-laki tersebut
"Ah kak Reihan geli. Lepaskan deh." Balas perempuan itu tertawa
"Kau tak akan bisa lepas dariku Ran!"
Sintiya berusaha mendekat lagi agar bisa melihat sosok wanita itu. Siluet wanita itu tak bisa mudah Sintiya liat. Jadi Sintiya berpura-pura mendekat. Menutup wajahnya dengan syal miliknya. Ia mendekat tapi tetap memberi jarak agar tak ketahuan.
Wajah sang wanita itu menghadap ke laki-laki itu. Sintiya dapat melihat jelas wajah wanita itu.
Sontak ia berucap, "Kirani... "
Apakah benar Sintiya bertemu dengan Kirani?
Bagaimanakah kelanjutannya?
Hal apa yang Sintiya lakukan setelah melihat Kirani?
__ADS_1
Nantikan di chapter selanjutnya~^^