
"Aku tak akan mudah terprovokasi dengan tuduhanmu tentangnya!"
- Reihan Adam Khan -
Mataku melotot ketika melihat nama Kirani. Lalu ku dapatkan foto kedua dari Sintiya. Foto itu nampak jelas wajah kedua orang itu. Ya orang itu adalah Rafael dan Kirani kekasihku.
"A-apa!''
"Tak mungkin jika tuan Rafael bagian dari masa lalu Kirani.."
"Apa maksudnya ini?"
Dadaku berdebar kencang. Pikiranku melayang kemana-mana. Keringatku mulai bercucuran. Tubuhku menggemetar setelah melihat foto ini.
Jadi hal manakah yang harus ku percayai tuhan?
Benarkah foto ini?
Apakah aku harus menemui Sintiya agar bisa menemukan kebenarannya?
Ya! Aku harus menemuinya!
Itulah jalan satu-satunya!
Mendapati hal yang ku liat di foto yang dikirimkan oleh Sintiya, hatiku serasa perih. Seperti ada sebuah belati kecil yang menusuk tajam di relung hati terdalamku.
Aku, aku terdiam. Air mataku keluar begitu saja. Mengalir deras di pelupuk mataku. Pikiranku melayang kemana-mana. Ku kepalkan tanganku dan meninju ke kaca hingga pecah dan retak. Entah sudah berapa kali aku memukulkan tanganku di kaca itu. Ku jambak rambutku untuk Meluapkan emosiku.
"Bukan waktumu marah Reihan! Sekarang waktu kau mencari tahu kebenarannya! Lebih cepat lebih baik!" monologku sendiri.
Ku ambil ponselku yang sempat ku lempar. Mendial nomer Sintiya untuk melakukan panggilan. Panggilan yang ku lakukan tersambung juga.
"Ya Halo Tuan Reihan.. "
"Temui aku di kafe sekarang juga!" perintahku tegas
"Hoo ternyata tuan Reihan percaya juga. Baiklah aku akan datang."
"Ya!"
Tutt..
Panggilan telfon berakhir. Aku segera berdiri dan beranjak dari posisi dudukku. Ku berjalan ke arah mantelku. Mengambilnya dan memakainya. Lalu ku pakai sandal dan berjalan kembali ke pintu kamarku. Membukanya dan keluar dari kamar. Tak lupa menutup pintu kamarku dengan keras.
Blam!
Ku lanjutkan langkah kakiku menuju ke arah kafe resort. Aku tak peduli dengan pintu kamarku. Aku hanya fokus jalan lurus. Sepuluh menit kemudian sampailah aku di kafe resort. Ku pesan kopi expressso kesukaanku seraya menunggu kedatangan Sintiya.
Kirani tak mungkin melakukan hal itu bukan? Gumamku dalam hati di tengah perasaannku yang sangat kacau.
Klotak.. Klotak...
Suara decitan heels terdengar keras. Pandanganku terarah ke suara heels itu. Ku pandangi seorang wanita bergaun merah berhenti di depanku.
"Senang bertemu dengan anda Tuan Reihan Adam Khan yang tampan." sapa wanita itu yang tak lain adalah Sintiya El Malik, adik dari klienku.
Ku tatap wajahnya dengan datar. Lalu ku ucapkan, "Ya, silahkan duduk dan mari bicara!"
******
__ADS_1
Sintiya duduk di kursi depanku. Tersenyum lebar dan menyeringai sedikit. Ku liat wajahnya yang tak berhenti menatapku. Aku merasa risih melihatnya.
Ku berdeham, "Ehem! Jadi mari katakan apa tujuanmu sebenarnya! Tujuanmu mengirimiku pesan seperti itu!" ucapku tegas meminta penjelasan padanya.
Bukan jawaban yang ku dapatkan, dia malah menyunggingkan senyumnya semakin lebar. Menatapku dengan tatapan sensual. Ku liat pandangan matanya terarah di dada bidangku yang sedikit terbuka karena aku tak sempat mengancingkannya.
"Ehem!" dehamku lagi dengan lebih keras dari sebelumnya agar Sintiya berhenti melihat dada bidangku. Dia mendongakkan wajahnya.
"Jadi cepat katakan padaku!" desakku yang tak mau menunggu lagi
Sintiya terkekeh, "Haha maafkan saya tuan Reihan. Badan anda sangat bagus sekali. Aku yakin anda memiliki dada bidang six-pack dengan usaha yang luar biasa. Saya suka melihat laki-laki berdada bidang six-pack hehe." Ucapnya memujiku dengan tak jelas.
Ku berdecak kesal. Aku tak tau hal apa yang ada di pikiran wanita ini! Hal itu membuatku sangat risih.
"Jadi cepat katakan padaku! Jangan bicara tentang hal yang tak penting padaku! Aku tak punya banyak waktu!" ucapku menegaskannya. Aku tak mau main-main dan membuang waktuku lagi. Apalagi bersama wanita aneh ini!
Ku pasang raut wajahku serius. Menatapnya serius dengan tajam. Sintiya melihat mataku.
Sintiya terkekeh sekali lagi, "Haha tuan Reihan kenapa serius sekali sih! Bercanda dikit biar gak tegang-tegang amat. Sebelum anda lebih tegang lagi habis ini." balasnya yang menyepelekan ketegasanku.
Ku beranjak dari dudukku, "Jika kau tak berniat serius untuk mengatakannya maka lebih baik aku pergi saja! Aku tak suka membuang waktuku!" balasku tegas
Aku tak suka membuang waktuku jadi ku putuskan untuk beranjak dari dudukku. Aku tak suka juga dengan orang yang tak to the point cepat. Aku muak melihat gadis ini.
Saat aku hendak pergi, Sintiya mencekal tanganku.
"Tunggu sebentar! Baiklah aku akan bicara serius kali ini. Duduklah kembali tuan Reihan." Ucap Sintiya membujuk diriku.
"Sekali lagi kau aneh maka aku akan pergi dari sini!" tegasku memperingatinya.
Sintiya mengangguk, "Ya baik tuan Reihan."
"Ya baik tuan Reihan. Tuan Reihan ini memang tak sabaran sekali ya jika menyangkut pasangan anda. Anda pasti sangat penasaran bukan terkait masa lalu kekasih tercinta anda." balas Sintiya yang ku rasa sedang memancing diriku.
"Berhenti bercakap banyak! Dan katakan!" tegasku yang tak mau menunggu lagi.
Sintiya merogoh sesuatu dari dalam belahannya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam belahannya. Aku melihat aneh terhadap hal yang ia lakukan.
Ternyata sebuah ponsel yang ia keluarkan dari dalam belahannya. Sintiya menggerakan jari lentiknya lalu menyodorkan ponselnya di depanku.
"Sebelum aku mengatakan maka liat saja dulu foto-foto ini." ucapnya memerintahkanku.
"Anda harus melihat galeri foto ini dulu. Puaskan saja melihat foto ini agar rasa penasaran anda lega." Lanjutnya
"Aku haus, nikmati saja melihat foto ini. Aku mau pesan minuman dulu tuan Reihan." Imbuhnya yang beranjak dari duduk di kursinya. Lalu berjalan pergi begitu saja dari hadapanku.
Sepeninggal perginya Sintiya, Aku berfikir sejenak. Seraya mengamati ponsel Sintiya di hadapanku.
Apa aku harus melihat foto itu?
Bukankah hal itu tindakan privasi yang tak boleh ku lakukan ya?
Tapi aku sangat penasaran?
Sudahlah biar ku liat saja!
Tak peduli sopan atau tidak!
Setidaknya aku bisa mengetahui kebenaran dan memuaskan rasa penasaranku! Pikirku setelah beradu argumen di pikiranku.
__ADS_1
Segera saja ku ambil ponsel Sintiya yang telah disodorkannya di hadapanku. Ku gerakkan jariku untuk meslide foto demi foto yang ada di galeri. Ku slide secara pelan-pelan sekalian memikirkan dan mengamatinya.
*****
Di sisi lain..
Sintiya menyandarkan tangannya di meja bartender seraya melihat ke arah meja laki-laki. Sintiya tersenyum puas saat mendapati targetnya berada di tangannya. Sintiya memang sengaja memancing Reihan. Ia juga sengaja meninggalkan Reihan untuk melihat foto di galerinya. Ia juga sengaja pergi memesan minuman. Hal itu ia lakukan karena ia mau melakukan sesuatu terhadap Reihan.
"Kau memang tampan dan menggoda tuan Reihan. Rasanya aku ingin menikmati permainanmu." monolog Sintiya seraya tersenyum menyeringai
"Aku tak sabar untuk mendapatkan malam panas bersamamu tuan Reihan Adam Khan." ujarnya sendiri
"Entah kenapa tubuh ini menginginkan permainan juniormu. Aku akan merasa puas sekali malam ini!"
Sintiya membayangkan malam panas bersama Reihan. Tubuhnya sudah berkeringat sedari tadi. Begitu juga gairahnya yang ikut naik. Padahal dia baru saja bermain dengan Kevin. Dia merasa tak puas dan ingin bermain dengan Reihan.
Saat ia membayangkan bermain panas dengan Reihan, ada suara pelayan.
"Nyonya ini wisky pesanan anda." tegur sang pelayan membuyarkan lamunannya.
Sintiya menoleh ke arah belakang, dimana suara pelayan itu. Ia mendapati pelayan itu telah memegang dua gelas minuman berwarna merah dan biru pekat.
"Letakkan disini dulu." Perintah Sintiya seraya menunjuk ke meja.
"Baik Nyonya." Sang pelayan mengangguk lalu meletakkan kedua gelas itu di meja.
Sintiya mengambil sesuatu dari casing ponselnya. Sesuatu hal yang Sintiya ambil adalah kartu atmnya. Ia memberikan kartunya ke pelayan itu.
"Bayar pake ini." Ujar Sintiya seraya menyodorkan kartu atmnya
Sang pelayan itu mengambil kartu yang disodorkan oleh Sintiya.
"Sebentar nyonya biar saya buatkan billnya." Pamit Sang Pelayan dengan sopan. Sintiya hanya mengangguk. Lalu sang pelayan berjalan ke kasir. Sepeninggal perginya pelayan, Sintiya mengambil sesuatu dari dalam penutup belahannya. Lalu melirik ke kanan dan kiri untuk mengamati keadaan sekitar. Setelah dirasa aman, ia mengeluarkan benda itu. Benda itu adalah sebuah plastik yang berisi obat aphrodisiac. Obat yang telah ia persiapkan sedari tadi.
Ia membuka bungkus plastik itu dan menuangkan ke dalam gelas wisky yang berwarna merah. Sintiya mendengar langkah kaki seseorang. Dengan cepat ia menyembunyikan plastik itu di belakang tangannya.
"Ini nyonya bill nya." Ternyata sang pelayan lah yang datang di hadapannya. Menyodorkan bill dan kartu atm miliknya.
Sintiya menerima bill dan kartu atm itu dengan cepat. Memasukkan ke dalam casingnya.
"Itu tolong antar gelas itu ke mejaku juga ya." Pinta Sintiya memerintahkan sang pelayan.
"Dan ayo ikuti aku." Imbuhnya.
Sintiya berbalik badan dan mulai berjalan. Sang pelayan mengikutinya dari belakang sambil membawa dua gelas wisky pesanan Sintiya. Sintiya merasa lega bisa tak ketahuan oleh sang pelayan. Jika ia ketahuan maka bisa habis riwayatnya.
Dalam hati ia tersenyum puas.
"Hampir saja aku ketahuan. Kalo aku ketahuan bisa gawat!" Gumamnya dalam hati di tengah langkah kakinya.
Sintiya melihat beberapa langkah lagi ia sampai di mejanya. Ia melihat jelas wajah Reihan yang masih menunduk.
"Ya Tuan Reihan mari kita nikmati malam panas kita berdua malam ini." Batinnya dengan seringai yang tersirat di senyumnya.
Akankah misi Sintiya dapat berjalan lancar?
Mungkinkah Sintiya dapat merasakan malam kenikmatan bersama Reihan?
Tak ada yang tau dan hanya waktulah yang tau...
__ADS_1